Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) bakal menggelar rapat membahas akibat pelemahan kurs rupiah terhadap subsidi energi. Nilai tukar rupiah terhadap dolar terus melemah hingga menyentuh level Rp 17.500.
Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Dirjen Migas) ESDM Laode Sulaeman mengatakan, rapat tersebut melibatkan Menteri ESDM Bahlil Lahadalia berbareng jejeran menteri lain. Kendati begitu, dia tidak menjelaskan kapan rapat tersebut dilaksanakan.
"Itu kebetulan Pak Menteri sama jejeran menteri-menteri sedang merapatkan perihal tersebut ya. Jadi kita tunggu aja," ungkapnya saat ditemui di instansi Kementerian ESDM, Rabu (13/5).
Laode belum bisa memastikan apakah ada kemungkinan perubahan nilai BBM bersubsidi dibahas dalam rapat tersebut. Pasalnya, info terakhir pemerintah tidak bakal mengubahnya hingga akhir tahun ini.
"Belum ada info-info lain lagi kan, selain nan ada sekarang. Jadi kita lihat perkembangan berikutnya aja nanti," tegasnya.
Di sisi lain, Laode juga menegaskan bahwa dari sisi pasokan daya saat ini tidak ada masalah, baik itu bensin, solar, maupun LPG, meskipun perang di Timur Tengah tetap memanas.
"Saya tiap hari macet di jalan, tapi di negara lain ada nan sudah jalan kaki gitu ya. Artinya di kita tetap cukup, persediaan tetap tersedia, baik itu untuk BBM, bensin, solar maupun LPG," ungkap Laode.
Pihak Kementerian ESDM, lanjut dia, selalu konsentrasi menjamin kesiapan bahan bakar setiap harinya agar kebutuhan masyarakat tetap terpenuhi.
"Pak Menteri kan jika ditanya tuh beliau menceritakan bahwa kita setiap hari itu kadang kudu begadang-begadang untuk ngejar stok itu biar sesuai. Itu nan kita lakukan biar masyarakat tetap bisa terlayani," tutur Laode.
Impor Minyak dari Afrika
Laode juga menjelaskan impor minyak mentah dipenuhi dari negara nan tidak melewati Selat Hormuz, utamanya dari negara Afrika seperti Nigeria dan Angola.
Kendati demikian, dia tidak bisa membeberkan berapa besar kenaikan volume impor minyak mentah dari negara-negara tersebut, nan memang sudah melangkah secara business to business (B2B) apalagi sebelum ada eskalasi perang AS-Israel dengan Iran.
"Kita dari Nigeria, negara-negara Afrika seperti itu. Jadi sumber-sumber lain non-Selat Hormuz. Sudah jalan. Kayak contohnya crude sudah dari Nigeria kan ada crude. Saya enggak bicara volume tapi dari sumber-sumber lain kita sudah dapatkan," tutur Laode.
Selain itu, Laode juga menyebut rencana impor minyak mentah dari Rusia tetap dalam pembahasan, namun kesepakatannya bakal berbentuk government to government (G2G).
"Ini juga sedang disiapkan agar kita segera bisa mengimplementasikannya. Ya ini lagi dibahas kan, salah satunya kelak formatnya itu adalah G2G," tuturnya.
46 menit yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·