Kutukan "si Paling Ambis": Kenapa Pelajar Lebih Memilih Terlihat Santai?

Sedang Trending 1 jam yang lalu
Ilustrasi pelajar nan menghindari cap "si paling ambis". Generated by AI (ChatGPT)

Pernahkah Anda memandang kawan nan mengaku "belum belajar" di grup chat, tapi ujung-ujungnya mendapat nilai ujian nyaris sempurna? Selamat datang di realitas pendidikan masa kini. Saat ini, siswa nan tekun sangat mudah ditempeli label "si paling ambis" sebuah julukan bersuara hinaan nan membikin mereka merasa bersalah atas dedikasinya.

Dalam kacamata sosiologi, keengganan untuk terlihat giat ini bukanlah sekadar masalah psikologis individu. Perilaku menyembunyikan upaya keras telah menjadi sebuah bangunan dan realitas sosial. Lantas, kenapa tampil "santai" seolah menjadi tanggungjawab sosial di sekolah alias kampus?

Panggung Sandiwara dan Manajemen Kesan (Dramaturgi)

Fenomena pura-pura tidak belajar ini bisa dijelaskan lewat teori Dramaturgi dari sosiolog Erving Goffman. Goffman memandang hubungan sosial layaknya pagelaran teater. Pelajar membagi hidupnya menjadi dua: sekolah adalah "panggung depan" (front stage) di mana mereka kudu tampil santuy dan asyik, sementara rumah adalah "panggung belakang" (back stage) tempat mereka belajar mati-matian tanpa dilihat orang. Mengapa mereka kudu bersandiwara?

Goffman menjelaskan: "Ketika seorang perseorangan tampil di hadapan orang lain, dia bakal mengatur aktivitasnya sedemikian rupa untuk menyampaikan sebuah kesan nan sejalan dengan kepentingannya." Demi mempertahankan kesan sebagai anak gaul nan tidak kaku, pelajar merasa wajib menyembunyikan sisi pekerja keras mereka dari penontonnya (teman-teman sekelas).

Subkultur Remaja nan Menghukum Ambisi

Mengapa kesan "santai" nan dituntut oleh lingkungan? Sosiolog James S. Coleman dalam riset klasiknya menemukan bahwa pergaulan siswa membentuk sebuah subkultur nan nilai-nilainya sering kali berbenturan dengan nilai akademik. Dalam bukunya, Coleman menegaskan: "Subkultur remaja memberikan tarikan nan sangat kuat, mengalihkan daya anggota-anggotanya menjauh dari tujuan-tujuan pendidikan."

Di dalam subkultur ini, ketenaran lebih dihargai daripada kecerdasan. Siswa nan terlalu giat dianggap sebagai "penyimpang" (deviant) nan merusak ritme santuy kelompok, sehingga mereka kudu menurunkan standar kecerdasannya agar bisa diterima.

Label "Ambis" Sebagai Alat Kontrol Sosial

Lebih jauh lagi, cibiran seperti "si paling ambis" alias "cari muka" bukanlah sekadar hinaan biasa. Dalam sosiologi, ini adalah bentuk Kontrol Sosial Informal. Tujuannya agar perseorangan nan terlalu menonjol kembali tunduk pada standar rata-rata kelompok.

Sosiolog Peter L. Berger menjelaskan dinamika ini dengan sangat akurat: "Cemoohan dan rumor adalah instrumen kontrol sosial nan paling kuat di dalam golongan primer (pergaulan) dari segala jenis." Melalui hinaan itulah, sebuah lingkungan secara paksa menebang siswa-siswa berprestasi agar turun sejajar, mematikan inspirasi, dan mencetak generasi nan berlomba-lomba menjadi medioker.

Menjadi "si paling ambis" bukanlah sebuah kutukan. Tekanan konformitas dan kontrol sosial nan doyan menjatuhkan ini kudu dipatahkan. Memiliki ambisi adalah kewenangan nan membanggakan. Mulailah berani meruntuhkan panggung sandiwara tersebut, lantaran kesuksesan masa depanmu ditentukan oleh kompetensimu sendiri, bukan oleh pengesahan dari kawan tongkrongan nan menyuruhmu untuk sekadar "santai saja".

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan