Pemilik BeeMa Honey Fransisca Natalia Widowati(MI/Insi Nantika Jelita)
DARI tangan para peternak lebah di beragam pelosok Indonesia, madu Nusantara menemukan tempat di pasar internasional. Lewat BeeMa Honey, produsen madu artisan premium nan dirintis sejak 2017, kekayaan madu lokal tidak hanya diperkenalkan ke mancanegara, tetapi juga menjadi jalan untuk meningkatkan kesejahteraan para peternak.
Di tengah upayanya menembus pasar ekspor, BeeMa Honey konsisten membina puluhan peternak lebah agar bisa menghasilkan madu berbobot tinggi dengan praktik budi daya nan berkelanjutan.
Perjalanan BeeMa Honey dalam memperluas pasar hingga ke tingkat dunia turut didukung oleh PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk alias BRI melalui beragam program pembinaan.
Mengangkat Madu Nusantara
Berawal dari kegemarannya mengonsumsi madu, pemilik BeeMa Honey Fransisca Natalia Widowati justru memandang ironi di pasar dalam negeri. Saat itu, produk madu impor mendominasi rak-rak penjualan, sementara madu lokal berbobot belum banyak dikenal masyarakat.
"Semuanya kebanyakan madu impor dan ketika kita memandang pasar madu lokal, pemainnya hanya itu-itu saja," ungkapnya saat ditemui di Tangerang, Banten, belum lama ini.
Fransisca mengaku lebih selektif dalam memilih produk nan dikonsumsi. Menurutnya, madu merupakan salah satu produk pangan nan rentan mengalami adulterasi alias pemalsuan, sehingga perlu jeli dalam memastikan kualitas dan keasliannya. Pengalaman pribadinya menghadapi gangguan masam lambung alias gerd turut mendorong pencarian terhadap madu nan betul-betul murni dan dapat dipercaya kualitasnya.
"Salah satunya faedah madu itu untuk meredakan gerd. Tapi, kita enggak boleh asal konsumsi," ujarnya.
Dalam proses pencarian madu murni, Fransisca mengunjungi sejumlah sentra produksi madu di beragam wilayah di Indonesia. Saat berjamu ke Pati, Jawa Tengah, dia menemukan madu lokal mempunyai karakter rasa nan unik serta kualitas nan tidak kalah dibandingkan produk dari luar negeri. Pengalaman tersebut kemudian menginspirasi dirinya merintis upaya di bagian madu dengan mengangkat potensi madu Nusantara.
Melalui BeeMa Honey, Fransisca memperkenalkan konsep artisan raw honey, ialah madu mentah nan diproduksi dengan menjaga keaslian dan kualitas alaminya. Menurutnya, istilah tersebut merujuk pada upaya menghadirkan madu Indonesia dalam corak nan minim proses, sehingga kekayaan rasa dan kandungan alaminya tetap terjaga.
"Produk kami pada dasarnya adalah produk original. Kita bilang raw honey lantaran madu mentah tidak dipanaskan sehingga kandungan baik seperti vitamin, enzim, dan nutrisinya tetap ada," jelasnya.
Di satu sisi, dia menilai Indonesia mempunyai potensi besar penghasil madu berkualitas. Namun, selama ini masyarakat lebih mengenal madu manuka dari Selandia Baru alias Australia dibandingkan madu lokal.
"Indonesia itu punya sumber-sumber madu nan bagus sekali," terang Fransisca.
Berangkat dari kepercayaan tersebut, BeeMa Honey datang untuk mengisi segmen madu lokal premium nan saat itu belum banyak tersedia di pasar domestik.
Filosofi BeeMa Honey
BeeMa Honey resmi berbadan norma sebagai perseroan terbatas pada 2019. Nama BeeMa sendiri terinspirasi dari tokoh Bima dalam kisah pewayangan Jawa.
"Salah satu Pandawa lima berkerabat nan selalu dijadikan simbol kekuatan adalah Bima," kata Fransisca.
Baginya, Bima bukan sekadar lambang kekuatan, melainkan juga kejujuran dan integritas. Nilai itulah nan mau diwujudkan melalui BeeMa Honey.
"Bima itu sangat jujur. Sama seperti madu kami, apa adanya. Tidak ada campuran dan kami transparan kepada para stakeholder," ujarnya.
Nama BeeMa juga mempunyai makna lain, ialah be my honey. Fransisca berambisi siapa pun nan mengonsumsi BeeMa Honey dapat menjadi kuat seperti Bima.
Membina Peternak Lebah
Di kembali pertumbuhan usahanya, BeeMa Honey turut membina golongan peternak lebah di beragam daerah. Fransisca menilai para peternak selama ini belum mendapatkan perhatian nan memadai.
"Mereka berjuang sendiri jualnya. Barangnya murah, akhirnya dijual curah," katanya.
BeeMa Honey kemudian menghimpun kelompok-kelompok peternak dan memberikan pendampingan mengenai praktik budi daya lebah berkepanjangan alias sustainable beekeeping.
"Jadi kita bina mereka untuk menghasilkan madu terbaik," kata wanita berumur 50 tahun itu.
Edukasi nan diberikan mencakup teknik panen, penyimpanan madu, hingga pemahaman mengenai pentingnya lebah bagi ekosistem pertanian sebagai pemasok penyerbuk.
"Tapi kita juga mencoba mengedukasi gimana peternak lebah bisa menjalankan praktik nan sustainable," jelasnya.
Saat ini BeeMa Honey membina sekitar tiga golongan peternak nan tersebar Sumatra, Jawa Tengah, hingga Nusa Tenggara Timur (NTT).
"Sekitar 30 peternak nan kami bina nan tersebar diberbagai daerah," ujarnya.
Meningkatkan Kesejahteraan Peternak Pendampingan nan dilakukan BeeMa Honey turut berakibat terhadap peningkatan kesejahteraan peternak lebah. Mereka juga diajarkan praktik panen lestari, terutama untuk madu hutan.
"Kami ajarkan mereka gimana membikin panen lestari ini," katanya.
Dalam praktik tersebut, peternak hanya mengambil sebagian madu dan menyisakan sekitar 30% sarang agar koloni lebah tetap dapat berkembang.
"Jadi kami ajarkan mereka sehingga lebah itu tidak kudu mulai dari nol lagi untuk bikin madu," terangnya.
Dampaknya, kapabilitas produksi para peternak meningkat signifikan. Selain itu, mereka juga memperoleh kepastian pasar melalui perjanjian kerja sama dengan BeeMa Honey.
"Bisa mempekerjakan lebih banyak orang lagi, menghasilkan madu lebih banyak lagi," tegasnya.
Fransisca menyebut sebagian peternak apalagi bisa meningkatkan hasil produksi hingga tiga kali lipat dibandingkan sebelumnya.
Save the Bees
Komitmen terhadap keberlanjutan juga diwujudkan melalui aktivitas Save the Bees. BeeMa Honey menggandeng sejumlah pemilik lahan organik nan bebas pestisida untuk menciptakan kediaman nan kondusif bagi lebah. Salah satu mitranya adalah BSP Farm di Bogor nan berlokasi di area Gunung Salak. Di tempat tersebut, BeeMa Honey mengembangkan bee sanctuary alias suaka lebah.
"Di situ kami mencoba mengembangkan lebah, terutama stingless bee meliponini," terang Fransisca.
Di letak tersebut BeeMa Honey memproduksi Java Trigona, madu dari lebah klanceng nan dikenal kaya antioksidan.
"Di situ lebah bebas berkeliaran tanpa diganggu," tuturnya.
BeeMa Honey juga bekerja sama dengan sejumlah perguruan tinggi, termasuk IPB, untuk melakukan penelitian mengenai lebah dan perannya dalam ekosistem.
Inovasi Produk Madu
BeeMa Honey terus berinovasi untuk menjangkau beragam segmen pasar. Selain madu murni, perusahaan tersebut menghadirkan beragam produk infused honey.
"Kami bikin coffee infused honey. Kemudian ada madu infused jahe dan madu infused cabai," kata Fransisca.
Menurutnya, madu cabe dapat menjadi pengganti bagi masyarakat Indonesia nan doyan mengonsumsi makanan pedas.
"Ini salah satu pengganti makan sesuatu pedas tapi tanpa bahan kimia alias tanpa pengawet," jelasnya.
Harga produk BeeMa Honey berkisar antara Rp110 ribu hingga Rp250 ribu. Salah satu produk premium nan ditawarkan adalah Java Trigona nan produksinya terbatas lantaran berasal dari lebah berukuran kecil.
Bermula dari Modal Rp20 Juta
Perjalanan BeeMa Honey berasal dari modal awal sebesar Rp20 juta. Dana tersebut dikumpulkan oleh Fransisca berbareng sang suami untuk merintis upaya madu. Dalam menjalankan bisnisnya, BeeMa Honey tidak hanya berfokus pada penjualan produk, tetapi juga membangun kemitraan dengan para peternak lebah di beragam daerah. Upaya tersebut dilakukan untuk memastikan kesiapan pasokan madu sekaligus menjaga konsistensi kualitas produk nan dipasarkan.
Seiring meningkatnya permintaan, kapabilitas produksi BeeMa Honey sekarang telah mencapai sekitar 25 ton per bulan. Dari total kapabilitas tersebut, rata-rata penjualan BeeMa Honey berada di kisaran enam ton setiap bulan. Permintaan tidak hanya datang dari konsumen individu, tetapi juga dari beragam kanal pengedaran nan telah dibangun perusahaan.
Fransisca mengatakan, salah satu aspek nan turut mendorong perkembangan usahanya adalah keikutsertaan dalam beragam pameran, baik di dalam maupun luar negeri. Kesempatan tersebut, termasuk nan difasilitasi melalui support BRI, membuka akses BeeMa Honey terhadap pasar nan lebih luas serta memperkenalkan produknya kepada calon pembeli baru.
"Sehingga perihal itu membikin omzet kami meningkat," katanya.
Peran BRI Membuka Pasar Ekspor
Perjalanan BeeMa Honey berbareng BRI dimulai ketika Fransisca mengikuti program Brilianpreneur 2019. Melalui jaringan tersebut, dia kemudian berasosiasi menjadi UMKM bimbingan BRI hingga mendapatkan training di Rumah BUMN.
"Dari Brilianpreneur, produk saya dikenal lebih luas," ujarnya.
Menurut Fransisca, support BRI tidak hanya berupa pelatihan, tetapi juga membuka akses pasar melalui beragam pameran dan fasilitasi promosi.
"Jadi, kehadiran BRI ini membuka akses pasar BeeMa Honey," ucapnya.
Dukungan BRI tersebut turut membawa BeeMa Honey tampil di arena Food & Hotel Asia (FHA) di Singapura, salah satu pameran industri makanan dan minuman terbesar di Asia.
"Hasilnya bagus. Kami dapat banyak potential buyer, kemudian ada pemasok juga di Singapura," katanya.
Saat ini Singapura menjadi pasar ekspor rutin BeeMa Honey dengan nilai transaksi sekitar Rp60 juta hingga Rp100 juta per bulan. Produk tersebut dipasarkan melalui pemasok nan memasok hotel-hotel di negara tersebut.
Fransisca mengungkapkan produknya telah menarik minat sejumlah calon pembeli dari beragam negara di Eropa, seperti Bulgaria, Bosnia, hingga Norwegia. Namun, kesempatan ekspor tersebut belum dapat direalisasikan lantaran Indonesia belum masuk dalam daftar negara produsen madu nan diakui oleh Uni Eropa. Kondisi tersebut menjadi hambatan utama dalam proses pemasaran madu Indonesia ke pasar Eropa, meskipun permintaan terhadap produk tersebut terus bermunculan.
Ia berambisi penerapan Indonesia-European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement (IEU-CEPA) dapat membuka jalan bagi produk BeeMa Honey.
"Mudah-mudahan tahun depan produk kami bisa masuk pasar Eropa," harapnya.
Menurutnya, pasar internasional menempatkan kualitas sebagai aspek utama dalam memilih produk madu. Berbeda dengan di Indonesia nan tetap banyak memandang madu sebagai suplemen nan dikonsumsi saat sakit, masyarakat di luar negeri menjadikan madu sebagai bagian dari kebutuhan sehari-hari. Madu dikonsumsi sebagai pelengkap roti, campuran minuman, hingga bahan pemanis alami dalam beragam makanan.
"Pada akhirnya para pembeli memilih madu sebagai pengganti pemanis pengganti gula," ujarnya.
Ia menambahkan, meningkatnya kesadaran masyarakat dunia terhadap style hidup sehat turut mendorong tingginya permintaan madu. Kekhawatiran terhadap beragam penyakit, seperti diabetes, membikin banyak konsumen beranjak ke pemanis alami nan dianggap lebih sehat. Tren tersebut menyebabkan permintaan madu di pasar internasional terus mengalami peningkatan.
Fenomena serupa juga mulai terlihat di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir. Kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menjaga kesehatan disebut meningkat, terutama sejak tiga tahun terakhir. Kondisi ini membuka kesempatan bagi produsen madu lokal untuk memperluas pasar, baik di dalam negeri maupun di tingkat global, selama beragam halangan ekspor dapat diatasi.
Sertifikasi untuk Menjamin Kualitas
Untuk menjaga kepercayaan konsumen, BeeMa Honey telah mengantongi beragam sertifikasi, mulai dari sertifikat halal, Nomor Kontrol Veteriner (NKV), izin edar dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) untuk produk formula, hingga sertifikasi Hazard Analysis and Critical Control Points (HACCP) sebagai standar internasional keamanan pangan.
Menurut Fransisca, kelengkapan sertifikasi tersebut menjadi modal krusial bagi perusahaan dalam memperluas pasar serta memenuhi beragam persyaratan ekspor ke sejumlah negara.
"Kami sudah ada semua sertifikasinya," ujar Fransisca.
Sertifikasi tersebut menjadi salah satu modal krusial bagi BeeMa Honey dalam memperluas pasar, termasuk untuk memenuhi persyaratan ekspor ke beragam negara.
Tantangan Produksi
Di satu sisi, produksi madu sangat dipengaruhi oleh musim dan kondisi cuaca. Saat musim kembang randu, misalnya, panen dapat dilakukan hingga tiga alias empat kali andaikan curah hujan rendah. Namun ketika cuaca tidak mendukung, BeeMa Honey kudu mencari pengganti letak baru agar pasokan tetap terjaga.
"Biasanya ketika kita tahu ini tidak bisa dapat, kita langsung pindahkan ke letak lain," katanya.
BeeMa Honey menerapkan sistem migrasi koloni lebah dengan mengikuti musim berbunga di beragam daerah, seperti Pati, Magelang, hingga Gunungkidul. Pola budi daya ini dilakukan untuk memastikan lebah memperoleh sumber nektar terbaik sesuai karakter tanaman nan sedang berbunga di setiap wilayah.
Melalui metode tersebut, BeeMa Honey menghasilkan beragam madu monoflora, ialah madu nan berasal dari nektar satu jenis kembang dominan. Beberapa produk nan dihasilkan antara lain Madu Kayu Putih, Madu Kopi, dan Madu Durian, nan masing-masing mempunyai cita rasa dan karakter unik sesuai dengan sumber nektarnya.
Mendorong Produk Lokal
Fransisca meyakini dengan giat mendukung produk lokal berfaedah turut menggerakkan roda ekonomi masyarakat, termasuk peternak lebah di desa-desa.
"Termasuk membantu ekonomi lokal dari peternak lebah," ucapnya.
Menurutnya, produk Indonesia sekarang telah mengalami peningkatan dari sisi kualitas maupun bungkusan sehingga bisa bersaing di pasar global.
"Jadilah pahlawan lokal dengan membeli produk lokal," tegasnya.
Ia menilai menjadi pahlawan tidak selalu kudu melalui tindakan besar.
"Untuk menjadi seorang hero, Anda tidak perlu berpikir terlalu jauh. Hanya dengan mendukung produk lokal, Anda bisa menjadi seorang hero lokal," katanya.
Java Trigona Favorit Konsumen
BeeMa Honey, Anis, membagikan pengalamannya setelah mencoba salah satu jenis madu nan ditawarkan produsen madu artisan tersebut. Pada awalnya, dia mengaku bukan pencinta madu dan beranggapan semua madu mempunyai cita rasa nan sama seperti produk nan banyak dijumpai di pasaran. Namun, rasa penasaran muncul setelah memandang banyaknya pilihan jenis madu nan dijual secara daring, hingga akhirnya memutuskan untuk mencoba salah satu produk BeeMa Honey.
"Sebagai orang awam, saya tahunya rasa madu ya begitu saja, sama seperti nan dijual di supermarket. Tapi setelah memandang banyak sekali variannya di penjualan online, saya jadi tertarik untuk mencoba BeeMa Honey," ujarnya.
Pilihan favoritnya jatuh pada jenis madu Java Trigona. Di luar ekspektasinya, Anis mengatakan madu tersebut menghadirkan rasa nan berbeda dibandingkan madu nan selama ini pernah dia konsumsi. Menurutnya, kombinasi rasa manis dan sedikit masam menjadi daya tarik tersendiri nan membikin produk tersebut terasa lebih istimewa.
Ia juga menilai karakter rasa madu Java Trigona cukup elastis untuk dinikmati dalam beragam cara. Selain dikonsumsi langsung, madu tersebut dinilai cocok dijadikan campuran minuman. Kebetulan, preferensinya terhadap cita rasa masam membikin jenis itu semakin sesuai dengan seleranya. Anis pun merekomendasikan BeeMa Honey kepada teman-temannya untuk ikut mencoba.
"Rasanya lezat sekali dan berbeda dengan madu nan umum dijual di pasaran. Ada rasa manis, ada asamnya juga, sehingga cocok dijadikan campuran minuman. Saya tidak kecewa membelinya, apalagi teman-teman saya juga saya sarankan untuk ikut mencoba," tuturnya. (E-4)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·