Jakarta, CNBC Indonesia - Kuba dilaporkan telah memperoleh lebih dari 300 pesawat tanpa awak alias drone militer dan baru-baru ini mulai membahas rencana untuk menggunakannya guna menyerang pangkalan Amerika Serikat (AS) di Teluk Guantanamo, kapal-kapal militer AS, dan apalagi kemungkinan wilayah Florida. Mengutip laporan Axios pada Senin (18/05/2026), bocoran intelijen rahasia ini muncul di tengah ketegangan nan memuncak antara Washington dan Havana.
Situasi geopolitik kedua negara sekarang berada di titik kritis seiring dengan berkembangnya spekulasi bahwa AS tengah mempertimbangkan tindakan militer terhadap pulau nan dikuasai oleh pemerintahan komunis tersebut.
Pemerintah AS di bawah kepemimpinan Donald Trump mengaku sangat cemas lantaran perkembangan pesat strategi perang menggunakan drone serta hadirnya penasihat militer Iran di Havana.
"Ketika kita berpikir tentang jenis-jenis teknologi nan berada sangat dekat itu, dan beragam tokoh jahat mulai dari golongan teror, kartel narkoba, penduduk Iran hingga penduduk Rusia, perihal itu sangat mengkhawatirkan. Ini adalah ancaman nan terus berkembang," kata seorang pejabat senior AS nan tidak disebutkan namanya seperti dikutip oleh Axios.
Sejumlah pejabat AS mengungkapkan kepada Axios bahwa Kuba telah aktif memperoleh drone serang dari Rusia dan Iran sejak tahun 2023 lampau dan saat ini terus berupaya untuk membeli lebih banyak armada udara tersebut.
Merespons tuduhan serius ekosistem intelijen AS itu, Pemerintah Kuba langsung melayangkan kecaman keras dan menuding Washington sengaja merekayasa argumen konflik.
"Tanpa argumen sah apa pun, pemerintah AS, hari demi hari, membangun kasus tiruan untuk membenarkan perang ekonomi nan sadis terhadap rakyat Kuba dan kemungkinan agresi militer," tulis Menteri Luar Negeri Kuba Bruno Rodriguez di platform X.
Rodriguez juga menegaskan bahwa negaranya tidak mempunyai niat untuk memulai konfrontasi bersenjata, namun mereka tidak bakal tinggal tak bersuara jika kedaulatan negaranya diganggu oleh kekuatan asing.
"Kuba tidak menakut-nakuti alias menginginkan war. Kuba memihak perdamaian dan bersiap serta mempersiapkan dirinya untuk menghadapi agresi eksternal dalam menjalankan kewenangan memihak diri secara sah nan diakui oleh Piagam PBB," tambah Rodriguez.
Laporan intelijen mengenai ratusan drone ini mencuat hanya beberapa hari setelah Direktur CIA John Ratcliffe melakukan kunjungan mendadak ke Havana, di mana saat ini rakyat Kuba kudu menahan penderitaan akibat pemadaman listrik terus-menerus nan dipicu oleh blokade bahan bakar oleh Presiden Trump.
Selama kunjungan tersebut, Ratcliffe dilaporkan telah memberikan peringatan nan sangat keras kepada para pejabat tinggi di Havana agar tidak terlibat dalam tindakan permusuhan apa pun.
"Direktur Ratcliffe menegaskan bahwa Kuba tidak bisa lagi berfaedah sebagai platform bagi musuh untuk memajukan agenda permusuhan di bagian bumi kita," kata seorang pejabat CIA nan tidak disebutkan namanya seperti dikutip oleh Axios.
Hubungan diplomatik antara pulau komunis tersebut dan AS memang telah terjebak dalam kebuntuan panjang dengan berturut-turut pemerintahan AS sejak tahun 1960-an, di mana negara bagian Florida di selatan AS menjadi rumah bagi organisasi pengasingan Kuba nan besar dan mempunyai pengaruh politik kuat.
Pada awal bulan ini, Trump apalagi sempat melontarkan pernyataan kontroversial bahwa AS bakal mengambil alih pulau Karibia nan hanya berjarak sekitar 90 mil dari Florida tersebut dalam waktu nan nyaris seketika.
Miliarder AS tersebut juga menyampaikan bahwa menyusul operasi militer AS untuk menggulingkan pemimpin veteran Venezuela Nicolas Maduro, maka Kuba bakal menjadi sasaran operasi militer berikutnya.
Media AS saat ini juga melaporkan bahwa otoritas penegak norma di Washington tengah berupaya untuk mengusulkan dakwaan norma terhadap Raul Castro, kerabat laki-laki mendiang pemimpin legendaris Kuba Fidel Castro nan sekarang telah berumur 94 tahun.
(tps/tps)
Addsource on Google
[Gambas:Video CNBC]
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·