Jakarta, CNBC Indonesia - Media Singapura ikut menyoroti polemik nan berkembang mengenai intensitas perjalanan luar negeri Presiden Prabowo Subianto. Perdebatan ini mencuat setelah mantan Wakil Menteri Luar Negeri (Wamenlu) Dino Patti Djalal mengkritik gelombang lawatan luar negeri Prabowo di tengah beragam tantangan ekonomi nan dihadapi Indonesia.
Dalam laporannya Senin, The Straits Times, menulis bahwa pemerintah Indonesia akhirnya memberikan "pembelaan paling rinci sejauh ini terhadap kritik nan datang dari kalangan politisi, diplomat, hingga media internasional mengenai biaya, skala, dan prioritas diplomasi luar negeri Prabowo". Ini dimuat dalam tulisan berjudul "'Not showmanship': Aide hits back at critics of Prabowo's foreign trips".
"Seorang pejabat tinggi Indonesia telah meluncurkan pembelaan paling rinci pemerintah hingga saat ini terhadap perjalanan luar negeri Presiden Prabowo Subianto nan sering dilakukan, menepis kritik nan semakin meningkat dari para politisi, diplomat, dan media internasional mengenai biaya, skala, dan prioritas diplomasi keliling dunianya," muat laman Singapura itu.
"Dalam video berdurasi nyaris tujuh menit nan diunggah di saluran YouTube Sekretariat Kabinet resmi pada 1 Juni, Sekretaris Kabinet (Seskab) Teddy Indra Wijaya menanggapi poin demi poin kekhawatiran nan diangkat oleh mantan wakil menteri luar negeri Dino Patti Djalal dan kritikus lainnya," tambah media tersebut.
"Balasan rinci ini menandai pertama kalinya seorang pejabat senior pemerintah secara langsung menanggapi kritik seputar perjalanan luar negeri Prabowo, nan semakin intensif seiring Indonesia bergulat dengan pelemahan rupiah dan ketidakpastian ekonomi nan lebih luas."
Disebutkan bahwa sejak dilantik pada Oktober 2024, Prabowo tercatat telah mengunjungi sedikitnya 29 negara dalam lebih dari 50 agenda internasional. Hal ini menuai sorotan kritikus.
"Teddy beranggapan bahwa perjalanan-perjalanan tersebut telah memberikan faedah nyata bagi Indonesia, mulai dari masuknya investasi dan perjanjian perdagangan hingga penguatan hubungan pertahanan dan support untuk Palestina," muat The Strait Times lagi.
Dijelaskan pula gimana kritikan Dino sebelumnya. Melalui video nan diunggah pada 30 Mei, Dino meminta Prabowo mengurangi secara signifikan gelombang perjalanan luar negeri lantaran dinilai sudah berada pada tingkat nan susah dibenarkan.
Ia juga menyarankan pemerintah lebih memanfaatkan teknologi konvensi video untuk agenda diplomatik. Termasuk memberikan porsi lebih besar kepada Menteri Luar Negeri (Menlu) Sugiono dalam menjalankan beragam misi internasional.
"Dalam tanggapannya pada 1 Juni, Teddy berterima kasih kepada Dino atas masukannya nan sangat menyeluruh dan terstruktur, sebelum mencatat bahwa diplomat veteran itu baru menjabat sebagai wakil menteri luar negeri sekitar tiga bulan," tambah media tersebut.
"Teddy, mantan perwira militer nan sebelumnya bekerja sebagai ajudan mantan presiden Joko Widodo dan Prabowo selama masa jabatannya sebagai menteri pertahanan, secara luas dianggap sebagai salah satu ajudan terdekat Presiden, sering berjalan bersamanya dalam kunjungan luar negeri dan pertemuan diplomatik penting," tulis The Strait Times.
"Menanggapi kekhawatiran tentang biaya, Teddy mengatakan: 'Setiap kelebihan biaya dari anggaran negara sepenuhnya ditanggung oleh Presiden Prabowo sendiri," muatnya.
"Teddy juga menolak dugaan bahwa Presiden berjalan dengan delegasi nan terlalu besar, dengan mengatakan bahwa jumlah pejabat nan mendampingi Prabowo telah dikurangi lebih dari setengahnya, dibandingkan dengan pemerintahan sebelumnya."
(tfa/sef)
Addsource on Google
[Gambas:Video CNBC]
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·