Markas Aramco Dirudal, Houthi Yaman Ancam Ratakan Bandara Saudi!

Sedang Trending 2 hari yang lalu

Jakarta, CNBC Indonesia - Kelompok Houthi Yaman berjanji bakal terus melancarkan serangan berkali-kali terhadap sejumlah airport dan akomodasi minyak di Arab Saudi. Ancaman mematikan ini muncul tepat sehari setelah sebuah serangan dilaporkan menyebabkan kerusakan parah pada markas besar raksasa minyak Saudi Aramco.

Mengutip Reuters, Kamis (15/10/2026), Houthi pada hari Rabu menyatakan bahwa lokasi-lokasi nan diancam tersebut merupakan sasaran nan sah. Menurutnya, ini merupakan sebuah respons atas serangan Saudi ke sejumlah titik di Yaman.

"Serangan itu sebagai corak pembalasan atas tindakan Arab Saudi di wilayah Yaman," ujar golongan sokongan Iran tersebut.

Selama seminggu terakhir, Arab Saudi terus menghadapi rentetan serangan Houthi nan semakin meluas, termasuk serangan di Bandara Internasional Raja Khalid di Riyadh pada hari Sabtu lampau nan menewaskan 13 orang. Terkait serangan pada Selasa malam di pangkalan Saudi Aramco di kota timur Dhahran, tiga sumber membeberkan bahwa kejadian itu memicu kebakaran nan menyebar di beberapa lantai, bertolak belakang dengan klaim Kementerian Energi Saudi sebelumnya nan menyatakan serangan itu hanya menyebabkan kebakaran terbatas.

Dua sumber menyebut bahwa operasi di Aramco saat ini tetap bersambung secara normal dengan tenaga kerja nan bekerja dari rumah, sementara pihak perusahaan belum memberikan tanggapan resmi. Konflik nan terus memanas ini secara nyata telah memberikan pukulan telak bagi rencana ambisius Putra Mahkota Mohammed bin Salman untuk mengubah dan mendiversifikasi ekonomi Saudi serta mengurangi ketergantungannya pada minyak.

Di tengah eskalasi tersebut, koalisi ketua Saudi melaporkan bahwa mereka telah sukses mencegat rudal balistik nan ditembakkan oleh Houthi ke arah Riyadh pada hari Rabu. Beberapa ledakan keras terdengar di ibu kota Saudi, disusul oleh peringatan ancaman udara nan dikeluarkan otoritas setempat sebelum akhirnya dicabut. Kantor media pemerintah Saudi tidak segera menanggapi permintaan komentar mengenai penyebab pasti dari rentetan ledakan tersebut.

Melalui pernyataan resminya pada hari Rabu, golongan Houthi mengeklaim bahwa mereka telah meluncurkan rudal balistik, rudal jelajah, dan pesawat nirawak (drone) ke akomodasi Saudi Aramco di Dhahran, airport Riyadh, serta kilang Aramco di Riyadh. Dalam sebuah ancaman terbuka, mereka mendesak perusahaan pelayaran internasional, penduduk sipil, dan para pekerja untuk segera mengevakuasi diri dari seluruh airport dan akomodasi minyak Saudi.

Kompleks Dhahran sendiri diketahui menampung pusat operasi utama bagi Aramco nan mengawasi jaringan luas anjungan minyak darat dan lepas pantai, jaringan pipa, kilang, hingga terminal ekspor. Sementara itu, airport internasional Riyadh telah diserang sebanyak empat kali, termasuk kejadian hari Sabtu nan tercatat sebagai serangan paling mematikan di Arab Saudi dalam satu dasawarsa terakhir. Pihak berkuasa terpaksa menutup airport tersebut hingga 17 Oktober mendatang dan sejumlah maskapai penerbangan telah membatalkan penerbangannya ke Arab Saudi.

Arab Saudi mulai kombinasi tangan dalam perang kerabat Yaman pada tahun 2015 silam untuk mendukung pemerintah setelah Houthi merebut ibu kota Sanaa. PBB sempat menengahi gencatan senjata pada tahun 2022 nan menjaga perdamaian rentan hingga tahun ini. Namun, Arab Saudi melanjutkan kampanye militernya bulan lampau guna membalikkan perolehan tiba-tiba Houthi nan menyapu pesisir Laut Merah hingga ke Selat Bab el-Mandeb nan strategis. Houthi menegaskan bahwa mereka hanya membalas support kerajaan terhadap pasukan pemerintah Yaman dalam perang nan kembali meletus tersebut.

Dampak kemanusiaan dari bentrok ini pun semakin mengerikan. Palang Merah pada hari Rabu menyatakan bahwa rumah sakit di seluruh Yaman berjuang keras untuk mengatasi lonjakan tajam jumlah korban perang seiring pertempuran nan semakin intensif di beragam garis depan. Secara bersamaan, Program Pangan Dunia (WFP) milik PBB memperingatkan bahwa support penyelamat jiwa telah terputus ke kota Taiz nan dikuasai pemerintah menyusul pengepungan oleh pejuang Houthi pada awal bulan ini.

"WFP dan para mitranya tidak dapat mengakses lebih dari 600.000 orang di Taiz nan berjuntai pada support kemanusiaan, termasuk lebih dari 200.000 wanita dan anak-anak," papar WFP dalam sebuah pernyataan.

(tps/tps) [Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya
Sumber CNBC Indonesia News
CNBC Indonesia News
↑