Mahasiswi Undana Kupang Diduga Depresi usai Batal Sidang Skripsi 12 Kali

Sedang Trending 6 jam yang lalu
Ilustrasi siswa depresi tidak lolos PPDB. Foto: Mindmo/Shutterstock

JST, seorang mahasiswi Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Nusa Cendana (Undana) Kupang, Nusa Tenggara Timur, diduga depresi usai batal sidang skripsi. Sidang skripsi itu batal setelah mahasiswi itu diminta mengganti pengajar penguji.

Video nan merekam tangis panik mahasiswi itu juga viral di media sosial. Dalam video tersebut, JST tampak tergeletak di lantai sembari menangis histeris. Sejumlah orang berupaya menenangkannya, namun dia terus meronta dan menangis tak terkendali.

Narasi nan beredar menyebut kondisi itu terjadi setelah pengajar pengujinya, SKL, tiba-tiba menghubungi JST dan memintanya agar pengajar pengetes diganti. Padahal, agenda sidang sudah sangat dekat.

Disebutkan pula JST telah 12 kali mengalami pembatalan sidang skripsi oleh pengajar nan sama.

Dirawat di Rumah Sakit

Seorang mahasiswi Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Nusa Cendana (Undana) Kupang diduga depresi usai batal ujian skripsi 12 kali, Sabtu (1/8/2026). Foto: Dok. Istimewa

Dekan FKM Undana, Apris Adu, membenarkan adanya peristiwa tersebut. Ia mengatakan, begitu tahu video viral, pihak fakultas langsung menggelar rapat koordinasi sekaligus memantau kondisi JST nan sekarang dirawat di Rumah Sakit Wira Sakti Kupang.

"Begitu dapat informasi, kami segera rapat ketua untuk memverifikasi kebenaran dan menindaklanjuti," kata Apris, Jumat (31/7).

Pihak kampus berkomitmen menyelesaikan persoalan ini dan mulai memanggil keterangan pengajar pembimbing serta pengajar pengetes terkait.

"Dosen pengetes saat ini sedang dalam masa berduka, sehingga kami jadwalkan besok baru bisa dapat keterangan lengkap," jelasnya.

Apris menerangkan, JST adalah mahasiswi semester 10 nan secara akademik sebenarnya sudah menyelesaikan seluruh mata kuliah, termasuk ujian proposal, sehingga tinggal melaksanakan sidang skripsi.

"Jadi secara akademik, semua mata kuliahnya sudah selesai dan sudah ujian proposal dan tinggal ujian hasil serta skripsi," jelas Apris.

Ia berjanji bakal memproses siapa pun nan terbukti bersalah, baik pengajar maupun mahasiswa.

"Baik mahasiswa maupun pengajar mendapatkan perlakuan nan sama," pungkas Apris.

Undana Investigasi

Sementara itu, Wakil Rektor IV Undana, Philiphi de Rozari, menyebut pihaknya tengah melakukan investigasi atas kejadian itu.

"Pada prinsipnya kami tetap dalam proses investigasi mengenai kejadian tersebut," ujar Philiphi.

Philiphi meminta publik bersabar menunggu hasil komplit setelah proses investigasi selesai. Ia berjanji, Undana bakal mengumumkan hasilnya ke khalayak luas.

"Jadi kami sangat mengharapkan bersabar sedikit lantaran nan pasti kami bakal memberikan info nan tepat dan betul terhadap kejadian ini," jelasnya.

Ia menambahkan, peristiwa ini menjadi bahan pertimbangan agar pelayanan Undana kepada mahasiswa semakin baik dan perihal serupa tidak terulang.

Menurutnya, kampus juga menegaskan tidak menutup kemungkinan menjatuhkan balasan berat bagi siapa pun nan terbukti melakukan pelanggaran.

"Tetapi hukuman sampai pemecatan itu ada," tegas Philiphi.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan