Surabaya, CNN Indonesia --
Pihak manajemen PT Great Wall Steel (GWS) di Kecamatan Waru, Kabupaten Sidoarjo, memberikan penjelasan resmi mengenai insiden ledakan nan terjadi di area pabrik pelebur baja tersebut pada Senin (6/4).
HRD & General Affair (GA) PT GWS, Heri Prasetyo mengatakan, ledakan bermulai saat petugas di bagian scrap yard alias lapangan terbuka melakukan pemotongan besi tua (scrap) nan dikirim oleh penyuplai.
Perusahaan menegaskan bahwa seluruh proses operasional termasuk pemotongan besi tua telah dilakukan sesuai dengan standar prosedur operasional (SOP) dan patokan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) nan berlaku.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Sebenarnya kan kita sudah punya SOP. Kita sudah punya ISO juga, kita punya ini, kita juga ada K3 juga. Tapi nan jelas makanya barang-barang nan sifatnya seperti itu kan kita taruh di luar ya, di scrap yard jadi di lapangan terbuka," kata Heri saat ditemui di lokasi, Senin (6/4) malam.
Heri menambahkan, saat kejadian, para pekerja nan berada di letak telah menggunakan perlengkapan pengamanan sesuai standar.
Ia pun meyakini penerapan K3 nan ketat menjadi argumen kenapa dua pekerja nan melakukan pemotongan dan nan berada paling dekat dengan titik ledakan tidak mengalami luka nan fatal.
Sebaliknya, kata dia, korban nan mengalami luka berat hingga meninggal bumi posisinya justru lebih jauh. Ia diduga tewas akibat terkena pentalan material ledakan.
"Intinya mereka nan di dekat nan ini kok tidak tidak separah, minta maaf, almarhum itu loh. Tapi nan jelas dua orang nan lagi bekerja di letak ini tidak mengalami kejadian nan separah beliaunya. Jadi konklusi awal kami ya mungkin dia sudah sesuai dengan keselamatan K3," ucapnya.
Korban jiwa kejadian ini, kata dia, merupakan seorang kenek truk ekspedisi eksternal. Posisi korban saat itu berada di jarak aman, sekitar 50 meter dari pusat ledakan, dan tengah beristirahat di luar area pengerjaan.
"Keneknya ini nan posisinya kurang lebih lebih dari 50 meter dari jarak kejadian itu nan tanpa diduga dia terkena serpihannya ya dari nan tabung alias besi nan pangkas tadi itu terkena di bagian tubuhnya," ucapnya.
Heri mengatakan, manajemen juga menyatakan tidak ada kerusakan berfaedah pada bangunan, akomodasi maupun mesin pabrik akibat ledakan tersebut.
Sementara, pihak kepolisian dari tim Gegana dan Inafis juga telah melakukan olah TKP awal. Berdasarkan analisa sementara, ledakan tersebut dipastikan bukan berasal dari bahan peledak militer alias bom.
"Dari pihak kepolisian menyampaikan, 'Kalau itu dari peledak militer, maka bakal terjadi kerusakan ataupun apapun di sekitar itu.' Tapi nan jelas di sekitar kami tidak ada kerusakan sama sekali baik dari gedung maupun alat-alat nan ada di sekitar kejadian," katanya.
Sebelumnya, sebuah ledakan keras terjadi di area industri peleburan baja PT Great Wall Steel (GWS) di Kecamatan Waru, Kabupaten Sidoarjo, Senin (6/4) sore.
Kapolresta Sidoarjo Kombes Christian Tobing mengatakan berasas penyelidikan sementara, kejadian maut tersebut bermulai saat sejumlah pekerja tengah melakukan aktivitas pemotongan material logam.
"Kejadiannya di PT GWS Kecamatan Waru. Kronologinya itu ada dua orang nan melakukan pemotongan atas nama P dan J. Kemudian pada saat pemotongan besi tua menggunakan las blender itu ada terjadi ledakan dari las besi itu," kata Christian saat dikonfirmasi.
Sementara itu seorang kernet alias kenek truk eksternal dilaporkan meninggal bumi akibat diduga terkena serpihan ledakan.
"Kemudian ada korban atas nama inisial R, meninggal dunia," lanjutnya.
Untuk memastikan penyebab pasti ledakan serta unsur keamanan di letak proyek, tim campuran dari Polresta Sidoarjo dan Polsek setempat telah diterjunkan. Selain itu, tim Penjinak Bom (Jibom) Gegana Polda Jatim juga didatangkan ke letak untuk melakukan identifikasi dan olah Tempat Kejadian Perkara (TKP).
(frd/isn)
Add
as a preferred source on Google
[Gambas:Video CNN]
1 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·