KPPPA susun strategi edukasi cegah siswa terpapar radikalisme online.
, JAKARTA, – Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA) menyusun strategi edukasi nan tepat sasaran untuk mencegah sekitar 112 siswa di 26 provinsi terpapar mengerti radikalisme melalui media sosial dan game online. Langkah ini diambil menyusul ancaman radikalisme digital nan semakin nyata terhadap anak-anak.
Deputi Bidang Perlindungan Khusus Anak KemenPPPA, Titi Eko Rahayu, mengatakan bahwa perlindungan anak di ruang digital tidak dapat dilakukan secara parsial. "Kami sedang mengolah kembali materi edukasi nan lebih mudah diterima oleh anak untuk mengenali konten radikal," ujarnya di Jakarta, Rabu (27/5).
Menurut info Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), sekitar 112 siswa di Indonesia terpapar mengerti radikalisme melalui media sosial dan game online, dengan rata-rata usia 13 tahun. Hal ini menunjukkan bahwa kejadian radikalisme dan ekstremisme berbasis kekerasan di ruang digital menjadi ancaman serius.
Konten radikalisme seringkali masuk melalui pendekatan emosional, organisasi digital tertutup, dan algoritma media sosial nan memperluas paparan terhadap anak. "Penggunaan media sosial, platform video, game online, dan aplikasi percakapan membikin anak rentan terpapar ujaran kebencian dan rayuan kekerasan," tambah Titi Eko Rahayu.
KemenPPPA secara rutin melakukan edukasi melalui sosialisasi, advokasi, dan training penemuan awal atas mengerti radikal bagi orangtua, guru, dan anak. Namun, penyebaran info ini perlu dilakukan lebih masif untuk menjaga anak-anak nan hidup dekat dengan ruang digital.
Konten ini diolah dengan support AI.
sumber : antara
2 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·