Jakarta, CNBC Indonesia - Kementerian PPN/Bappenas menegaskan perannya dalam mendorong pertumbuhan hijau di Indonesia. Salah satu komitmen tersebut diwujudkan melalui peluncuran Green Indonesia Future Initiative (GIFT) nan bakal dilakukan pada Kamis, 4 Juni 2026 mendatang.
Peluncuran tersebut menjadi penanda transisi dari Green Growth Program Fase III (GGP III) menuju GIFT. Ke depannya, GIFT bakal berfokus pada investasi hijau, tindakan iklim, penilaian karbon, lanskap berkelanjutan, ekonomi biru dan pesisir, serta pengembangan industri hijau nan mendukung transformasi ekonomi rendah karbon di Indonesia.
Asal tahu saja, GIFT menjadi sebuah inisiatif transformasi hijau nan mengedepankan kepentingan generasi sekarang maupun generasi nan bakal datang. Target investasi GIFT mencapai US$ 2 miliar dengan konsentrasi pada skala ukuran program dan integrasi komponen regional.
Direktur Lingkungan Hidup Kementerian PPN/Bappenas, Nizhar Marizi menuturkan, arah pembangunan Indonesia saat ini dilatarbelakangi oleh tiga krisis lingkungan nan menakut-nakuti masa depan bumi dan manusia. Di antaranya adalah perubahan iklim, polusi dan kerusakan lingkungan, serta kehilangan keanekaragaman hayati (kehati).
"Sayangnya, ketiganya ini punya akibat nan menguatkan dari sisi akibat negatifnya, sehingga perubahan suasana semakin memperparah polusi, demikian juga perubahan suasana juga kemudian semakin membikin kehati kita semakin tergerus, semakin hilang. Demikian juga polusi juga membikin kehati semakin hilang, dan kehilangan kehati ini pada akhirnya juga punya kontribusi terhadap semakin parahnya akibat perubahan suasana nan kita rasakan," ujar dia dalam Media Gathering Peluncuran Green Indonesia Future Initiative (GIFT) di Jakarta, Selasa (2/6/2026).
Dirinya bilang, kerugian ekonomi akibat perubahan suasana diproyeksikan meningkat empat kali lipat, dari Rp 469 triliun pada 2025 menjadi Rp 2.005 triliun pada tahun 2029 mendatang. Dari sisi penanganan sampah, tantangan muncul lantaran daya tampung dan daya dukung Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Nasional diproyeksikan bakal penuh pada tahun 2028 alias lebih cepat.
Tak hanya itu, keanekaragaman hayati diprediksi bakal mengalami degradasi dan deforestasi seluas 2,47 Juta hektar pada tahun 2045. Masalah tersebut dapat memicu meningkatnya ancaman kepunahan tumbuhan-satwa liar serta kehilangan jasa ekosistem esensial.
Indonesia dan negara-negara lain pada dasarnya sudah mempunyai komitmen terhadap pengelolaan lingkungan hidup di ranah internasional. Sebagai contoh, komitmen untuk menjaga bumi dari akibat perubahan suasana telah diwujudkan melalui Perjanjian Konvensi Kerangka Kerja Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang Perubahan Iklim alias United Nations Framework Convention on Climate Change (UNFCCC).
"Kemudian jika dari sisi kehati kita juga terikat di UNCBD (United Nations Convention on Biological Diversity), nan salah satunya juga kita diminta menyusun National Strategy dan Action Plan untuk kehati. Di Indonesia kita sebutnya IPSAP, Indonesia Biodiversity Strategy and Action Plan, kita juga sudah menyampaikan dan ini disusun sampai 2045," terang dia.
Sebagai mitra koordinasi utama GIFT, Global Green Growth Institute (GGGI) Country Representative For Indonesia, Rowan Fraser menjelaskan, GIFT bakal mendukung pemerintah Indonesia di empat sektor utama, ialah perkotaan & industri, energi, darat & laut, dan investasi & pasar. Dalam konteks pekerjaan di bagian perkotaan dan industri, GGGI berupaya mengembangkan perkotaan nan lebih hijau dengan menghadirkan transportasi berkepanjangan seperti bus listrik.
"Sebagai contoh pekerjaan kami di bagian ini, nan saya soroti di sini adalah beberapa pekerjaan nan telah kami lakukan di bagian infrastruktur, di mana kami bekerja sama dengan Bappenas dan Provinsi Bali, dengan support dari pemerintah Korea, untuk mengerahkan bus listrik di Denpasar. Jadi bus-bus ini bakal beraksi di Denpasar dan kemudian menuju Kabupaten Badung dan bus-bus ini bakal dioperasikan oleh perusahaan utilitas Trans Sarbagita Bali, nan merupakan operator bus nan mengoperasikan rute di Denpasar," terang dia.
Beralih ke sektor energi, GGGI mendukung langkah pemerintah untuk mengangkat daya terbarukan, daya bersih dengan beragam cara. Salah satu langkah nan ditempuh adalah melakukan transisi dari penggunaan bahan bakar fosil sebagai bagian dari pasokan daya menuju mengambil nan lebih besar terhadap daya surya, hidro, angin, dan sumber daya terbarukan lainnya.
Di samping itu, Rowan menambahkan, GGGI turut mendukung prioritas ekonomi biru dan pengelolaan pesisir pemerintah Indonesia. Bentuk support nan diberikan berupa rehabilitasi rimba bakau sekaligus mengembangkan ekonomi biru.
"Ini adalah ekonomi nan mengenai dengan perikanan, akuakultur, rimba bakau, rumput laut, dan lamun. Aset dahsyat nan dimiliki pemerintah dan Indonesia. Oleh lantaran itu, GGGI juga mendukung pengembangan ekonomi biru," jelasnya.
Berikutnya, cakupan area kerja GGGI turut menyasar tata kelola iklim. Di sini, GGGI mendukung pemerintah wilayah dan masyarakat setempat untuk mengangkat praktik pengelolaan rimba bakau berkepanjangan nan kemudian memfasilitasi pengembangan mata pencaharian.
Sebagai contoh, GGGI membantu rehabilitasi rimba bakau di pedesaan sekitar pantai Kalimantan Utara dan Kalimantan Timur. Berkat rehabilitasi ini, masyarakat setempat dapat mengakses dan meningkatkan hasil tangkapan ikan, udang, kepiting, dan jenis lainnya.
Selain itu, GGGI juga bekerja sama dengan mitra-mitranya untuk mengembangkan beragam instrumen pembiayaan dalam rangka mendukung transisi hijau. Misalnya melalui pemberian pinjaman melalui bank-bank di Indonesia untuk pengembangan daya hijau.
"Kami juga banyak mengerjakan pasar karbon dan pembiayaan karbon. Kemudian kewirausahaan suasana alias mendukung perusahaan rintisan domestik di sektor suasana dan hijau untuk membangun upaya mereka, mengembangkan produk mereka, dan memasarkannya. Jadi sebagai contoh beberapa pekerjaan kami di bagian ini, saya bakal menunjukkan apa nan telah kami lakukan dengan Kementerian Kehutanan dalam perihal kesempatan upaya kehutanan," tandas dia.
(mij/mij)
Addsource on Google
[Gambas:Video CNBC]
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·