Jakarta -
Lima teknologi canggih dioperasikan PT Kereta Api Indonesia (Persero) dalam ekosistem perkeretaapian di tanah air. Mulai dari lokomotif diesel, kereta rel listrik alias KRL, kereta rel diesel dan listrik atau, LRT dengan sistem operasi otomatis, hingga kereta sigap dengan kecepatan operasional 350 kilometer per jam.
Keberagaman teknologi tersebut mendukung KAI Group dalam melayani 258.993.359 pengguna sepanjang Semester I 2026. Pada periode nan sama, KAI juga melayani 32.498.043 ton barang, terdiri atas 26.534.095 ton batu bara dan 5.963.948 ton komoditas non-batu bara.
Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba mengatakan, setiap teknologi mempunyai karakter operasional, sumber tenaga, sistem pengendalian, serta pola perawatan nan berbeda.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Perbedaan teknologi tersebut dikelola melalui standar keselamatan, keandalan, kompetensi pekerja, dan disiplin operasi nan konsisten. Tujuannya sama, ialah memastikan setiap perjalanan berjalan aman, tepat waktu, andal, dan nyaman bagi pelanggan," ujar Anne dalam keterangan tertulis, Jumat (24/7/2026).
Apa saja teknologi nan dioperasikan KAI? Berikut ini rangkumannya:
1. Lokomotif Diesel
Teknologi lokomotif diesel menjadi penggerak utama jasa kereta api antarkota, lokal, wisata, dan barang. Pada Semester I 2026, jasa KA Jarak Jauh dan Lokal KAI melayani 29.858.267 pelanggan, meningkat 8,72% dibandingkan Semester I 2025 sebanyak 27.463.555 pelanggan.
Lokomotif diesel juga mendukung pengedaran beragam komoditas melalui jasa kereta api peralatan di Jawa dan Sumatra. Sepanjang Semester I 2026, KAI melayani 32,50 juta ton peralatan untuk mendukung rantai pasok sektor energi, industri, perkebunan, peti kemas, bahan bakar minyak, semen, dan komoditas lainnya.
Pada segmen wisata, KAI Wisata melayani 164.743 pelanggan, meningkat 64,45% dibandingkan 100.176 pengguna pada periode nan sama tahun sebelumnya. Peningkatan tersebut didukung beragam pilihan perjalanan, mulai dari kereta wisata, kereta panoramic, kereta istimewa, hingga jasa perjalanan berbasis kereta api lainnya.
2. KRL
Untuk mobilitas perkotaan, teknologi KRL dan sarana commuter mendukung KAI Commuter dalam melayani 204.151.200 pelanggan, meningkat 6,58% dibandingkan Semester I 2025 sebanyak 191.540.583 pelanggan.
Layanan tersebut menjadi penyumbang volume pengguna terbesar KAI Group dengan cakupan Jabodetabek, Bandung, Yogyakarta-Solo, Surabaya, Merak-Rangkasbitung, serta sejumlah wilayah lainnya.
3. KRDE
Sementara itu, teknologi kereta rel diesel dan listrik (KRDE) mendukung jasa regional dan konektivitas bandara. KAI Bandara melayani 3.482.897 pelanggan, meningkat 0,99% dibandingkan 3.448.622 pengguna pada Semester I 2025. KA Makassar-Parepare melayani 172.011 pelanggan, meningkat 15,42% dibandingkan 149.035 pelanggan.
4. Operasi Otomatis
Pada teknologi operasi otomatis, LRT Jabodebek menggunakan sistem persinyalan berbasis komunikasi dengan tingkat otomatisasi Grade of Automation 3 alias GoA3. Sistem tersebut memungkinkan pengaturan kecepatan, jarak antarrangkaian, pemberhentian, serta perjalanan dilakukan secara otomatis dan dipantau melalui pusat kendali operasi.
Sepanjang Semester I 2026, LRT Jabodebek melayani 16.018.911 pelanggan, meningkat 22,84% dibandingkan periode nan sama pada 2025 sebanyak 13.040.403 pelanggan. Adapun LRT Sumsel melayani 2.206.496 pengguna pada periode nan sama.
5. Kereta Cepat
Pada jasa berkecepatan tinggi, kereta sigap alias dikenal dengan Whoosh menggunakan rangkaian nan mempunyai kecepatan operasional hingga 350 kilometer per jam. Sepanjang Semester I 2026, Whoosh melayani 2.938.834 pelanggan, meningkat 0,08% dibandingkan 2.936.578 pengguna pada Semester I 2025. Anne mengatakan, capaian tersebut menunjukkan setiap teknologi mempunyai peran sesuai karakter mobilitas masyarakat.
(hal/hns)
1 hari yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·