Mariachi, Tequila, dan Stigma Keamanan Meksiko di World Cup 2026

Sedang Trending 1 jam yang lalu
Sumber : Photo by Osvaldo Samuel Rendon: https://www.pexels.com/photo/vibrant-mexican-celebration-at-palacio-de-bellas-artes-28672865/

Pada Juni 2026, Jalisco menjadi salah satu tuan rumah FIFA World Cup 2026 dan dijadwalkan menggelar empat pertandingan, termasuk laga tim nasional Meksiko di Estadio Akron. Untuk menyambut laga tersebut, FIFA mempromosikan Guadalajara sebagai rumah bagi mariachi dan tequila, dua simbol budaya nan selama ini menjadi identitas dunia Meksiko (FIFA, 2026). Namun, pada saat nan sama, info pemerintah Meksiko menunjukkan bahwa Jalisco juga merupakan negara bagian dengan jumlah kasus orang lenyap tertinggi di Meksiko (RNPDNO, 2026). Kontras antara promosi budaya dan persoalan keamanan tersebut menunjukkan bahwa World Cup 2026 bukan sekadar peristiwa olahraga, melainkan arena perebutan gambaran dan reputasi Meksiko di hadapan dunia. Fenomena ini memperlihatkan gimana pariwisata semakin berkedudukan dalam hubungan internasional. Bagi Meksiko, World Cup 2026 merupakan kesempatan strategis untuk memperkuat daya tarik internasional melalui budaya Jalisco nan dikenal sebagai pusat mariachi, tequila, dan beragam tradisi nan telah menjadi simbol nasional. Melalui arus wisatawan, liputan media global, dan perhatian miliaran penonton, budaya lokal tidak hanya dipromosikan sebagai daya tarik wisata, tetapi juga sebagai instrumen diplomasi budaya dan nation branding. Meksiko berupaya mengubah aset budaya tersebut menjadi sumber soft power nan dapat meningkatkan gambaran negara di tingkat internasional.

Namun, efektivitas strategi tersebut perlu ditilik lebih lanjut. Apakah promosi budaya melalui World Cup 2026 betul-betul bisa mengubah persepsi dunia terhadap Meksiko, alias hanya menghasilkan visibilitas internasional nan berkarakter sementara? Artikel ini berdasar bahwa diplomasi budaya Jalisco melalui World Cup 2026 memang berpotensi memperkuat nation branding dan soft power Meksiko, tetapi efektivitasnya tetap dibatasi oleh realitas domestik seperti tingginya nomor kasus orang lenyap di Jalisco, serta beragam persoalan keamanan nan tetap melekat dalam gambaran Meksiko di mata publik global.

Menurut Nye (2004), soft power merupakan keahlian suatu negara untuk memperoleh hasil nan diinginkan melalui daya tarik dibandingkan paksaan. Berbeda dengan hard power nan bertumpu pada kekuatan militer alias ekonomi, soft power berasal dari budaya, nilai, dan kebijakan nan dianggap menarik oleh pihak lain. Dalam konteks ini, budaya menjadi aset strategis nan dapat digunakan negara untuk membangun pengaruh internasional. Konsep tersebut kemudian berangkaian erat dengan nation branding nan dikembangkan oleh Anholt (2007), ialah upaya negara membangun reputasi internasional melalui pengelolaan identitas nasional nan dikomunikasikan kepada publik global.

World Cup 2026 memberikan ruang nan ideal bagi kedua konsep tersebut. Mega-event olahraga telah lama dipandang sebagai instrumen untuk meningkatkan daya tarik internasional suatu negara. Menurut Grix dan Brannagan (2024), mega-event olahraga tidak hanya berfaedah sebagai sarana promosi budaya, tetapi juga sebagai instrumen politik nan digunakan negara untuk membangun reputasi internasional dan memperkuat soft power. Namun, keberhasilan strategi tersebut berjuntai pada apakah gambaran nan dipromosikan dianggap andal oleh audiens internasional. Di antara tiga kota tuan rumah Meksiko, Guadalajara mempunyai posisi nan unik. Kota ini berada di negara bagian Jalisco nan selama puluhan tahun dikenal sebagai pusat beragam simbol budaya nasional Meksiko. Mariachi nan telah diakui UNESCO sebagai warisan budaya tak barang bumi berasal dari wilayah ini. Lanskap agave dan akomodasi produksi tequila di Jalisco juga telah ditetapkan UNESCO sebagai warisan dunia. Tidak mengherankan andaikan FIFA menempatkan Guadalajara sebagai representasi budaya Meksiko dalam beragam materi promosi World Cup 2026 (FIFA, 2026).

Sumber : Photo by Sonny Sixteen: https://www.pexels.com/photo/close-up-of-a-succulent-plant-11202880/

Strategi tersebut sejalan dengan temuan Abundis et al. (2025) nan menjelaskan bahwa branding teritorial semakin digunakan sebagai instrumen strategis untuk memposisikan kota dan wilayah dalam lingkungan dunia nan kompetitif. Menurut mereka, branding tidak hanya berangkaian dengan logo alias promosi wisata, tetapi juga pembangunan narasi identitas nan menghubungkan karakter lokal dengan audiens global. Pada World Cup 2026, Guadalajara dipresentasikan sebagai jantung seni, tradisi, dan budaya Meksiko, sehingga budaya Jalisco tidak hanya berfaedah sebagai identitas lokal, tetapi juga sebagai wajah nasional nan ditampilkan kepada dunia.

Melalui perspektif sport tourism, strategi tersebut dapat dipahami sebagai corak diplomasi budaya. Wisatawan nan datang untuk menyaksikan pertandingan bukan hanya mengonsumsi pertandingan, tapi juga pengalaman budaya nan menyertai. World Cup 2026 menyediakan panggung dunia nan memungkinkan Meksiko mengubah aset budaya menjadi sumber daya diplomatik. Menurut Bezsmertniuk (2025), kota-kota tuan rumah memanfaatkan turnamen tidak hanya untuk memperoleh faedah ekonomi, tetapi juga untuk menampilkan budaya lokal kepada dunia. Bagi Guadalajara, perihal ini berfaedah menjadikan mariachi, tequila, dan identitas budaya Jalisco sebagai bagian dari pengalaman wisata nan dikonsumsi oleh visitor internasional. Melalui proses tersebut, budaya lokal tidak lagi sekadar atraksi wisata, melainkan instrumen nation branding nan digunakan untuk membangun daya tarik internasional dan memperkuat soft power Meksiko. Dari perspektif pandang nation branding, langkah tersebut mempunyai logika nan kuat. Ketika jutaan visitor dan miliaran penonton dunia terpapar pada gambaran budaya nan positif, negara berambisi terbentuk persepsi nan lebih baik terhadap negara itu sendiri. Semakin positif gambaran nan terbentuk, semakin besar pula potensi soft power. Oleh lantaran itu, World Cup 2026 dapat dipandang sebagai investasi reputasi nan dapat dilakukan Meksiko melalui sport tourism dan diplomasi budaya.

Asumsi bahwa eksposur budaya secara otomatis menghasilkan soft power juga perlu dipertanyakan. Salah satu kelemahan utama nation branding adalah kecenderungannya untuk mengandaikan bahwa gambaran nan dipromosikan dapat menggantikan realitas nan ada. Dalam praktiknya, reputasi negara tidak hanya dibentuk oleh kampanye promosi, tetapi juga oleh kondisi sosial, politik, dan keamanan nan dapat diamati oleh publik internasional. Dengan kata lain, daya tarik budaya tidak selalu cukup untuk menghapus persepsi negatif nan telah lama melekat pada suatu negara. Kontradiksi tersebut terlihat jelas dalam kasus Jalisco. Pada saat Guadalajara dipasarkan sebagai pusat budaya Meksiko, wilayah nan sama juga menghadapi persoalan keamanan nan serius. Berdasarkan info resmi Registri Nasional Orang Hilang dan Belum Ditemukan Meksiko (RNPDNO), Jalisco mencatat 683 kasus orang lenyap nan tetap berstatus aktif dalam satu tahun terakhir, jumlah tertinggi dibandingkan negara bagian lain di Meksiko (RNPDNO, 2026). Fakta ini menunjukkan bahwa World Cup 2026 berjalan di tengah upaya pemerintah membangun gambaran positif melalui budaya dan pariwisata. Di satu sisi, Guadalajara dipromosikan sebagai pusat mariachi dan tequila, sementara di sisi lain wilayah nan sama terus dikaitkan dengan persoalan keamanan dan hilangnya warga. Kontradiksi tersebut menunjukkan bahwa reputasi internasional suatu negara tidak hanya dibentuk oleh kampanye promosi, tetapi juga oleh realitas sosial nan dapat diamati dan diberitakan secara global.

Menjelang penyelenggaraan World Cup 2026, family korban orang lenyap memanfaatkan momentum turnamen untuk menarik perhatian bumi terhadap krisis nan mereka hadapi (Reuters, 2026). Peristiwa tersebut menunjukkan bahwa mega-event olahraga tidak hanya menciptakan ruang promosi, tetapi juga ruang kontestasi narasi. Ketika pemerintah berupaya menampilkan budaya, golongan masyarakat sipil menggunakan perhatian internasional nan sama untuk mengangkat persoalan nan selama ini kurang mendapatkan sorotan. Situasi tersebut memperlihatkan keterbatasan soft power nan dibangun melalui nation branding. Budaya memang dapat meningkatkan visibilitas internasional, namun visibilitas tidak selalu identik dengan perubahan persepsi nan mendalam. Seseorang dapat menikmati musik mariachi, mengunjungi area produksi tequila, dan tetap mempunyai kekhawatiran mengenai keamanan di Meksiko. Dengan demikian, peningkatan perhatian internasional tidak secara otomatis menghasilkan peningkatan reputasi internasional.

Selain persoalan keamanan, krusial pula mempertanyakan siapa nan memperoleh faedah terbesar dari strategi ini. Pemerintah Meksiko memperoleh untung berupa promosi internasional dan kesempatan peningkatan reputasi negara. Industri perhotelan, restoran, transportasi, dan sektor pariwisata juga mendapatkan faedah ekonomi dari meningkatnya jumlah wisatawan. FIFA sebagai penyelenggara dunia turut memperoleh untung finansial dan komersial dari penyelenggaraan World Cup 2026. Namun, besarnya faedah ekonomi nan dijanjikan oleh mega-event olahraga tidak selalu berbanding lurus dengan faedah jangka panjang nan diterima masyarakat. Ferris et al. (2022) menemukan bahwa akibat ekonomi positif dari penyelenggaraan mega-event condong terkonsentrasi pada periode menjelang dan selama aktivitas berlangsung, sementara pengaruh pertumbuhan ekonomi setelah event berhujung relatif terbatas dan sigap melemah. Temuan tersebut menunjukkan bahwa keberhasilan World Cup 2026 tidak dapat diukur semata dari peningkatan kunjungan visitor alias eksposur internasional. Pertanyaan nan lebih krusial adalah apakah faedah nan dihasilkan bisa menciptakan akibat nan berkepanjangan bagi masyarakat lokal setelah sorotan bumi beranjak ke tempat lain. Dalam konteks ini, keberhasilan nation branding tidak selalu identik dengan keberhasilan pembangunan sosial dan ekonomi nan dirasakan secara luas oleh masyarakat.

Dari perspektif hubungan internasional, kasus Jalisco menunjukkan bahwa soft power tidak dapat dipisahkan dari kondisi domestik negara. Nation branding memang bisa menciptakan perhatian dunia dan memperluas eksposur budaya suatu negara. Namun, keberhasilannya dalam menghasilkan daya tarik nan berkepanjangan berjuntai pada kesesuaian antara gambaran nan dipromosikan dan realitas nan dialami masyarakat. Ketika kesenjangan antara keduanya terlalu besar, nation branding berisiko dipersepsikan hanya sebagai proyek pemasaran nan tidak menyentuh akar persoalan.

Pada akhirnya, World Cup 2026 memberikan kesempatan besar bagi Meksiko untuk memperkuat soft power melalui diplomasi budaya Jalisco. Mariachi, tequila, dan beragam warisan budaya lainnya merupakan aset nan mempunyai daya tarik dunia dan dapat berkontribusi pada pembentukan gambaran positif negara. Namun, kasus ini juga menunjukkan bahwa budaya saja tidak cukup untuk mengubah persepsi internasional secara mendalam. Efektivitas soft power bakal selalu dibatasi oleh realitas sosial dan keamanan nan turut membentuk reputasi negara di mata dunia. Oleh lantaran itu, World Cup 2026 lebih tepat dipahami sebagai kesempatan memperkuat nation branding Meksiko daripada sebagai solusi nan secara otomatis bisa mengubah langkah bumi memandang negara tersebut. Agar soft power nan dibangun melalui sport tourism dapat berkelanjutan, promosi budaya kudu melangkah beriringan dengan upaya nyata memperbaiki kondisi domestik nan selama ini menjadi sumber tantangan bagi Meksiko.

Referensi:

Daftar Pustaka

Abundis, J. a. L., Nuño, M. P. V., & Aurea, S. M. (2025). Carteles ilustrados como estrategia de branding territorial: el caso de las sedes mexicanas de la Copa Mundial FIFA 2026. Zincografía. https://doi.org/10.32870/zcr.v10i19.278

Anholt, S. (2006) Competitive Identity The New Brand Management for Nations, Cities and Regions. Palgrave MacMillan, London. - References - Scientific Research Publishing. (n.d.). Retrieved June 18, 2026, from https://www.scirp.org/reference/referencespapers?referenceid=1687290

Bezsmertniuk, T. (2025). Prospects for tourism and economic growth in North America in the context of the 2026 FIFA World Cup. The Journal of V. N. Karazin Kharkiv National University. Series: International Relations. Economics. Country Studies. Tourism, 21, 153–160. https://doi.org/10.26565/2310-9513-2025-21-17

Ferris, S. P., Koo, S., Park, K., & Yi, D. T. (2022). The effects of hosting mega sporting events on local stock markets and sustainable growth. Sustainability, 15(1), 363. https://doi.org/10.3390/su15010363

FIFA. (2026). Fifa. Retrieved June 18, 2026, from https://www.fifa.com/en/tournaments/mens/worldcup/canadamexicousa2026/mexico/guadalajara

Grix, J., & Brannagan, P. M. (2024). Sports Mega-Events as Foreign Policy: Sport Diplomacy, “Soft Power,” and “Sportswashing.” American Behavioral Scientist. https://doi.org/10.1177/00027642241262042

Nye, J. S., Jr. (2004). Soft power: the means to success in world politics. In Chapter 4 - Wielding Soft Power. https://www.belfercenter.org/sites/default/files/legacy/files/joe_nye_wielding_soft_power.pdf

Reuters. (2026). Retrieved June 17, 2026, from https://www.reuters.com/world/americas/families-mexicos-disappeared-march-capital-world-cup-kicks-off-2026-06-12/

Versión estadística RNPDNO - Dashboard CNB. (2026). RPNDO. Retrieved June 18, 2026, from https://versionpublicarnpdno.segob.gob.mx/Dashboard/Sociodemografico

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan