Jakarta, CNBC Indonesia - Ketua Umum Dewan Pimpinan Nasional Asosiasi Pengusaha Indonesia, Shinta Kamdani, menilai bumi upaya bakal semakin susah lantaran pelemahan nilai tukar Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat. Saat ini nilai tukar tembus ke level ilmu jiwa baru ialah Rp 18.000/US$.
Menurut Shinta, tekanan besar terjadi dirasakan oleh industri tekstil dan produk tekstil, kimia dan petrokimia, plastik, logam dasar, elektronik, otomotif, serta beragam sektor nan tetap mengandalkan komponen impor dalam rantai produksinya.
"Kondisi ini semakin berat lantaran bumi upaya juga tetap menghadapi biaya logistik, energi, serta biaya pembiayaan nan relatif tinggi. Dengan kata lain, saat ini pelaku upaya menghadapi tekanan berlapis alias externally driven cost pressure nan cukup signifikan," tuturnya, saat dihubungi CNBC Indonesia, Kamis (4/6/2026).
Shinta juga memandang aktivitas upaya juga terlihat mengalami penurunan optimisme pelaku industri. Dari catatannya, PMI Manufaktur kembali masuk ke area kontraksi sejak Juli 2025, tren penurunan Indeks Kepercayaan Industri (IKI) juga menunjukkan kan sektor riil sedang menghadapi fase nan lebih menantang.
"Apalagi pelemahan Rupiah ini jauh lebih dalam dibandingkan posisi pada kuartal pertama tahun ini, ketika sebagian (10 subsektor) manufaktur tumbuh di bawah rata-rata pertumbuhan ekonomi nasional, dan 4 subsektor manufaktur di antaranya alami kontraksi," kata Shinta.
Dia menjelaskan bagi bumi saat ini tantangannya berada pada akibat nan ditimbulkan seperti biaya produksi, pembiayaan, dan kepastian berusaha. Melihat ketergantungan bahan baku impor tetap berada di kisaran 80%.
"Pelemahan Rupiah secara langsung meningkatkan cost of goods sold, mempersempit margin usaha, dan mengurangi ruang perusahaan untuk melakukan ekspansi," katanya.
Lebih lanjut menurut Shinta, bumi upaya sudah melakukan beragam langkah mitigasi atas akibat pelemahan nilai tukar ini.
"Banyak perusahaan memilih melakukan efisiensi operasional, hiring freeze, pengendalian biaya non-esensial, penundaan ekspansi dan investasi baru, diversifikasi pasar, serta memperkuat penggunaan bahan baku lokal dan strategi hedging untuk mengelola akibat nilai tukar," katanya.
Menurutnya, saat ini pengusaha berfokus untuk menjaga business continuity sekaligus mempertahankan lapangan kerja di tengah tekanan biaya nan meningkat.
Sebagai informasi, pelemahan rupiah tetap terus berlanjut, hingga tembus level psikologis baru di Rp18.000 per dolar AS.
Pada perdagangan hari ini, Kamis (4/6/2026), rupiah ditutup ditutup melemah 0,45% ke level Rp18.020/US$. Demikian mengutip Refinitiv.
Tekanan terhadap rupiah sudah terlihat sejak awal perdagangan. Rupiah dibuka melemah 0,11% di level Rp17.960/US$. Namun, hanya beberapa menit setelah pembukaan, mata duit Garuda langsung ambruk menembus Rp18.000/US$ dan memperkuat di atas level tersebut hingga penutupan perdagangan.
Harapan Pengusaha
Untuk itu menurut Shinta, pengusaha berambisi pemerintah untuk terus menjaga macroeconomic credibility dan market confidence Indonesia melalui koordinasi kebijakan nan kuat antara otoritas fiskal, moneter, dan sektor riil.
"Stabilitas nilai tukar menjadi sangat penting, namun pada saat nan sama perlu diimbangi dengan langkah-langkah konkret untuk menurunkan beragam komponen high cost economy nan selama ini membebani bumi usaha, mulai dari biaya logistik, energi, perizinan, hingga cost of compliance nan tetap relatif tinggi" tuturnya.
Di sisi lain, pengusaha mengaku memahami langkah nan sudah dilakukan pemerintah dan Bank Indonesia untuk menjaga stabilitas makroekonomi. Seperti, keputusan Bank Indonesia untuk meningkatkan BI Rate sebesar 50 pedoman poin menjadi 5,25% dapat dipahami sebagai langkah pre-emptive stabilization policy untuk menjaga stabilitas rupiah. Serta mengendalikan akibat inflasi, serta mempertahankan market confidence di tengah meningkatnya tekanan pasar finansial dunia dan akibat geopolitik nan tetap tinggi.
Menurut Shinta, pengusaha juga meyakini esensial ekonomi Indonesia tetap mempunyai daya tahan nan baik.
Namun, imbuh dia, dalam situasi seperti sekarang, efektivitas kebijakan stabilisasi juga perlu diimbangi dengan langkah-langkah nan bisa menjaga daya tahan sektor riil.
"Stabilitas makro dan pertumbuhan ekonomi tidak dapat dipisahkan," cetusnya.
"Karena itu, selain menjaga stabilitas nilai tukar, diperlukan pula kebijakan nan dapat mengurangi tekanan biaya usaha, memperkuat suasana investasi, menjaga kelancaran arus perdagangan dan logistik, serta meningkatkan daya saing industri nasional agar proses stabilisasi ekonomi dapat melangkah tanpa mengorbankan momentum pertumbuhan dan pembuatan lapangan kerja," kata Shinta.
(dce)
Addsource on Google
[Gambas:Video CNBC]
2 minggu yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·