Tingginya kasus kecelakaan di jalan raya tak bisa dipandang sederhana sebagai sistem lalu lintas nan error. Pakar dan pengamat sepakat, setiap kejadian nan terjadi adalah akumulasi dari kesadaran dan pemahaman keselamatan masyarakat nan banget rendah.
Dewan Penasihat Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Pusat, Djoko Setijowarno menekankan pentingnya menumbuhkan budaya keselamatan berlalu lintas sejak dini. Karena menurutnya, Indonesia selama ini hanya melakukan pendekatan administratif.
"Pentingnya mengintegrasikan pendidikan keselamatan lampau lintas ke dalam kurikulum di Indonesia. Alasan esensial kenapa kurikulum ini menjadi sangat krusial di Indonesia," buka Djoko kepada kumparan.
Dirinya menambahkan, untuk mengubah perilaku alias kebiasaan masyarakat tidak bisa dilakukan instan. Apalagi hanya mengandalkan upaya penindakan nan berkarakter prosedural alias formil, contohnya seperti tilang.
"Kalau masuk ke dalam kurikulum sekolah, etika berlalu lintas dipandang sebagai bagian dari norma sosial dan karakter bangsa, bukan sekadar ketakutan pada denda. Anak-anak nan telah teredukasi bisa jadi pengingat untuk orang tua dan sanak keluarganya," imbuh Djoko.
Djoko bilang, materi keselamatan berlalu lintas tidak selalu berdiri sendiri. Ia dapat diintegrasikan dengan kurikulum alias disiplin pengetahuan lainnya, seperti soal matematika untuk menghitung jarak pengereman alias fisika untuk mengetahui momentum dan style gesek.
"Pemanfaatan akomodasi praktik agar siswa dapat merasakan simulasi berkendara nan kondusif tanpa akibat nyata. Diperlukan kerja sama antara Kementerian Pendidikan, Kementerian Perhubungan, dan Kepolisian untuk memastikan materi nan diajarkan relevan dengan kondisi lapangan," terangnya.
Lebih lanjut, beberapa negara maju nan mempunyai penerapan keselamatan berlalu lintas nan tinggi dapat menjadi panutan bagi Indonesia. Misalnya Belanda dengan Verkeersexamen, Jepang dengan Omoiyari, alias Jerman dengan Verkehrserziehung.
"Pendidikan keselamatan lampau lintas di mancanegara umumnya tidak hanya berfokus pada pengenalan rambu, tetapi telah diintegrasikan ke dalam kurikulum sekolah dan pembentukan karakter sejak usia dini. Pendekatannya sering kali menggabungkan aspek psikologi, prasarana nan mendukung pembelajaran, serta penegakan norma nan ketat," ujar Djoko.
Tanpa kurikulum nan kuat, upaya perbaikan prasarana jalan nan masif di Indonesia tidak bakal memberikan akibat maksimal, lantaran aspek manusia (human error) tetap menjadi penyebab utama kecelakaan.
"Melalui edukasi nan terstruktur, kita tidak hanya mencetak pengguna jalan nan cerdas, tetapi juga penduduk negara nan mempunyai empati dan rasa tanggung jawab tinggi di ruang publik," pungkas Djoko.
1 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·