Kunjungan Trump ke Tiongkok Perlihatkan Tekanan Krisis Ekonomi ke AS

Sedang Trending 4 bulan yang lalu
Kunjungan Trump ke Tiongkok Perlihatkan Tekanan Krisis Ekonomi ke AS Donald Trump dan Xi Jinping.(Al Jazeera)

SATU tahun setelah kunjungan kenegaraan nan penuh kemegahan di Timur Tengah, Presiden Donald Trump kembali melakukan perjalanan diplomatik besar ke Tiongkok. Namun, kali ini suasana jauh berbeda. Trump tiba di Beijing di tengah tekanan domestik akibat inflasi nan melonjak, penurunan tingkat kepuasan publik, dan bentrok militer dengan Iran nan kian memanas.

Pergeseran Dinamika: Dari Ofensif ke Defensif

Berbeda dengan kunjungannya ke Arab Saudi setahun lampau nan diwarnai deklarasi besar tentang peran Amerika di dunia, pertemuan di Beijing kali ini berjalan lebih umum dan kaku. Presiden Xi Jinping menyambut Trump dengan rasa hormat tetapi tetap menunjukkan sikap tegas, terutama mengenai prioritas strategis Tiongkok.

Trump datang dengan angan besar untuk mengamankan kesepakatan jual beli guna mendongkrak ekonomi AS. Namun, Xi Jinping justru mengalihkan konsentrasi pada rumor Taiwan.

Pemimpin Tiongkok tersebut memperingatkan ada potensi bentrok dan konflik jika perselisihan mengenai pulau tersebut tidak dikelola dengan baik. Ia menempatkan rumor kedaulatan di atas investasi ekonomi.

Hasil Diplomasi nan Minim Detail

Kunjungan ini berhujung dengan hasil nan dianggap mengecewakan oleh pasar. Saham Boeing mencatat penurunan sebesar 8 persen selama periode kunjungan Trump di Beijing.

Meskipun Trump menyatakan kegembiraannya lantaran para pelaksana upaya AS dapat berjumpa langsung dengan Xi, tidak banyak bukti konkret mengenai transaksi besar nan dihasilkan. Beberapa poin utama dari hasil pertemuan tersebut meliputi:

  • Rencana kunjungan Xi Jinping ke Gedung Putih pada September mendatang.
  • Pembahasan mengenai pembukaan kembali Selat Hormuz nan terganggu akibat bentrok Iran.
  • Ketidakpastian mengenai paket senjata senilai US$14 miliar untuk Taiwan nan tetap tertahan di pemerintahan Trump.

Kutipan Trump: "Saya tidak meminta support apa pun, lantaran ketika Anda meminta bantuan, Anda kudu memberikan support sebagai imbalannya. Kita tidak butuh bantuan," ujar Trump kepada wartawan di Air Force One mengenai pembicaraan soal Iran dengan Tiongkok.

Taiwan dan Visi Baru Amerika

Sikap Trump terhadap Taiwan menunjukkan pergeseran dari doktrin tradisional AS. Ia mengisyaratkan kurangnya minat untuk mengikuti preseden era 1980-an (era Ronald Reagan). "Perang sejauh 9.500 mil adalah perihal terakhir nan kita butuhkan saat ini," katanya.

Para analis di Tiongkok memandang ini sebagai bagian dari visi Trump untuk mengubah Amerika Serikat dari hegemon unipolar menjadi negara bangsa biasa nan mempunyai bayang-bayang lebih mini di panggung global. "Dia mau mengubah hubungan AS dengan seluruh bumi secara esensial dan dia bersedia bayar harganya," ujar Da Wei, kepala Pusat Keamanan dan Strategi Internasional di Universitas Tsinghua.

Tantangan Struktural nan Tersisa

Meskipun pertemuan itu menjaga pintu perbincangan tetap terbuka untuk menstabilkan hubungan dalam beberapa bulan ke depan, ketegangan struktural nan mendalam tetap ada. Tiongkok sekarang tampak lebih proaktif dan memegang kendali dalam membentuk hubungan bilateral, menyadari bahwa kebijakan tekanan ekonomi (tarif) nan diterapkan AS sebelumnya tidak selalu membuahkan hasil.

Dengan konsentrasi Trump nan sekarang terbagi oleh krisis di Iran dan ekonomi domestik nan bergejolak, ruang mobilitas untuk merombak total hubungan dengan Tiongkok menjadi sangat terbatas. Sebaliknya, Beijing tampak bermain dengan alam waktu nan lebih panjang, memandang melampaui masa kedudukan Trump hingga tahun 2028 dan seterusnya. (The Washington Post/I-2)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia
↑