Jumlah siswa dan pembimbing nan diduga keracunan di Pati terus bertambah.(MI/Akhmad Safuan)
JUMLAH siswa dan pembimbing nan diduga mengalami keracunan setelah mengonsumsi Makan Bergizi Gratis (MBG) di SMP Negeri 1 Gembong dan MTs Negeri 3 Pati terus bertambah. Hingga Rabu (9/9) petang, tercatat 273 siswa dan 43 pembimbing mengalami indikasi nan diduga berangkaian dengan makanan program MBG.
Di MTs Negeri 3 Pati, sebanyak 127 siswa dan 30 pembimbing terdampak. Sementara di SMP Negeri 1 Gembong, tercatat 103 siswa dan 13 pembimbing mengalami indikasi serupa.
Para korban mengeluhkan diare, mual, muntah, sakit perut, hingga kudu berulang kali ke toilet. Puluhan korban menjalani perawatan di Puskesmas Gembong, RSUD RAA Soewondo, RS Mitra Bangsa, RS KSH, serta sejumlah akomodasi kesehatan lainnya.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Pati Luki Pratugas Narimo mengatakan, penanganan terhadap korban menjadi prioritas sembari menunggu hasil pemeriksaan untuk memastikan penyebab kejadian tersebut.
"Sekarang ini nan terpenting dilakukan adalah melakukan pertimbangan para korban dengan indikasi keracunan dan perawatan agar sigap membaik," kata Luki, Rabu (9/9).
Menurut Luki, sebagian besar siswa dan pembimbing nan mendapat perawatan mulai menunjukkan kondisi membaik setelah memperoleh penanganan medis. Namun, penyebab pasti keracunan belum dapat dipastikan.
Dinas Kesehatan Kabupaten Pati telah mengambil dan mengirim sampel makanan serta muntahan korban ke laboratorium Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah untuk diperiksa.
Diduga Terlambat Didistribusikan
Dugaan sementara di lapangan mengarah pada keterlambatan pengedaran makanan MBG. Menu nan dibagikan terdiri atas nasi bakar ayam suwir, telur ceplok, orek tempe, lalapan, kerupuk udang, dan semangka.
Kepala MTs Negeri 3 Pati Zaenal Arifin mengatakan, pihak sekolah belum dapat memastikan penyebab kejadian. Namun, muncul dugaan makanan terlambat didistribusikan sehingga dikonsumsi siswa dan pembimbing dalam kondisi nan tidak sesuai dengan agenda biasanya.
Menurut Zaenal, makanan MBG biasanya tiba dan dibagikan sekitar pukul 11.20 WIB. Namun, pada hari kejadian, makanan baru tiba setelah pukul 12.00 WIB.
Keterlambatan juga terjadi di SMP Negeri 1 Gembong. Kepala sekolah Istiana mengatakan, makanan MBG biasanya sudah tiba sebelum jam rehat pertama sekitar pukul 09.30 WIB. Namun, pada Rabu makanan baru tiba sekitar pukul 11.30 WIB.
"Kami pun langsung membagikan makanan tersebut lantaran label pada tray (ompreng makan) menginstruksikan MBG kudu dimakan sebelum pukul 12.00," ujar Istiana.
Tak lama setelah makanan dikonsumsi, sejumlah siswa dan pembimbing mulai mengalami indikasi seperti mual, muntah, diare, dan sakit perut. Kondisi tersebut memicu kepanikan di sekolah dan membikin sejumlah ambulans dikerahkan untuk mengevakuasi korban ke akomodasi kesehatan.
SPPG Ditutup Sementara
Menindaklanjuti kejadian tersebut, Pimpinan Satgas MBG nan juga Plt Bupati Pati Risma Adhi Chandra memutuskan menutup sementara Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Gembong 1.
Penutupan dilakukan untuk kepentingan investigasi, evaluasi, dan mitigasi agar kejadian serupa tidak kembali terjadi.
"Ya pasti ditutup sementara sembari mitigasi, lantaran hingga sekarang juga belum diketahui penyebab keracunannya itu dari makanan nan apa tadi," kata Risma.
Risma mengatakan, sampel makanan MBG telah dikirim ke laboratorium Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah. Hasil pemeriksaan diperkirakan memerlukan waktu satu hingga dua pekan.
Pemerintah Kabupaten Pati menunggu hasil laboratorium untuk memastikan sumber penyebab keracunan sekaligus menentukan langkah selanjutnya terhadap penyelenggaraan program MBG di wilayah tersebut. (E-2)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·