Upaya pemadaman karhutla Riau.(Dok. Dalkarhut Sumatra)
LUAS kebakaran rimba dan lahan (Karhutla) di Provinsi Riau menghadapi pengaruh Super El Nino kian mengkhawatirkan. Saat ini luas Karhutla Riau berasas analisa gambaran satelit kerjasama Kemenhut, BRIN dan KLH pada periode Januari-April telah mencapai 14.855 hektare (ha).
Kepala Balai Pengendalian Kebakaran Hutan (Dalkarhut) Sumatra nan juga ketua Manggala Agni Ferdian Krisnanto kepada Media Indonesia mengatakan analisa komparasi situasi Karhutla Riau dalam masa El Nino diketahui kondisi luas Karhutla Riau pada periode sama mirip dengan kejadian El Nino pada 2019. Diketahui kondisi El Nino tahun 2019 pada periode Januari-April luas Karhutla Riau mencapai 26.375 ha. Kemudian pada 2023 seluas 1.099 ha, saat ini pada 2026 luas Karhutla Riau telah mencapai 14.855 ha.
“Ini jelas warning keras,” tegas Ferdian, Rabu (20/5).
Dijelaskannya, analisa dilakukan selama periode Januari-April. Tim analisa membandingkan pada tahun nan sama-sama El Nino. “Ini lantaran nan periode sebelumnya kejadian kebakarannya tapi di gambaran satelit baru terlihat clear pada saat Mei kemarin. Sebelumnya banyak tertutup awan,” tukasnya.
Ia mengungkapkan, pada analisa tersebut tetap tergolong analisa rimba dan non rimba termasuk jenis lahan tanah nan kebanyakan gambut dan sedikit tanah mineral. Belum ada penentuan pasti dan detil mengenai pemegang izin tanah ialah perusahaan perkebunan, perusahaan kehutanan, alias lahan masyarakat.
“Nanti kami overlay dulu peta pemegang izin ya,” ungkap Ferdian.
Ia juga mengimbau untuk lebih waspada terhadap ancaman kondisi super El Nino nan melanda tanah air khususnya Provinsi Riau.
“Lebih kepada kewaspadaan ya. Baik dari sisi pemerintah daerah, swasta baik pemegang izin kehutanan alias perkebunan dan tentunya masyarakat semua. Kondisi ke depan dengan potensi tandus nan lebih panas dan lebih panjang, tentunya kejadian karhutla di Januari-April menjadi pembelajaran krusial untuk bersiap lagi pencegahan, penemuan dini, dan respon cepat. (Semua) kudu menyiapkan anggaran, sarana prasarana, dan sumber daya manusia,” jelas Ferdian.
Ia juga mengingatkan, semua pihak kudu lebih waspada terhadap musibah nan menakut-nakuti di depan mata.
“Tiba masa tiba waktu tidak siap bakal sangat berbahaya. Potensi musibah di depan mata,” pungkasnya. (H-3)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·