Lomba Cerdas Cermat Empat Pilar MPR Latih Siswa Hadapi Soal Studi Kasus

Sedang Trending 39 menit yang lalu

Jakarta -

Lomba Cerdas Cermat (LCC) Empat Pilar MPR RI 2026 tingkat nasional tak sekadar menguji mahfuz siswa tentang materi kebangsaan. Kompetisi ini juga dirancang untuk melatih keahlian berpikir kritis, bernalar, berinovasi, hingga menerapkan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari.

Sebanyak 38 sekolah tingkat SMA/SMK alias sederajat dari 38 provinsi mengikuti babak penyisihan Grand Final LCC Empat Pilar MPR RI 2026 tingkat nasional. Babak penyisihan digelar di Gedung Nusantara IV, Kompleks Parlemen, Jakarta, Senin (24/8/2026).

Babak penyisihan tersebut turut menghadirkan majelis juri, ialah Dosen Ilmu Hukum Universitas Trisakti Ninuk Wijiningsih, Lektor Kepala Fakultas Hukum Universitas Pancasila Ricca Anggraeni, serta Dosen Fakultas Hukum UPN Veteran Jakarta Rianda Dirkareshza.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ketua Badan Sosialisasi MPR RI, Abraham Liyanto, mengapresiasi penyelenggaraan hari pertama babak penyisihan nan berjalan dengan baik dan lancar. Menurutnya, seluruh peserta dari beragam wilayah menunjukkan semangat dan antusiasme nan sama dalam mengikuti kompetisi.

"Karena 38 provinsi, kita lihat semangat mereka tetap sama seperti kemarin. Saya berterima kasih lantaran panitia dan sekretariat sudah bisa menghasilkan enam pertandingan full, dan mereka juga punya waktu istirahat," ujar Abraham, dalam keterangan tertulis (25/8/2026).

Abraham menegaskan, substansi utama LCC Empat Pilar MPR RI bukan sekadar menguji hafalan, melainkan membangun keahlian siswa untuk berpikir, bernalar, dan menemukan solusi atas persoalan nan diberikan.

Menurutnya, perihal tersebut terlihat dari materi soal nan menggunakan pendekatan studi kasus. Peserta tidak cukup hanya mengetahui jawaban, tetapi kudu memahami persoalan secara menyeluruh sebelum menentukan pilihan nan tepat berasas norma dan nilai-nilai kebangsaan. Hal ini sebagaimana ditegaskan oleh Abraham mengenai prinsip utama dari kejuaraan tersebut.

"Lomba ini tidak sekadar menghafal, tapi gimana mereka dilatih untuk bisa berinovasi, berpikir, untuk menjawab studi kasus," katanya.

Ia menjelaskan, soal berbasis studi kasus memberikan tantangan tersendiri bagi peserta lantaran memerlukan ketelitian dan keahlian menganalisis. Peserta nan terburu-buru menjawab justru dapat melakukan kesalahan meskipun mempunyai keahlian menghafal materi dengan baik. Ia menilai tantangan ini menjadi daya tarik tersendiri nan membikin kejuaraan semakin berkualitas.

"Kalau hafal semua sudah bisa. Tapi jika studi kasus, panjang soalnya, dia kasih naik-turun. Ada nan sigap justru salah. Nah, itu nan menarik. Jadi saya kira berkualitas," lanjutnya.

Menurut Abraham, metode tersebut menjadi salah satu langkah efektif untuk menanamkan nilai-nilai Pancasila kepada generasi muda. Melalui kompetisi, para siswa didorong untuk membaca, memahami aturan, menganalisis persoalan, sekaligus menghubungkannya dengan nilai-nilai kebangsaan.

Ia menilai, proses tersebut membikin pemahaman peserta terhadap Empat Pilar MPR RI semakin mendalam. Bahkan, dalam aspek tertentu, penguasaan mereka terhadap materi kebangsaan dapat melampaui sebagian orang dewasa lantaran para peserta terbiasa mempelajari dan mendalami persoalan melalui proses kompetisi.

Abraham juga menekankan bahwa tantangan pendidikan Pancasila saat ini bukan lagi sekadar memperkenalkan Pancasila kepada generasi muda, tetapi memastikan nilai-nilai tersebut betul-betul dipahami dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Menurutnya, nilai toleransi, keadilan sosial, penghormatan terhadap perbedaan, dan kehidupan berbareng tetap perlu terus diperkuat.

"Pancasila ini sudah banyak, sudah lama semua ini. Tapi kok toleransi tetap belum seperti nan kita harapkan. Kemudian keadilan sosial tetap belum nan kita harapkan. Nah, itulah, ditanamkan kembali sekarang," sambungnya.

Abraham mengatakan pentingnya penguatan pendidikan nilai-nilai Pancasila secara berkepanjangan sejak usia awal hingga perguruan tinggi. Sikap saling hidup bersama, menghargai perbedaan, disiplin, alim aturan, dan bertanggung jawab atas kepedulian sosial perlu ditanamkan serta dibiasakan sejak kecil.

Badan Sosialisasi MPR RI berkomitmen melipatgandakan partisipasi sekolah dalam LCC Empat Pilar di masa mendatang. Capaian tahun ini sendiri sudah menembus sekitar 4.000 sekolah, alias separuh dari total 8.000 sekolah nan menjadi sasaran program.

Abraham berambisi program tersebut tidak berakhir sebagai aktivitas seremonial tahunan, tetapi dapat dikembangkan melalui kerjasama dengan kementerian/lembaga dan pemerintah wilayah sehingga pendidikan Pancasila melalui LCC dapat menjangkau lebih banyak sekolah dan siswa di seluruh Indonesia.

"Kalau kita menginginkan NKRI ini tetap tetap nilai meninggal dan roh pengikatnya, Pancasila, tetap ada, itu sudah oke," pungkasnya.

Sebanyak 20 sekolah langsung menunjukkan performa terbaiknya di hari pertama penyisihan nan terbagi dalam enam pertandingan. Dari persaingan ketat tersebut, enam sekolah sukses keluar sebagai juara grup dan melenggang ke babak semifinal.

Keenam sekolah tersebut ialah Sekolah Kristen Kalam Kudus Selat Panjang Provinsi Riau, SMAN Tugumulyo Provinsi Sumatera Selatan, SMAN 1 Tanjung Selor Provinsi Kalimantan Utara, SMAN 2 Katingan Kuala Provinsi Kalimantan Tengah, MAN Insan Cendekia Bangka Tengah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, dan SMAN 1 Sambas Provinsi Kalimantan Barat.

Kegiatan tersebut dihadiri Anggota Badan Sosialisasi MPR RI Saiful Nuri dan Hj. Evi Apita Maya, Kepala Biro Persidangan dan Pemasyarakatan Konstitusi Wachid Nugroho, Kepala Biro SDM, Organisasi dan Hukum Agus Subagyo, Kepala Biro Umum Herry Putra, serta Inspektur Setjen MPR RI Anies Mayangsari Muninggar.

(akn/ega)

Selengkapnya
Sumber Detik News
Detik News