Masa Depan Lapangan Pekerjaan di Tengah Disrupsi AI

Sedang Trending 1 jam yang lalu
Ilustrasi Artificial Intelligence (AI). Foto: Shutterstock

Dalam ensiklik pertamanya nan berjudul “Magnifica Humanitas”, Paus Leo XIV menyerukan “pelucutan AI” dari segala macam kepentingan nan menakut-nakuti kedaulatan, demokrasi, dan keadilan bagi umat manusia.

“Kecerdasan Buatan (AI) sekarang perlu dilucuti, dibebaskan dari logika nan mengubahnya menjadi perangkat dominasi, pengucilan, dan kematian.” Pesan Paus Leo XIV.

Tak berselang lama setalah ensiklik itu dterbitkan pada Mei, CEO Anthropic (Perusahan di kembali Claude AI), Dario Amodei, juga mengutarakan keresahannya terhadap industri AI nan terus menerus berinovasi tanpa mempertimbangkan impak negatif nan ditimbulkannya, khususnya di bumi kerja, dalam sebuah esai.

Menurut Amodei jika AI terus dibiarkan berkembang tanpa izin nan ketat, maka separuh lebih lapangan kerja bakal digantikan oleh kepintaran buatan ini.

Lahirnya AI memang sebuah keniscayaan dalam perkembangan teknologi digital. Kita tidak bisa mengelaknya.

Namun, nan menjadi persoalan adalah: siapa nan bakal mejadi pelayan di antara AI dan manusia? Apakah penemuan AI memang diperuntukan untuk melayani umat manusia secara umum? Atau demi memenangkan kontestasi para kapitalis nan gemuk?

Guncangan di Dunia Kerja

Sepanjang sejarah, revolusi teknologi memang selalu berakibat pada tatanan sosial. Dari mulai langkah kita bekerja, berkomunikasi, membentuk komunitas, hingga langkah kita memandang dunia.

Misalnya, 10.000 tahun nan lalu, ketika Homo Sapiens menemukan teknologi irigasi dan bajak, nan memantik revolusi agraria, tatanan sosial pada era itu mengalami gejolak nan cukup serius namun relatif kondusif.

Di era itu sebagian besar Homo Sapiens, khususnya kaum perempuan, memang kehilangan pekerjaan hariannya dulu, memburu dan mengumpulkan makanan. Karena pekerjaan bertani nan dilakukan oleh beberapa individu, khususnya laki-laki, telah mencukupi kebutuhan makan satu kawanan Homo Sapiens.

Kendatipun tidak bekerja, mereka nan nganggur tetap bisa makan berkah panen melimpah.

Teknologi irigasi dan bajak menjadi pelayan manusia.

Pola serupa juga bisa kita temukan dalam setiap revolusi tekonologi. Dari teknologi roda hingga mesin.

Di setiap revolusi teknologi, umat manusia nyaris selalu bisa memandang celah bolong nan ditimbulkan, dan segera mencari pengganti lain nan bisa menambalnya.

Namun, berbeda dengan revolusi AI kali ini. Seperti nan dikatakann Dario Amodei, “guncangan nan ditimbulkan AI sangat besar dan masif, dan kita tidak bisa memprediksi secara pasti apa nan bakal terjadi kedepannya, terutama di bumi kerja.”

Pekerjaan-pekerjaan nan memerlukan daya produktivitas nan tinggi hingga intervensi emosi nan kompleks––yang dulu dikira mustahil digantikan oleh teknologi robotik––kini semua bisa dilakukan oleh AI. Dari analis data, programmer, customer service, pengemudi taksi, hingga konseling kejiwaan.

Inilah nan membedakan AI dengan revolusi-revolusi teknologi sebelumnya.

AI berkembang sangat cepat. AI tidak hanya sukses mengembangkan performa dan kecepatan, tetapi juga paradigma tentang apa nan bisa dilakukan oleh mesin.

Selama lima tahun terkahir, AI telah bertranformasi dari hanya sekedar pola ke penalaran dan dari tool menjadi agent. Hari ini AI tidak hanya menjadi perangkat hitung, tetapi betul-betul menjadi pesaing nan nyaris mustahil dikalahkan oleh manusia biasa dalam kontestasi di lapangan kerja.

Jika raksasa industri AI terus menerus mengembangkan AI-nya masing-masing tanpa memperdulikan hilangnya jutaan lapangan kerja di beragam sektor, maka ini adalah lonceng kematian bagi banyak orang. Seperti nan dikhawatirkan oleh Amodei.

Saatnya Berhenti Sejenak

AI seumpama pedang bermata dua, dia adalah berkah sekaligus kutukan bagi manusia di abad ke-21 ini. Ia berkah lantaran segalanya menjadi mudah, cepat, dan efisien. Ia juga kutukan lantaran banyak orang nan bertahun-tahun menghabiskan seperempat hidupnya untuk belajar skill tertentu, ternyata, hanya dengan satu perintah, AI bisa melakukannya, apalagi memberi hasil nan lebih memuaskan.

Proses adalah perihal nan paling dihindari dalam logika AI. Semakin cepat, maka semakin bagus. AI mendekte manusia bahwa proses adalah corak ketidakcanggihan sebuah sistem.

Dengan AI kita bisa menciptakan rumus coding nan kompleks hanya dengan satu perintah––yang tanpa AI, kita mungkin memerlukan waktu tahunan untuk mempelajarinya.

Di sinilah momentum bagi para pemangku kebijakan, korporasi, dan industri untuk sama-sama bersikap lebih rendah hati dan tidak egois.

Pemerintah tidak bisa dengan seenaknya mengizinkan intervensi AI dalam beragam industri tanpa pembatasan, pengawasan, dan, nan paling utama, tanpa memikirkan nasib mereka nan kehilangan pekerjaan lantaran digantikan oleh AI.

Industri, apa pun itu, juga tidak bisa seenaknya sendiri memecat ribuan pegawai dan menggantinnya dengan AI tanpa memikirkan nasib istri dan anak-anak mantan pegawainya.

Perusahaan AI, sebagai akar dari persoalan ini, juga tidak boleh dengan seenak jidat berinovasi tanpa memikirkan akibat negatif nan ditimbulkan, khususnya dalam lingkungan pekerjaan.

Saatnya berakhir sejenak. Berhenti menggati tenaga manusia dengan AI. Berhenti untuk berinovasi dan mengmbangkan AI. Ini adalah waktu untuk merefleksikan nasib jutaan orang ditengah disrupsi kepintaran buatan.

Jika AI memang diproyeksikan sebagi pembantu umat manusia, lantas kenapa banyak orang nan kehilangan pekerjaan karennya?

Kita semua berambisi semoga apa nan dikhawatirkan Paus Leo XIV dan Dario Amodei tidak terjadi.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan