JAKARTA - Pada bulan Ramadhan, banyak umat islam nan makin giat melaksanakan ibadah qiyamul lail, alias ibadah nan dikerjakan di malam hari. Ini terutama pada malam-malam ganjil di sepuluh malam terakhir Ramadhan.
Dilansir dari NU Online, qiyamul Lail nan dilakukan di bulan Ramadhan biasanya disebut sebagai qiyam Ramadhan. Ibadah ini dianjurkan berasas sabda nan diriwayatkan oleh sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, nan berbunyi:
مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
Artinya; “Barangsiapa nan melaksanakan Qiyam Ramadhan lantaran ketaatan dan mencari Ridha Allah, maka dosa-dosanya nan telah lampau bakal diampuni.” (HR. Bukhari no. 37; 2008; 2009 dan Muslim no. 759, juga Sunan Abi Dawud, Sunan An-Nasa’i, Sunan Ibn Majah, Sunan At-Tirmidzi).
Makna Qiyam Ramadhan
Pertanyaannya, apa nan dimaksud dengan qiyam Ramadhan dalam sabda tersebut? Apakah nan dimaksud hanya shalat Tarawih saja? Ataukah shalat Tarawih sudah termasuk seluruh shalat malam lainnya? Atau justru mencakup shalat Tarawih, kemudian ditambah dengan shalat malam lainnya, serta diiringi dzikir, doa, membaca Al-Qur’an, apalagi tafakur di keheningan malam?
Para ustadz besar sejak dulu sudah menjelaskan bahwa nan dimaksud dengan qiyam Ramadhan adalah shalat Tarawih. Imam Muhammad ibn Ismail al-Bukhari (w. 256 H), dalam kitab monumentalnya Shahih al-Bukhari, memberi titel sabda tentang perihal ini dalam Kitab Shalat Tarawih, tepatnya pada bab Fadhlu Man Qama Ramadhana (keutamaan orang nan menegakkan malam Ramadhan). Dari penamaan bab ini saja sudah terlihat bahwa beliau mengaitkan qiyam Ramadhan dengan shalat Tarawih.
Hal nan sama juga ditegaskan oleh Imam Muslim ibn al-Hajjaj (w. 261 H) dalam Shahih Muslim. Ia memberi titel bab: Al-Targhib fi Qiyami Ramadhana wa huwa al-Tarawih (anjuran untuk melaksanakan qiyam Ramadhan, ialah Tarawih). Artinya, menurut Imam Muslim, qiyam Ramadhan tidak lain adalah shalat Tarawih itu sendiri.
5 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·