Jakarta, CNBC Indonesia - Keputusan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu untuk melancarkan serangan terhadap sasaran di Suriah mendapat kritik tajam dari media Israel Haaretz. Surat berita tersebut memperingatkan bahwa eskalasi di Suriah justru berisiko menyeret Israel ke dalam bentrok nan "tidak perlu" dengan Turki.
Dalam editorial nan diterbitkan pada Minggu (23/8/2026), Haaretz menilai langkah Netanyahu membuka front baru di Suriah ketika kekuatan internasional justru tengah berupaya menstabilkan negara tersebut.
"Ketika kami bertanya-tanya apakah, menjelang pemilu, Benjamin Netanyahu bakal memilih untuk bertempur di Gaza alias Lebanon, alias mungkin memicu Tepi Barat, dia memutuskan untuk melakukan langkah di Suriah utara, memperluas front dengan Turki," tulis Haaretz dalam editorialnya.
Menurut surat berita tersebut, retorika Israel nan menargetkan Turki dalam beberapa bulan terakhir telah berkembang menjadi tindakan militer langsung setelah pesawat Israel menyerang sebuah lapangan udara militer di Suriah utara pada Selasa.
Haaretz mengaitkan serangan tersebut dengan klaim Netanyahu bahwa operasi itu ditujukan terhadap ekspansi kehadiran militer Turki di wilayah tersebut. Namun, klaim itu dibantah oleh Ankara dan Washington. Keduanya juga menuduh Netanyahu bertindak lantaran pertimbangan politik mengenai pemilu.
Pada Selasa, pesawat Israel melancarkan delapan serangan terhadap landasan pacu pangkalan udara militer Abu al-Duhur di Provinsi Idlib, Suriah barat laut. Serangan tersebut menyebabkan kerusakan terhadap prasarana pangkalan udara.
Namun, setelah serangan berlangsung, sumber di Kementerian Pertahanan Turki mengonfirmasi bahwa tidak ada misi militer Turki di Pangkalan Udara Abu al-Duhur, baik sebelum maupun ketika serangan Israel dilakukan.
Hal tersebut menjadi krusial dalam perdebatan mengenai argumen Israel melancarkan serangan tersebut, mengingat Netanyahu sebelumnya mengeklaim operasi itu berangkaian dengan ekspansi kehadiran Turki di kawasan.
Adapun Ankara dan Washington telah membantah klaim Israel tersebut.
Haaretz juga mengutip peringatan Thomas Barrack, Duta Besar AS untuk Turki sekaligus utusan unik AS untuk Suriah dan Irak.
Barrack memperingatkan bahwa serangan Israel tersebut "dapat meningkat menjadi konfrontasi militer langsung" antara Israel dan Turki. Pernyataan itu, menurut Haaretz, apalagi mengisyaratkan kemungkinan bahwa konfrontasi semacam itu mungkin memang menjadi tujuan Israel.
Namun, Barrack menegaskan bahwa Turki "tidak mempunyai niat untuk menyerang Israel alias terlibat dalam konfrontasi militer dengannya."
Ia juga memperingatkan bahwa Israel mungkin "bertindak secara irasional" lantaran negara tersebut sedang memasuki periode pemilu.
Haaretz menilai serangan Israel dilakukan pada saat kekuatan-kekuatan internasional tengah berupaya menstabilkan Suriah. Namun, menurut surat berita itu, Israel justru mengambil langkah nan bertentangan dengan upaya tersebut.
"Israel bertindak dengan langkah nan bertentangan dengan logika ini," tulis Haaretz. "Karena itu, Israel tidak hanya menjauhkan Suriah, tetapi juga semua pemain lain nan terlibat di sana, terutama AS."
Surat berita tersebut kemudian menyerukan agar Israel menyusun kebijakan baru untuk menghadapi beragam tantangan baru dan semakin kompleks di Timur Tengah.
"Ketika Netanyahu membual tentang operasi nan sangat terarah di Suriah utara, nan rawan dan tidak ada gunanya, aliansi-aliansi baru sedang terbentuk di bawah hidungnya, dan Israel bukan bagian dari aliansi tersebut," tulis Haaretz.
Media Israel itu juga mempertanyakan pendekatan keamanan nan terlalu mengandalkan kekuatan militer.
"Seseorang tidak dapat menciptakan keamanan dan menggagalkan ancaman hanya dengan melakukan pengeboman. Ini bukan pengganti diplomasi dan kebijakan nan dipikirkan dengan matang, sesuatu nan pada era Netanyahu telah kehilangan maknanya," tulis surat berita tersebut.
Haaretz kemudian mendesak Israel untuk memperhatikan peringatan Barrack. "Israel kudu mendengarkan peringatan nan disampaikan utusan Barrack dan berhati-hati agar tidak terjerat bentrok dengan Turki," tulisnya.
Sementara itu, setelah serangan terhadap Pangkalan Udara Abu al-Duhur, pemerintah Suriah juga menyampaikan keberatannya melalui jalur diplomatik internasional. Suriah mengirimkan dua surat identik kepada Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan Dewan Keamanan PBB.
Dalam surat tersebut, Suriah menyatakan bahwa serangan Israel nan terus berlangsung, termasuk serangan udara, penyelundupan dan penculikan, "menghambat upaya stabilisasi dan menakut-nakuti area dengan ketegangan lebih lanjut."
Suriah menilai serangkaian tindakan tersebut terjadi ketika proses stabilisasi negara tetap berlangsung.
Israel sendiri telah memperluas serangannya di beragam wilayah Suriah sejak rezim Bashar al-Assad digulingkan pada Desember 2024.
(luc/luc)
[Gambas:Video CNBC]
50 menit yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·