Makna Sayyidul Istighfar, Gus Baha: Cara Mengakui Dosa tanpa Putus Asa

Sedang Trending 3 bulan yang lalu
 Cara Mengakui Dosa tanpa Putus Asa Gus Baha.(Antara)

DALAM suatu kajian nan mendalam, KH Ahmad Bahauddin Nursalim alias nan berkawan disapa Gus Baha, membedah filosofi di kembali referensi Sayyidul Istighfar. Beliau menekankan bahwa istighfar bukan sekadar ritual menangisi dosa, melainkan corak pengakuan nan jujur atas kelemahan manusia di hadapan kemurahan Allah SWT.

Istighfar nan Proporsional: Antara Dosa dan Nikmat

Gus Baha menyoroti kejadian orang nan terlalu berlebihan dalam menangisi dosa hingga melupakan sisi rahmat Allah. Menurut beliau, jika seseorang hanya konsentrasi pada dosanya, dia seolah-olah mengabaikan reputasi Allah sebagai Dzat nan Maha Pengasih.

"Ya Allah, ampuni salah saya. Tadi di terminal saya memandang perihal nan tidak benar, itu salah Gusti. Tapi saya berterima kasih ditakdirkan tidak sampai berzina," ujar Gus Baha mencontohkan langkah pandang nan proporsional.

Beliau menjelaskan bahwa dalam Sayyidul Istighfar, terdapat kalimat 'abuu-u laka bini'matika 'alayya' (aku mengakui nikmat-Mu kepadaku) nan disandingkan dengan 'wa abuu-u bidzanbii' (dan saya mengakui dosaku).

Pesan Kunci: Istighfar nan diajarkan Rasulullah selalu menyertakan janji bahwa nikmat Allah jauh lebih besar daripada kesalahan hamba-Nya. Hal ini krusial agar umat Islam tidak jatuh ke dalam sikap fatalistik alias putus asa.

Baca juga : Bacaan Doa Sayyidul Istighfar Arab, Latin, dan Arti

Menghindari Fatalisme dengan Syafaat

Gus Baha menjelaskan bahwa keberadaan hadis-hadis tentang syafaat Rasulullah adalah solusi bagi umat nan pernah melakukan salah. Tanpa angan bakal syafaat, orang nan pernah berdosa besar mungkin bakal merasa tidak mempunyai jalan kembali (kafir) dan berakhir beribadah.

Beliau merujuk pada kitab-kitab muktabar seperti Shahih Bukhari bahwa harapan bakal syafaat menjadi penguat iman. "Barokahnya syafaat Rasulullah, orang nan pernah salah tetap berani beragama dan menjaga kebaikannya, sembari berambisi kesalahan tersebut dihapuskan," tambahnya.

Baca juga: Urutan 30 Surat Juz Amma Lengkap Arab, Latin, dan Arti

Belajar dari Ketegasan Imam Bukhari

Selain membahas istighfar, Gus Baha juga menceritakan ketelitian Imam Bukhari dalam menyusun hadis. Beliau menjelaskan metode Al-Jarhu wa At-Ta'dil, ialah seorang perawi sabda kudu dikonfirmasi rekam jejaknya, apalagi hingga urusan utang piutang. Jika seseorang tidak jujur dalam urusan dunia, dia didiskualifikasi sebagai perawi sabda Rasulullah.

Kajian ini ditutup dengan pesan agar umat Islam selalu menjaga keseimbangan antara rasa takut (khauf) dan angan (raja'). Dengan membaca Sayyidul Istighfar secara benar, seorang hamba mengakui dosanya tanpa kehilangan rasa syukur atas perlindungan Allah nan telah menjaganya dari kemaksiatan nan lebih besar. (I-2)

Baca juga: 37 Surat Juz Amma Juz 30 dengan Bahasa Arab, Latin, Terjemahan

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia
↑