Pemerintah Kota Banda Aceh menandatangani Letter of Intent (LoI) dengan Kota Grasse, Prancis, Rabu (17/6).(Dok.Istimewa)
PEMERINTAH Kota Banda Aceh terus memperluas jejaring internasional guna memperkuat posisinya sebagai Kota Parfum Indonesia. Upaya tersebut diwujudkan melalui penandatanganan Letter of Intent (LoI) kerja sama antara Kota Banda Aceh dan Kota Grasse, Prancis, nan dikenal sebagai ibu kota minyak wangi dunia, pada Rabu (17/6)
Kerja sama ini dilandasi oleh kesamaan visi kedua kota dalam mengembangkan potensi tanaman aromatik dan industri minyak wangi sebagai penggerak pertumbuhan ekonomi berkelanjutan. Grasse telah lama menjadi pusat industri minyak wangi bumi dengan ekosistem nan mencakup pendidikan, riset, inovasi, produksi, hingga pemasaran global.
Sementara itu, Banda Aceh tengah mengembangkan diri sebagai Kota Parfum Indonesia dengan support komoditas unggulan asal Aceh seperti nilam dan beragam tanaman aromatik lainnya.
“Banda Aceh dan Grasse dipertemukan oleh parfum. Namun lebih dari itu, hari ini kita membangun jembatan kerjasama antara dua kota nan mempunyai semangat nan sama, ialah mengembangkan potensi lokal menjadi kekuatan ekonomi nan berkelanjutan. Kami berharap kemitraan ini melahirkan program-program konkret nan memberi faedah nyata bagi masyarakat di kedua kota,” ujar Wali Kota Banda Aceh, Illiza Sa’aduddin Djamal, dalam keterangannya, Selasa (23/6).
Wali Kota Grasse, Jérôme Viaud, menyambut baik penandatanganan LoI sebagai langkah awal kemitraan jangka panjang antara kedua kota. “Meskipun dipisahkan oleh ribuan kilometer, Grasse dan Banda Aceh mempunyai visi nan sama dalam mengembangkan sumber daya lokal dan menciptakan nilai tambah bagi masyarakat. LoI ini merupakan titik awal dari kemitraan nan dibangun atas dasar pertukaran, kepercayaan, dan berbagi pengalaman,” ujar Viaud.
Kerja sama Banda Aceh–Grasse mengedepankan prinsip saling menguntungkan dengan konsentrasi pada pengembangan SDM di bagian minyak wangi dan industri atsiri, pengembangan pariwisata berbasis wewangian, penguatan ekonomi imajinatif berbasis bahan baku lokal, serta pertukaran pengetahuan dan teknologi dalam pengolahan dan standardisasi bahan baku aromatik.
Penandatanganan LoI ini juga menjadi langkah awal bagi kedua kota untuk mengembangkan beragam program kerjasama konkret nan diharapkan dapat bersambung menuju kemitraan nan lebih komprehensif di masa mendatang.
Konsul Jenderal Republik Indonesia di Marseille, Dian Kusumaningsih, menilai kemitraan Banda Aceh–Grasse merupakan contoh nyata gimana kerja sama antarpemerintah daerah
“Kemitraan antara Banda Aceh dan Grasse menunjukkan gimana kerja sama antarpemerintah wilayah dapat membuka kesempatan baru di bagian ekonomi, pendidikan, dan inovasi. KJRI Marseille berambisi kerjasama ini dapat berkembang menjadi model kerja sama nan saling menguntungkan dan semakin mempererat hubungan Indonesia dan Prancis di tingkat daerah,” ujar Dian.
Sejak diumumkan pada Mei 2025, melalui program “Banda Aceh Kota Parfum Indonesia” Pemerintah Kota Banda Aceh aktif membangun kerjasama dengan pelaku UMKM, perguruan tinggi, kementerian/lembaga, dan beragam mitra internasional guna mendorong pertumbuhan industri minyak wangi nasional, meningkatkan nilai tambah komoditas lokal, serta menciptakan kesempatan ekonomi dan lapangan kerja baru bagi masyarakat. (E-2)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·