Jakarta -
Wakil Ketua Komisi IX DPR Charles Honoris meminta pemerintah, khususnya Kemenkes melakukan langkah aktif atasi sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau. Menurutnya perihal ini menyangkut persoalan kesehatan masyarakat.
"Menurut saya pemerintah kudu memperlakukan sebaran abu vulkanik ini sebagai persoalan kesehatan masyarakat, bukan sekedar persoalan lingkungan. Abu vulkanik berbeda dengan debu biasa. Partikelnya dapat mengganggu saluran pernapasan, penyakit paru maupun penyakit jantung," kata Charles saat dihubungi, Senin (7/9/2026).
Charles mengimbau masyarakat, terutama anak-anak, lansia dan golongan rentan, sebaiknya mengurangi aktivitas di luar rumah selama paparan tetap tinggi. Dia juga meminta pemerintah mulai bergerak antisipasi perihal ini.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kemenkes dan pemerintah wilayah juga jangan berakhir pada imbauan. Harus ada langkah aktif memastikan akomodasi kesehatan siap menghadapi peningkatan kasus gangguan kesehatan seperti ISPA maupun iritasi mata, sekaligus memastikan kesiapan masker nan memadai bagi masyarakat di wilayah terdampak," ucap dia.
Lebih lanjut, dia menyoroti kenaikan nilai masker di tengah sebaran abu vulkanik nan menyasar ke beberapa wilayah. Menurutnya, pemerintah perlu mengambil langkah intervensi jangan sampai ada pihak nan mengambil untung berlebihan.
"Soal nilai masker nan melonjak, ini justru kudu segera diintervensi pemerintah. Ada laporan nilai masker tertentu naik sampai 10 kali lipat di tengah meningkatnya kebutuhan masyarakat. Jangan sampai dalam situasi seperti ini ada pihak nan mengambil untung berlebihan dari kebutuhan masyarakat untuk melindungi kesehatan," ujar dia.
Bahkan menurutnya, pemerintah perlu membagikan masker secara cuma-cuma di wilayah dengan akibat terparah. "Bila diperlukan, pemerintah juga kudu membagikan masker secara cuma-cuma terutama kepada golongan rentan dan masyarakat di wilayah dengan paparan tinggi," lanjutnya.
Update Wilayah Terdampak Abu Vulkanik
Abu vulkanik imbas erupsi Gunung Anak Krakatau tetap menyebar hingga pagi ini. BMKG mencatat abu vulkanik Gunung Anak Krakatau tetap menyebar hingga ke wilayah Jakarta. BMKG mengungkap info sebaran abu vulkanik per pukul 06.00 WIB. Dari info tersebut teridentifikasi dua klaster sebaran debu vulkanik Gunung Anak Krakatau.
"Berdasarkan info PVMBG dan VAAC Darwin serta kajian gambaran RGB Himawari-9 pada 7 September 2026 pukul 06.00 WIB, teridentifikasi dua klaster sebaran debu vulkanik Gunung Anak Krakatau," kata BMKG dalam keterangannya, Senin (7/9/2026).
Klaster pertama mencakup sebagian Banten, Jawa Barat, Lampung, Bengkulu, Samudra Hindia di sebelah barat Bengkulu, Lampung, dan Banten serta perairan sekitarnya. Tercatat ketinggian abu mencapai 15.000 ft alias 4,57 km ke arah tenggara-barat laut.
"Pada ketinggian ini, sebaran abu berpotensi memengaruhi kualitas udara dan jarak pandang di wilayah terdampak," ujarnya.
Sementara itu, klaster kedua mencakup Samudra Hindia di sebelah barat - barat daya Bengkulu, Lampung, dan Banten menjauhi wilayah Indonesia. Tercatat ketinggian abu vulkanik 50.000 ft alias 15,24 Km ke arah barat daya-barat.
"Pada ketinggian ini, sebaran abu terutama berakibat pada penerbangan lantaran berada pada jalur lintasan pesawat udara," katanya.
(maa/eva)
1 minggu yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·