Tangkapan layar dari Komando Pusat AS nan memperlihatkan rudal Hellfire nan diluncurkan ke arah kapal tanker nan berupaya menerobos blokade AS di Selat Hormuz di tengah krisis di Iran. Foto: Komando Pusat AS(Dok.Komando Pusat AS)
KETEGANGAN antara Amerika Serikat (AS) dan Iran mencapai titik didih baru setelah tindakan saling serang rudal dan drone di area strategis Selat Hormuz dan Bahrain, Selasa (2/6). Konfrontasi terbaru bermulai ketika Komando Pusat AS (Centcom) melepaskan rudal Hellfire untuk melumpuhkan kapal tanker M/T Lexie berbendera Botswana nan dituding mencoba menerobos blokade Amerika di Selat Hormuz saat menuju Pulau Kharg, Iran. Centcom menyatakan tindakan tegas diambil setelah kru kapal mengabaikan peringatan selama 24 jam.
Komando Pusat AS (CENTCOM) melumpuhkan sebuah kapal tanker minyak nan menurutnya tidak mematuhi blokade laut AS di Teluk Arab pada hari Selasa.
“Sebuah pesawat tempur AS akhirnya melumpuhkan kapal tersebut dengan menembakkan rudal Hellfire ke ruang mesin kapal, sehingga mencegah kapal tanker itu mencapai Iran,” kata CENTCOM dalam sebuah unggahan di media sosial nan menyertakan video serangan tersebut dikutip dari ABC News, Rabu (3/6).
Saling Klaim Serangan di Bahrain dan Kuwait
Menanggapi serangan terhadap aset nan menuju wilayahnya, Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran menyatakan telah meluncurkan serangan rudal dan drone ke markas besar Armada Kelima AS di Bahrain. Namun, klaim ini dibantah oleh Centcom nan menyatakan bahwa serangan tersebut sukses dicegat.
Catatan Blokade: M/T Lexie merupakan kapal keenam nan dilumpuhkan militer AS sejak blokade terhadap Iran dimulai pada 13 April. Hingga saat ini, AS telah mengalihkan paksa 122 kapal nan mencoba mengakses pelabuhan Iran.
Di saat nan sama, militer Kuwait melaporkan bahwa pertahanan udara mereka sukses mencegat sasaran udara musuh. Sirene peringatan terdengar di seluruh Bahrain dan Kuwait, sementara otoritas setempat meminta penduduk untuk tidak menyentuh puing-puing proyektil nan jatuh.
Diplomasi Marco Rubio vs Realitas Lapangan
Eskalasi militer ini terjadi di tengah pertentangan pernyataan politik di Washington. Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, dalam penampilan perdananya di hadapan Komite Hubungan Luar Negeri Senat, menyatakan bahwa kesepakatan dengan Teheran sudah dalam jangkauan. Rubio menyebut Iran mulai bersedia merundingkan aspek program nuklirnya.
Namun, klaim optimistis tersebut dimentahkan oleh Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi. Ia menegaskan bahwa Iran bakal menangguhkan pembicaraan tenteram sebagai protes atas serangan berkepanjangan Israel di Lebanon nan didukung AS.
"Pelanggaran gencatan senjata di satu front adalah pelanggaran di semua front. AS dan Israel bertanggung jawab atas akibat dari setiap pelanggaran," tegas Araghchi, merujuk pada 30 serangan udara Israel di Lebanon Selatan nan menewaskan penduduk sipil, termasuk anak-anak di dekat Sidon.
Situasi di Timur Tengah sekarang berada dalam ketidakpastian tinggi. Meskipun Presiden AS sebelumnya menyatakan telah memediasi penghentian serangan antara Israel dan Hezbollah, kebenaran di lapangan menunjukkan eskalasi nan terus meningkat, baik di Lebanon maupun di jalur pelayaran internasional Teluk Persia. (AFP/H-4)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·