Ketimpangan akomodasi pendidikan juga berakibat jangka panjang terhadap pembangunan sumber daya manusia. Peserta didik nan tumbuh dalam lingkungan pendidikan nan terbatas condong mempunyai kesempatan nan lebih mini untuk bersaing, baik di tingkat nasional maupun Internasional. Hal ini pada akhirnya memperkuat siklus ketimpangan sosial nan susah diputus. Dengan kata lain, masalah ini bukan hanya tentang pendidikan hari ini, tetapi juga tentang masa depan bangsa.
Pada akhirnya, pendidikan nan setara bukanlah sekadar tentang membuka akses, tetapi juga tentang memastikan semua kualitas pendidikan nan setara tanpa kudu membedakan letak sekolahan tersebut. Hak atas pendidikan tidak boleh berakhir pada kesempatan untuk bersekolah, tetapi kudu mencakup seluruh aspek nan mendukung proses belajar, baik aspek internal (peserta didik) alias aspek eksternal (lingkungan). Jika akomodasi pendidikan tetap timpang alias tidak merata, maka makna “hak” itu sendiri patut dipertanyakan.
Maka, menjawab pertanyaan di awal, pendidikan belum sepenuhnya dapat dikatakan sebagai “hak” andaikan selama fasilitasnya tetap jauh dari kata merata. Ia tetap menjadi untung bagi sebagian orang, dan tetap menjadi perjuangan bagi sebagian lainnya. Tugas kita berbareng adalah memastikan bahwa suatu hari nanti, tidak ada lagi anak nan kudu bermimpi dalam keterbatasan hanya lantaran dia lahir di tempat nan “salah”.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·