Jakarta, CNBC Indonesia - Peluncuran ChatGPT bisa dibilang jadi titik awal pengembangan masif AI hingga sekarang. Namun ini juga pertanda banyaknya pekerjaan nan lenyap setelah era tersebut.
Penelitian dari Harvard Business School melakukan temuan sesaat setelah peluncuran publik ChatGPT pada November 2022. Studi itu melakukan kajian dari lowongan pekerjaan dari 2019 hingga Maret 2025 dengan kumpulan info nan mencakup nyaris seluruh lowongan di Amerika Serikat (AS).
Salah satu temuannya adalah penurunan 13% dari lowongan pekerjaan nan melibatkan tugas terstruktur dan berulang setelah peluncuran publik ChatGPT pada November 2022. Pekerjaan itu kemungkinan bisa digantikan oleh AI generatif.
Sebaliknya, permintaan untuk pekerjaan mengenai analitis, teknis alias imajinatif dan bisa ditingkatkan dengan AI mengalami peningkatan hingga 20%.
"Alih-alih menghilangkan pekerjaan, AI generatif menciptakan permintaan baru pada peran nan rentan pada peningkatan kemampuan, menunjukkan kerjasama manusia-AI adalah pendorong utama transformasi pasar tenaga kerja," jelas peneliti studi tersebut, Profesor Suraj Srinivasan, dikutip Selasa (12/5/2026).
Profesi nan berpotensi bisa ditingkatkan dengan AI adalah dapat menangani tugas nan dapat diotomatisasi dengan AI generatif selain tugas nan memerlukan keterlibatan manusia.
Beberapa pekerjaan nan berpotensi mengalami peningkatan paling tinggi adalah mikrobiolog, analis finansial dan mahir neuropsikologi klinis. Sementara di bagian finansial adalah manajer dan analis investasi nan dapat menggunakan perangkat AI untuk memproses dan mengevaluasi info pasar serta melakukan penilaian dan pengambilan keputusan.
Sementara itu, hasil penelitian juga keahlian nan diminta dalam lowongan pekerjaan mengalami penurunan hingga 7%.
Selain itu, tim peneliti mendeteksi lebih banyak keahlian mengenai AI dalam pekerjaan dengan potensi peningkatan nan tinggi. Keterampilan itu termasuk penulisan prompt alias penggunaan perangkat AI.
Srinivasan memberikan beberapa rekomendasi untuk perusahaan mengenai akibat AI pada lapangan pekerjaan. Salah satunya melakukan investasi pada program peningkatan keahlian untuk mengalihkan pekerja ke peranan nan ditingkatkan melalui AI.
Selain itu juga meningkatkan keahlian berkepanjangan dalam AI generatif untuk memanfaatkan perangkat baru.
Dia mengingatkan perusahaan bahwa AI generatif bukan langkah penghematan. Melainkan sebagai peningkatan kemampuan.
"Bukan langkah penghematan biaya dan menyelaraskan program training tenaga kerja untuk mendukung transisi pekerjaan serta tuntutan keahlian nan terus berkembang," dia menjelaskan.
(dem/dem)
Addsource on Google
[Gambas:Video CNBC]
54 menit yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·