Krisis Lebah akibat Tungau Varroa di Australia jadi Peringatan bagi Indonesia

Sedang Trending 1 bulan yang lalu
Krisis Lebah akibat Tungau Varroa di Australia jadi Peringatan bagi Indonesia Tungau varroa (Varroa destructor).(Dok. Britannica)

WABAH tungau varroa (Varroa destructor) tengah melumpuhkan lebah madu dan pertanian Australia. Kondisi tersebut berakibat langsung pada menurunnya produktivitas sejumlah komoditas pertanian nan berjuntai pada penyerbukan/polinasi lebah madu.

Pakar Genetika Ekologi IPB University, Prof Ronny Rachman Noor, mengatakan Australia diperkirakan bakal menghadapi krisis polinasi serius pada 2026. Negara ini diprediksi kekurangan sekitar 290 ribu sarang lebah untuk musim polinasi puncak pada Agustus mendatang akibat penyebaran tungau varroa nan tidak terkendali.

“Penyebaran tungau varroa nan sangat sigap ini telah memberikan akibat besar dan menyakitkan bagi industri lebah madu di Australia. Lebih dari 50 persen peternak kudu menutup usahanya lantaran biaya pengendalian nan sangat tinggi, resistensi terhadap obat kimia, serta kerugian akibat hilangnya ratusan ribu sarang,” kata Ronny dalam keterangannya, Rabu (17/6).

Dari sisi ekonomi, lebah madu berkontribusi sekitar AUD14,2 miliar per tahun bagi sektor pertanian Australia melalui jasa penyerbukan. Menurunnya populasi lebah berakibat langsung pada tanaman nan sangat berjuntai pada polinasi, seperti almond, apel, ceri, buah batu (stone fruit), dan alpukat. 

Kondisi ini berisiko memicu kandas panen, penurunan produksi buah dan kacang-kacangan, kenaikan nilai pangan, hingga meningkatnya ketergantungan pada impor.

Prof Ronny menjelaskan, tungau varroa merupakan parasit nan hidup sepenuhnya pada lebah madu (Apis mellifera). Tungau ini menempel pada lebah dewasa dan berkembang biak di dalam sel larva nan tertutup lilin, terutama pada sarang lebah jantan nan mempunyai siklus perkembangan lebih panjang.

“Tungau varroa adalah parasit nan menyerang lebah dan memengaruhi kesehatan lebah. Dengan menempel dan mengisap hemolimfa, varroa melemahkan sistem imun dan menyebarkan virus seperti deformed wing virus dan rhabdovirus, sehingga mempercepat kematian koloni,” ujarnya.

Tantangan lain adalah munculnya resistensi terhadap bahan kimia pengendali. Populasi varroa di New South Wales dan Queensland dilaporkan sudah kebal terhadap pyrethroid dan amitraz sehingga pengobatan standar tidak lagi efektif. Sejak 2022, pandemi ini telah menyebabkan keruntuhan koloni lebah secara massal hingga lebih dari 60 persen sarang.

Untuk mengatasi masalah tersebut, Prof Ronny mendorong penerapan integrated pest management (IPM) melalui kombinasi metode kimia, organik, dan mekanis nan disertai pemantauan populasi secara rutin. Penggunaan masam organik, pengembangan lebah tahan varroa, support pendanaan, hingga pemanfaatan bioteknologi juga menjadi bagian dari solusi jangka panjang.

Pengalaman Australia tersebut kudu menjadi pelajaran krusial bagi Indonesia. Penguatan biosekuriti perlu dilakukan untuk mencegah masuknya tungau melalui impor lebah maupun produk apikultur.

“Penting untuk memperkuat biosekuriti dalam sistem surveilans nasional guna mendeteksi (benih)penyakit lebah sejak dini. Selain itu, program diversifikasi polinator sebaiknya dirancang agar tidak hanya berjuntai pada lebah madu, tetapi juga melibatkan lebah lokal dan serangga lain,” ujar Prof Ronny.

Ia menambahkan, support kebijakan berupa subsidi pengendalian hama, pendanaan riset, dan training IPM bagi peternak juga diperlukan. “Indonesia kudu belajar dari krisis ini, memperkuat biosekuriti dan diversifikasi penyerbukan agar tidak mengalami perihal serupa,” pungkasnya. (H-3)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia