Mima Shafa dan Leticia Joseph.(Dok. Uniqlo)
ANGGAPAN bahwa busana santuy hanya layak dikenakan di rumah perlahan mulai ditinggalkan. Seiring berkembangnya langkah generasi muda mengekspresikan diri, tank top, camisole, cardigan, hingga sweatpants sekarang semakin sering muncul sebagai bagian dari penampilan sehari-hari.
Perubahan tersebut membikin pemisah antara busana dalam, busana rumah, dan busana untuk berjalan menjadi semakin tipis. Sebuah tank top, misalnya, tidak lagi terbatas sebagai lapisan pertama. Item nan sama dapat dikenakan berbareng cardigan untuk tampilan minimalis, dipadukan dengan T-shirt sebagai permainan layering, alias tampil sendiri sebagai pusat perhatian.
Kini, kegunaan sebuah busana tidak lagi semata-mata ditentukan oleh label kategorinya. Cara memadukan, konteks pemakaian, serta karakter orang nan mengenakannya justru menjadi aspek nan lebih menentukan.
Fenomena ini turut dibahas dalam peluncuran koleksi Uniqlo Lounge & Underwear Fall/Winter 2026 di Jakarta, kemarin. Mima Shafa dan Leticia Joseph datang membagikan pandangan mereka mengenai perubahan posisi loungewear dan underwear dalam style berpakaian masa kini.
Bagi keduanya, busana nyaman bukan lagi sesuatu nan kudu disembunyikan di kembali outfit utama. Loungewear justru dapat menjadi komponen individual style nan ekspresif, menyenangkan, dan mudah disesuaikan dengan beragam agenda.
Ketika “Baju Rumah” tak Lagi Punya Batas
Mima Shafa memandang perubahan besar dalam langkah masyarakat memperlakukan busana rumahan selama beberapa tahun terakhir. Menurut content creator nan dikenal sebagai salah satu representasi Gen Z tersebut, patokan tidak tertulis mengenai “baju rumah” dan “baju pergi” sekarang tidak lagi terlalu relevan.
Loungewear saat ini datang dengan desain, potongan, dan pilihan warna nan semakin menarik. Karena itu, banyak orang merasa sayang andaikan busana tersebut hanya digunakan untuk bersantai di rumah.
“Fashion dan style sekarang sudah nggak ada boundaries. Kadang kita pakai baju rumahan untuk jalan-jalan keluar juga,” kata Mima.
Ia mencontohkan tank top nan dapat difungsikan sebagai luaran serta sweatpants nan sekarang lazim dipakai untuk beraktivitas di luar rumah. Menurutnya, perubahan itu terjadi lantaran masyarakat semakin berani melakukan mix and match berasas kenyamanan dan preferensi pribadi, bukan sekadar mengikuti patokan berpakaian konvensional.
Cara berpakaian tersebut juga memperlihatkan bahwa kenyamanan tidak kudu berseberangan dengan penampilan nan stylish. Dengan kombinasi nan tepat, busana santuy tetap dapat terlihat rapi dan layak digunakan untuk berjumpa teman, bekerja secara kasual, membikin konten, hingga menghabiskan waktu di kafe.
Basic Pieces Menjadi Ruang Eksplorasi
Leticia Joseph mempunyai pengalaman berbeda dalam memahami pentingnya busana basic. Putri Sheila Marcia nan baru meraih gelar juara dalam kejuaraan model remaja tersebut mengaku sempat menganggap koleksi seperti T-shirt putih dan tank top sebagai pilihan nan membosankan.
Pada masa itu, banyaknya busana basic justru membuatnya merasa tidak mempunyai cukup pilihan untuk tampil menarik.
“Dulu saya bisa bilang ke mamaku, ‘Ma, Ticia nggak ada baju’, lantaran baju saya kebanyakan T-shirt putih dan tank top,” ujar Leticia.
Pandangan itu berubah ketika dia mulai memahami bahwa item sederhana justru memberikan keleluasaan lebih besar untuk bereksperimen. Pakaian basic dapat dikenakan berulang kali dengan pendekatan styling nan berbeda, tanpa membikin penampilan terasa sama.
Sebaliknya, busana nan sangat mengikuti tren terkadang hanya menarik dalam periode tertentu. Setelah tren berlalu, item tersebut berisiko semakin jarang dipakai.
Leticia sekarang menjadikan tank top, cardigan, dan busana basic lainnya sebagai fondasi lemari pakaiannya. Selain nyaman, pilihan tersebut mudah disesuaikan untuk beragam aktivitas, mulai dari berjalan-jalan, berkumpul berbareng teman, hingga membikin konten.
Perubahan langkah pandang ini memperlihatkan bahwa basic pieces bukan berfaedah minim karakter. Justru lantaran tampilannya sederhana, pemakainya mempunyai ruang lebih luas untuk menambahkan aksesori, memainkan warna, mencoba teknik layering, alias mengombinasikannya dengan siluet nan berbeda.
Tren Dayjamas dan Kebutuhan Berpakaian Praktis
Pergeseran kegunaan busana santuy juga tercermin dalam tren nan kerap disebut sebagai dayjamas. Istilah tersebut merujuk pada busana rumah nan ditata sedemikian rupa agar tetap terlihat presentable ketika dikenakan di luar rumah.
Marketing Manager UNIQLO Indonesia, Lisqia Lalantika, mengatakan konsumen saat ini semakin jarang menilai busana hanya berasas kategorinya. Pertimbangan mereka juga mencakup fleksibilitas, kenyamanan, serta kemungkinan styling nan dapat dihasilkan dari satu item.
“Kami memandang pemisah antara busana rumah, busana santai, dan busana untuk berjalan semakin memudar,” ujar Lisqia.
Menurutnya, generasi muda tetap menempatkan kenyamanan sebagai prioritas, tetapi tidak mau mengorbankan penampilan ketika menjalani aktivitas sehari-hari. Kebutuhan tersebut kemudian mendorong pengembangan busana nan dapat digunakan dalam lebih dari satu situasi.
Pendekatan itu diterapkan dalam koleksi UNIQLO Lounge & Underwear Fall/Winter 2026 melalui dua karakter utama, yakni Minimalist Classic dan Effortless Charm.
Minimalist Classic mengusung nuansa clean dan elegan melalui warna-warna netral, kreasi sederhana, serta potongan nan mudah dipakai dalam beragam kesempatan. Karakternya ditujukan bagi mereka nan menyukai wardrobe essentials dengan tampilan klasik dan tidak mudah kehilangan relevansi.
Sementara itu, Effortless Charm menawarkan pendekatan nan lebih muda dan playful. Warna nan lebih segar serta motif nan berani membuka ruang bagi pemakainya untuk mengeksplorasi style preppy nan lebih personal.
Kedua karakter tersebut memperlihatkan bahwa kenyamanan dapat diterjemahkan dengan langkah nan berbeda. Ada nan memilih tampilan tenang dan minimalis, sementara nan lain lebih nyaman bermain dengan warna dan motif.
Gaya Personal Lebih Penting daripada Sekadar Tren
Meski berasal dari latar dan fase usia nan berbeda, Mima Shafa dan Leticia Joseph mempunyai pandangan serupa mengenai style berpakaian. Keduanya menilai busana semestinya menjadi sarana untuk mengenali diri, bukan sekadar instrumen untuk mengejar tren.
Desain nan clean dan timeless justru dianggap lebih berbobot lantaran dapat terus digunakan, dipadukan, dan diterjemahkan dalam beragam gaya. Satu item dapat menghasilkan tampilan nan berbeda ketika dikenakan oleh orang nan berbeda.
Pada akhirnya, perkembangan loungewear bukan hanya berbincang mengenai busana rumahan nan mulai digunakan di ruang publik. Tren ini juga menandai perubahan nan lebih luas dalam industri fashion: konsumen semakin menghargai busana nan nyaman, adaptif, dan memberi kebebasan berekspresi.
Di tengah ritme aktivitas nan semakin dinamis, lemari busana tidak lagi kudu dipenuhi banyak item dengan kegunaan nan sangat spesifik. Beberapa busana dasar nan elastis justru dapat menjadi investasi gaya, digunakan di rumah, dibawa bepergian, dan ditata kembali sesuai suasana maupun kebutuhan. (Z-10)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·