Liputan6.com, Makkah - Pelaksana Layanan Bimbingan Ibadah Daerah Kerja (Daker) Makkah Arief Rahman menegaskan larangan bagi jemaah haji Indonesia untuk melakukan city tour ke luar Kota Makkah.
Kebijakan ini merujuk pada patokan Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) nan membatasi mobilitas jemaah menjelang rangkaian puncak ibadah haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina namalain Armuzna.
Arief menjelaskan, ketentuan tersebut diterapkan untuk menjaga kondisi bentuk jemaah agar tetap prima. "Ziarah (ke) luar Makkah itu dilarang lantaran bakal menguras tenaga dan mengganggu kesehatan jemaah, terutama dengan jarak dan waktu tempuh nan tidak sebentar,” katanya di Makkah, Selasa, 5 Mei 2026.
Ia menambahkan, perjalanan jarak jauh juga dapat mengganggu konsentrasi ibadah jemaah. Menurutnya, tenaga jemaah perlu diprioritaskan untuk persiapan puncak haji.
"Itu sudah dipastikan bakal mengurangi konsentrasi dan tenaga jemaah, sehingga kita kudu berkonsentrasi menghadapi wukuf di Arafah," ujar Arief.
Dia menyebut, kunjungan di area sekitar Makkah tetap diperbolehkan selama tidak membebani bentuk jemaah. Aktivitas tersebut dinilai tetap kondusif lantaran jaraknya relatif dekat dan tidak mengganggu persiapan ibadah utama.
Utamakan Keselamatan dan Kesehatan Jemaah
Arief menegaskan, seluruh pembinaan ibadah tetap mengutamakan keselamatan dan kesehatan jemaah. Sebagai bagian dari itu, jasa Bimbingan Ibadah Daker Makkah menginisiasi program visit dan edukasi (visduk).
"Visduk merupakan rangkaian aktivitas pembinaan, supervisi, dan edukasi nan dijalankan Daker Makkah, khususnya oleh para pembimbing ibadah," terang dia.
Arief mengatakan, Daker Makkah membawahi sekitar 10 sektor jasa ditambah satu sektor khusus, dan setiap sektor mempunyai pembimbing ibadah nan bekerja di lapangan. Melalui struktur tersebut, visduk berfaedah sebagai sistem pengawasan terhadap penyelenggaraan pengarahan dan edukasi di setiap sektor.
"Alur pengawasan tidak berakhir di tingkat sektor, tapi bersambung hingga ke kloter jemaah. Sistem ini memungkinkan mereka memantau secara langsung sejauh mana program pembinaan ibadah betul-betul diterima oleh jemaah," kata dia.
Visduk Cakup Beberapa Aspek Layanan
Arief menegaskan, visduk mencakup beragam aspek layanan, mulai dari fikih ibadah haji, teknis perjalanan, hingga pengelolaan jemaah di lapangan. Seluruh proses dirancang agar jasa tidak hanya berfokus pada ibadah, namun juga kebutuhan operasional jemaah selama di Tanah Suci.
Program ini juga memasukkan sejumlah kurikulum jasa nan lebih luas, termasuk kesehatan, akomodasi, konsumsi, transportasi, serta penanganan golongan rentan, seperti lansia dan penyandang disabilitas. Seluruh kategori jemaah dipastikan memperoleh pendampingan nan setara dalam pengarahan ibadah.
Namun dia mengakui, ragam akomodasi hotel menjadi tantangan dalam penyelenggaraan program, terutama mengenai perbedaan kapabilitas musala dan ruang pembinaan. Tapi, kondisi tersebut tidak menghalang penyelenggaraan pengarahan lantaran sektor menyesuaikan metode di lapangan.
Untuk menjangkau seluruh jemaah, petugas memanfaatkan beragam media pembelajaran, termasuk pertemuan langsung di musala, serta siaran daring.
"Jemaah juga mendapatkan jasa pengarahan melalui media Zoom di bilik masing-masing," tandas Arief.
4 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·