Seekor hiu tutul alias hiu paus terdampar di area Pantai Cemara Sewu, Desa Bunton, Kecamatan Adipala, Kabupaten Cilacap .(MI/Lilik Darmawan-HO)
SEEKOR hiu tutul alias hiu paus (rhincodon typus) kembali ditemukan terdampar di area Pantai Cemara Sewu, Desa Bunton, Kecamatan Adipala, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, Senin (22/6) pagi.
Satwa laut dilindungi tersebut sempat ditemukan dalam kondisi hidup sebelum akhirnya dinyatakan meninggal sekitar satu jam kemudian.
Pegiat Konservasi Laut Kabupaten Cilacap, Jumawan, mengungkapkan dirinya menerima info mengenai hiu terdampar dari penduduk setempat sekitar pukul 06.30 WIB.
Sebelumnya, dia baru saja menyelesaikan patroli rutin di sepanjang pesisir dari Pantai Jetis hingga Pantai Sodong, serta bersiaga di Pantai Srandil sejak pukul 06.00 WIB.
"Sekitar pukul 06.30 WIB saya mendapat telepon dari penduduk Desa Bunton nan melaporkan adanya hiu tutul terdampar di Pantai Cemara Sewu," kata Jumawan.
KRONOLOGI DAN KONDISI HIU
Mendapat laporan tersebut, Jumawan segera bergegas menuju letak kejadian. Saat dia tiba di Pantai Cemara Sewu, mamalia laut bertubuh besar tersebut didapati tetap bernapas.
"Ketika saya sampai, mulutnya tetap terbuka dan insangnya tetap bergerak. Namun sekitar satu jam kemudian hiu tersebut mati," ujarnya.
Berdasarkan pengamatan awal di lapangan, hiu tutul nan terdampar ini mempunyai ukuran nan cukup masif, dengan panjang berkisar antara lima hingga enam meter dan perkiraan berat mencapai 1,2 ton.
"Ukuran hiu cukup besar, panjangnya diperkirakan lima sampai enam meter dan beratnya sekitar 1,2 ton," kata Jumawan.
Selain ukurannya nan besar, petugas di lapangan juga menemukan adanya kelainan bentuk pada bagian atas tubuh satwa tersebut. "Terdapat jejak luka lama alias jejak parasit di bagian kepala," ujarnya.
LAMPU NELAYAN
Mengenai penyebab pasti terdamparnya hiu tutul tersebut, Jumawan menduga ada beberapa aspek nan memicu. Salah satunya adalah kemungkinan satwa tersebut terlalu dekat ke daratan saat berburu makanan, sehingga terjebak pasang surut air laut dan kesulitan kembali ke perairan dalam.
Namun, dia juga tidak menutup kemungkinan adanya pengaruh eksternal dari aktivitas manusia di koridor laut selatan Cilacap.
Salah satu asumsi kuat adalah penggunaan lampu berintensitas tinggi oleh para nelayan pencari benur (benih cerah lobster) pada malam hari, nan diduga mengganggu sistem navigasi alami hiu.
"Dugaannya, hiu terlalu ke pinggir saat mencari makan. Ada juga kemungkinan sinar terang dari aktivitas nelayan pencari benur membikin hiu kehilangan arah," katanya.
Saat ini, buntang hiu tutul tersebut telah ditangani oleh pihak terkait. Tim dari lembaga berkuasa berbareng tenaga kedokteran hewan telah diterjunkan ke letak untuk melakukan nekropsi dan pemeriksaan lebih lanjut guna memastikan penyebab utama kematian satwa.
Peristiwa ini menambah panjang daftar terdamparnya mamalia laut di pesisir selatan Jawa. Sebelumnya, pada Mei lalu, tercatat ada dua ekor hiu tutul nan juga ditemukan meninggal setelah terdampar di wilayah perairan nan sama. (LD/P-2)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·