Korban tewas musibah gletser di Nepal dan Tibet mencapai 680 jiwa.(Dok. Dialeksis)
PEMERINTAH Nepal mengambil langkah darurat dengan menyiapkan prosedur identifikasi melalui sampel DNA bagi korban musibah runtuhnya gletser Himalaya nan jenazahnya susah dikenali. Perdana Menteri Nepal, Balendra Shah, menyatakan kebijakan ini diambil guna memberikan kepastian bagi family korban di tengah meningkatnya jumlah korban jiwa.
Hingga Sabtu (29/8), jumlah korban tewas akibat musibah nan melanda wilayah Nepal dan Tibet telah menembus nomor 680 jiwa. Selain itu, nyaris 3.000 orang dilaporkan tetap hilang, dengan rincian 2.426 orang di Nepal dan 546 lainnya di Kabupaten Gyirong, Tibet. Dari total pencarian tersebut, sedikitnya 540 orang merupakan penduduk negara asing.
Bencana ini dipicu oleh runtuhnya gletser di area Himalaya nan mengirimkan gelombang air dan material puing berkekuatan besar. Aliran tersebut menyapu desa-desa di sepanjang jalurnya layaknya tsunami daratan, nan mengakibatkan kerusakan masif dan korban jiwa dalam jumlah besar.
Otoritas setempat mengakui adanya tantangan berat dalam proses identifikasi lantaran kondisi jenazah nan mulai mengalami pembusukan. Untuk mencegah akibat kesehatan dan potensi pandemi penyakit, pemerintah memutuskan untuk segera memakamkan jenazah setelah prosedur norma selesai, namun dengan tetap menyimpan info biologis.
PM Balendra Shah menjelaskan bahwa jenazah nan belum teridentifikasi bakal ditangani sesuai pedoman pemerintah untuk jenazah nan tidak dikenal alias tidak diklaim. Namun, pengambilan sampel DNA dan info identitas lainnya menjadi syarat absolut sebelum pemakaman dilakukan.
Langkah penyimpanan DNA ini bermaksud agar family korban tetap mempunyai kesempatan untuk mendapatkan kepastian identitas personil family mereka di masa depan, meskipun proses identifikasi secara bentuk tidak memungkinkan saat ini. Sementara itu, jenazah nan telah sukses diidentifikasi mulai diserahkan kepada pihak family untuk proses pemakaman secara layak. (Z-10)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·