Makanan MBG di Karo Terkontaminasi Bakteri, Dokter Jelaskan Pemicu Keracunan Hingga Gangguan Otak

Sedang Trending 39 menit yang lalu
Makanan MBG di Karo Terkontaminasi Bakteri, Dokter Jelaskan Pemicu Keracunan Hingga Gangguan Otak Ilustrasi(Magnific.com)

KASUS keracunan makanan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Karo, Sumatra Utara menyita perhatian publik. Perhatian tersebut mencuat setelah salah satu korban, seorang siswi berumur 16 tahun berinisial FP, dilaporkan mengalami gangguan ingatan hingga tidak lagi mengenali pembimbing maupun teman-teman sekelasnya.

Berdasarkan hasil pemeriksaan UPTD Laboratorium Kesehatan Sumatra Utara tertanggal 16 Agustus 2026, sampel makanan nan disajikan di sekolah dinyatakan positif mengandung tiga jenis bakteri, yaitu Bacillus cereus, Staphylococcus aureus, dan Escherichia coli (E. coli). Selain itu, kuman Staphylococcus aureus juga ditemukan pada sampel muntahan salah satu korban.

Dokter Umum FKUI Edukasi Kesehatan Adam Prabata menjelaskan Bacillus cereus adalah kuman nan dapat ditemukan pada makanan dan dapat menyebabkan keracunan jika makanan dibiarkan kelamaan di suhu ruangan. Paling sering ditemukan pada nasi, terutama nasi goreng nan dibiarkan kelamaan di suhu ruang.

"Spora nan bikin keracunan ini sangat stabil di suhu panas, sehingga memanaskan ulang makanan gak selalu menghilangkan racunnya," kata Adam, Rabu (9/9).

Gejala nan sering muncul antara lain mual muntah, diare, dan keram perut. Pada kondisi keracunan cereulide (toksin Bacillus aureus) dengan kadar nan sangat tinggi, meskipun jarang dapat muncul beberapa kondisi berat antara lain kandas ginjal akut, kandas liver hingga ensefalopati (gangguan otak).

Kemudian Staphylococcus aureus umum ditemukan pada kulit dan tangan manusia. Apabila masuk ke makanan dan dibiarkan lama, maka bisa menghasilkan toksin dengan nama Staphylococcal enterotoxin.

"Bakteri ini racunnya juga bisa memperkuat pada makanan nan dipanaskan. Gejala nan sering muncul antara lain mual muntah, diare, keram perut, dan demam," ujar Adam.

Selanjutnya, E. coli adalah kuman normal nan dapat ditemukan di saluran cerna manusia, namun jika ditemukan pada makanan, maka perlu dipertanyakan higienitasnya dan kemungkinan kontaminasi fekal. Tidak semua E. coli menyebabkan penyakit. 

Ia menegaskan temuan kuman pada makanan tersebut tetap perlu dicocokkan dengan beberapa perihal agar dapat dipastikan antara lain gejala, waktu indikasi muncul, jumlah kuman di makanan, dan jumlah toksin di makanan.

Selain ketiga kuman itu, mahir gizi dr Tan Shot Yen menyebut ada kuman lainnya nan juga rawan dan perlu diwaspadai orangtua jika ada di makanan, ialah Clostridium botulinum dan racunnya (botulinum) nan paling sering ditemukan pada makanan kalengan nan diolah alias diawetkan dengan langkah nan tidak steril khususnya makanan rumahan.

Berikut adalah jenis-jenis makanan nan berisiko tinggi menjadi sumber kontaminasi kuman botulinum seperti makanan kalengan rendah asam, sayuran, dan buah kalengan seperti kacang hijau, bayam, jamur, bit, jagung, alias asparagus nan diawetkan tanpa tingkat keasaman alias proses pemanasan nan cukup.

Daging dan ikan kaleng juga rawan tercampurnya kuman botulinium seperti di sarden, kornet, alias tuna kalengan, terutama jika kalengnya sudah menggembung, penyok, bocor, alias berkarat.

"Selain itu ada juga makanan ikan alias daging, ikan asin, ikan fermentasi alias asap nan disiapkan secara tradisional tanpa kontrol suhu dan kebersihan nan ketat," katanya.

Produk olahan rumahan nan disimpan dalam wadah rapat udara tanpa oksigen (kondisi anaerob) nan menjadi tempat ideal bagi kuman ini berkembang biak. Tidak hanya itu, madu dan sirup jagung mentah dapat mengandung spora kuman clostridium botulinum nan rawan bagi bayi di bawah usia satu tahun lantaran sistem pencernaan belum matang. Oleh lantaran itu, madu tidak boleh diberikan kepada bayi.

"Tentunya makanan nan kurang higienis, makanan mentah alias separuh matang. Makanan nan dibiarkan terlalu lama di suhu ruang alias disajikan terbuka di pinggir jalan sehingga mudah terkontaminasi debu dan kotoran," pungkasnya. (H-2)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia