Salah satunya Jaelani (44). Ia mengaku nyaman mangkal di sekitar PIM lantaran merasa lebih tenang bekerja di area itu.
“Ini jadi titik penjemputan alias titik turun,” katanya.
Menurut Jaelani, petugas keamanan di area tersebut condong lebih ramah. Bahkan, mereka kerap membantu mengatur titik penjemputan agar tetap kondusif dan tidak mengganggu lampau lintas.
Pengalaman itu berbeda dengan nan pernah dia alami di area Senayan dan SCBD. Ia mengaku sempat beberapa kali cekcok dengan petugas keamanan saat mengambil penumpang alias pesanan makanan.
Karena itu, Jaelani sekarang lebih sering mencari order di area Jakarta Selatan. Selain lebih nyaman, pesanan makanan maupun penumpang di sekitar PIM juga tergolong ramai alias “gacor”, istilah nan biasa dipakai para pengemudi ojol.
Meski begitu, Jaelani berambisi ke depan ada akomodasi tambahan bagi para pengemudi, seperti tempat berlindung alias colokan listrik cuma-cuma untuk mengisi daya ponsel.
“Ya misalnya kayak charger HP, alias ada tempat berlindung gitu nantinya,” ujarnya.
Di tengah ketatnya patokan di gedung-gedung tinggi Jakarta, para pengemudi ojol sebenarnya tidak berambisi banyak. Bagi mereka, tempat parkir nan kondusif dan perlakuan nan ramah sudah cukup membikin pekerjaan terasa lebih tenang.
Sebab bagi para pengemudi ojol, keramahan sebuah mal bukan hanya soal fasilitas, melainkan soal diberi ruang untuk bekerja tanpa dianggap mengganggu.
4 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·