Teras Malioboro terus mencari positioning nan membikin area tersebut mempunyai daya tarik kuat bagi visitor dan masyarakat Yogyakarta. Setelah beragam program pengelolaan berjalan, tahun ini salah satu konsentrasi diarahkan pada pengembangan kuliner sebagai bagian dari upaya menjawab perubahan kebutuhan visitor dan persaingan destinasi nan semakin ketat.
Kepala PLUT KUMKM Teras Malioboro, Wisnu Hermawan, mengatakan pengembangan tersebut merupakan kelanjutan dari proses pengelolaan Teras Malioboro nan telah berjalan. Tantangannya bukan lagi sekadar menyediakan tempat berdagang bagi tenant, tetapi membangun argumen nan cukup kuat agar masyarakat memilih datang ke Teras Malioboro di tengah banyaknya pilihan destinasi di Yogyakarta.
Salah satu positioning nan sedang diperkuat adalah kuliner. Teras Malioboro mau melahirkan produk nan mempunyai kekhasan dan tidak mudah ditemukan di tempat lain. Targetnya, visitor maupun penduduk Yogyakarta kelak datang bukan hanya lantaran sedang berada di Malioboro, tetapi sengaja menuju Teras Malioboro untuk mencari produk tertentu.
Upaya tersebut sekaligus menjadi bagian dari strategi menjaga keberlanjutan ekonomi tenant. Jika produk nan dijual mempunyai daya tarik sendiri, pergerakan konsumen tidak sepenuhnya berjuntai pada tinggi-rendahnya kunjungan visitor ke Malioboro.
Untuk menjalankan strategi tersebut, Teras Malioboro melibatkan konsultan UMKM ahli dalam program pengembangan dan inkubasi tenant. Pendampingan dirancang untuk menerjemahkan kebutuhan pasar menjadi pengembangan produk, penguatan digital hingga pengelolaan upaya nan dapat diterapkan langsung oleh tenant.
Konsultan UMKM senior nan terlibat dalam program tersebut mengatakan salah satu targetnya adalah menciptakan kuliner nan bisa menjadi destinasi. Pola semacam itu telah berkembang di beragam tempat di Yogyakarta, ketika konsumen bersedia menempuh perjalanan unik lantaran sebuah makanan telah identik dengan letak tertentu.
“Kalau ada kuliner nan khas, dia bisa grabbing ke sini. Terutama orang-orang nan memang di sekitar Jogja nan memang mau kulineran. Kuliner ini adanya di Teras, seperti itu,” katanya.
Tiga Tahap Pengembangan Tenant
Keseriusan membangun positioning tersebut diterjemahkan melalui program inkubasi nan dimulai pada awal Agustus dan dibagi menjadi tiga tahap. Tahap pertama berfokus pada penemuan produk. Tenant mengikuti kelas selama tiga hari, kemudian menjalani pendampingan sekitar satu bulan untuk memastikan hasil training diterapkan dalam usahanya.
Pendampingan tidak berakhir pada pembuatan menu baru. Pengelolaan upaya tenant ikut diperiksa, mulai dari pencatatan finansial hingga pemanfaatan media sosial. Perkembangan tersebut menjadi bagian dari pertimbangan lantaran peserta bakal menjalani proses seleksi untuk melanjutkan ke tahap berikutnya.
Tahap kedua diarahkan pada penguatan digital. Tenant didorong memanfaatkan TikTok dan beragam kanal digital, membikin konten hingga melakukan siaran langsung untuk memperluas pasar. Penguatan penemuan produk tetap dapat diberikan andaikan dalam proses pendampingan ditemukan kebutuhan untuk mengembangkan menu lebih lanjut.
Pada tahap ketiga, perhatian beranjak pada penguatan pengelolaan usaha, proposal upaya dan keuangan. Peserta nan sukses melewati proses tersebut kemudian mempresentasikan rencana pengembangan usahanya untuk memperoleh support modal.
Sebanyak 20 tenant ditargetkan memperoleh support modal sekitar Rp10 juta per usaha. Dengan skema tersebut, anggaran nan disiapkan untuk support pengembangan upaya mencapai sekitar Rp200 juta.
Proses tersebut mulai dirasakan tenant. Ali Imran (43), pemilik Kedai Pak Ali, mengikuti training pengembangan menu meski selama ini kedainya identik dengan nasi goreng dan penyetan. Tenant mendapatkan kesempatan mempelajari beragam menu baru, termasuk masakan China dan Nusantara.
Bagi Ali, program tersebut membikin keberadaannya di Teras Malioboro tidak sebatas menyediakan tempat untuk menjalankan usaha. Tenant juga memperoleh kesempatan meningkatkan keahlian dan mengembangkan produknya.
“Jadi saya anggap di sini satu untuk mencari duit dan untuk belajar,” kata Ali.
Pengembangan kuliner juga diarahkan agar sejalan dengan karakter Teras Malioboro Ketandan. Wisnu mengatakan area tersebut secara bentuk telah mempunyai gedung nan representatif dan karakter tersendiri. Tantangan berikutnya adalah membikin pengalaman visitor tidak berakhir pada arsitektur, tetapi bersambung hingga produk nan mereka temukan di dalamnya.
Karena itu, pencarian produk ikonik menjadi bagian dari proses Teras Malioboro menentukan posisinya ke depan. Kekhasan produk diharapkan membangun aset brand nan semakin kuat sekaligus menjaga kehidupan ekonomi tenant di tengah perubahan selera konsumen dan persaingan destinasi.
Tujuan akhirnya adalah membikin Teras Malioboro mempunyai tempat nan jelas dalam akal konsumen. Ketika orang mencari pengalaman kuliner tertentu di Yogyakarta, Teras Malioboro diharapkan ikut muncul sebagai tujuan.
Seperti konsep nan sedang dibangun pengelola, pertanyaannya bukan lagi, “Di luar sudah ada, ngapain ke Teras?” melainkan, “Harus ke Teras lantaran di luar tidak ada.”
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·