Animasi nan dihasilkan AI menyertai pengumuman Gedung Putih tentang Aliens.gov.(Dok Gedung Putih)
PELUNCURAN domain Aliens.gov dan Alien.gov oleh pemerintahan Donald Trump pada Maret lampau sempat memicu spekulasi luas di kalangan penganut teori persekongkolan UFO. Banyak nan berambisi situs tersebut menjadi saluran resmi bagi Pentagon untuk melakukan Disclosure Day atau pengungkapan rahasia kehidupan luar angkasa nan telah lama dinanti.
Namun, angan tersebut pupus pekan lalu. Bukannya memberikan jawaban atas misteri alam semesta, Aliens.gov justru muncul sebagai platform nan menggunakan estetika fiksi ilmiah untuk menyasar imigran tidak berdokumen. Dengan teks neon hijau mencolok bertuliskan THEY WALK AMONG US, situs ini mengangkat narasi invasi luar angkasa untuk menggambarkan keberadaan penduduk asing di Amerika Serikat.
Permainan Kata dan Dehumanisasi
Situs tersebut dilengkapi dengan label rahasia palsu, referensi ke serial The X-Files, hingga peta interaktif nan melacak pertemuan alien namalain info penangkapan imigran. Gedung Putih apalagi mengunggah animasi berkekuatan AI nan menunjukkan UFO sedang mengangkat seorang imigran di perbatasan selatan.
Para mahir bahasa dan sejarawan menilai strategi ini bukan sekadar lelucon. Mai Ngai, sejarawan dan penulis kitab Impossible Subjects, menyatakan bahwa mengaitkan imigran dengan pesawat luar angkasa adalah upaya pamungkas untuk menghilangkan sisi kemanusiaan mereka. "Mengatakan mereka datang dari pesawat luar angkasa berfaedah menegaskan bahwa mereka bukan manusia," ujarnya.
Sejarah Panjang Istilah Alien
Secara etimologis, kata alien masuk ke dalam bahasa Inggris pada abad ke-14 dari bahasa Latin dan Prancis untuk merujuk pada sesuatu nan asing. Dalam yurisprudensi AS, istilah ini mempunyai akar norma nan kuat:
- Naturalization Act 1790: Undang-undang imigrasi pertama AS nan menggunakan istilah Alien.
- Alien and Sedition Acts 1798: Empat undang-undang nan memperluas kewenangan presiden untuk menahan dan mendeportasi penduduk asing.
- Black’s Law Dictionary: Mendefinisikan alien sebagai orang nan tinggal di dalam perbatasan suatu negara tetapi bukan penduduk negara tersebut.
Meskipun istilah ini awalnya berkarakter birokratis, penggunaannya mulai bergeser pada era 1940-an untuk merujuk pada pekerja Meksiko dan semakin terkenal melalui Immigration and Nationality Act 1965. Sejak saat itu, label illegal alien sering kali digunakan dengan konotasi rasial.
Catatan Editor: Penggunaan istilah alien dalam opini norma Mahkamah Agung AS ditemukan berkorelasi dengan hasil nan lebih tidak menguntungkan bagi imigran dibandingkan penggunaan istilah migran atau nonwarga negara.
Pergeseran Budaya vs Kebijakan Trump
Dalam beberapa tahun terakhir, terdapat aktivitas masif untuk menghapus kata alien dari leksikon resmi. California menghapusnya dari kode tenaga kerja pada 2015, diikuti oleh negara bagian lain seperti Colorado dan Washington. Pada 2021, Presiden Joe Biden apalagi menginstruksikan pemasok imigrasi untuk menggunakan istilah non-citizen atau migrant.
Namun, pemerintahan Trump secara tegas mempertahankan penggunaan istilah tersebut. Juru bicara Gedung Putih, Abigail Jackson, menyatakan bahwa mengidentifikasi perseorangan sebagai illegal alien adalah fakta, bukan penghinaan. "Pemerintahan Trump bakal terus mendeportasi illegal aliens tanpa meminta maaf," tegasnya.
Bagi para aktivis seperti Jose Antonio Vargas, penggunaan istilah ini sangat berbahaya. "Bagaimana Anda melegalkan orang nan Anda sebut ilegal atau alien? Anda tidak melakukannya. Anda hanya menyebut mereka alien untuk memudahkan proses menstigmatisasi," pungkasnya.
English (US) ·
Indonesian (ID) ·