Komisi IX DPR Minta KLB Kabut Asap Ditetapkan di Wilayah Terdampak Karhutla

Sedang Trending 3 minggu yang lalu
Jakarta -

Wakil Ketua Komisi IX DPR Yahya Zaini mendorong pemerintah menetapkan protokol darurat kesehatan kabut asap buntut kebakaran rimba dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah, khususnya Kalimantan. Ia mau status kejadian luar biasa (KLB) kabut asap diberlakukan di wilayah nan paling terdampak.

"Meningkatnya kasus jangkitan saluran pernapasan akut akibat kabut asap karhutla di sejumlah wilayah kudu ditangani sebagai kedaruratan kesehatan berbasis paparan, bukan hanya sebagai kenaikan kunjungan pasien di akomodasi kesehatan," kata Yahya Zaini kepada wartawan, Selasa (1/9/2026).

Yahya menilai penetapan status KLB terhadap daerah-daerah dengan kasus ISPA nan sangat tinggi perlu dipertimbangkan. Dengan demikian, kata dia, penanganan pun bisa dilakukan dengan sigap dan terintegrasi.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Penetapan KLB memungkinkan penanganannya dapat dilakukan secara sigap dan terintegrasi," tuturnya.

Yahya memandang Kemenkes berbareng pemerintah wilayah (pemda) perlu mempertimbangkan pemindahan penduduk ke tempat nan lebih aman, khususnya untuk wilayah dengan paparan kabut asap kategori parah. Ia berambisi ada sistem surveilans harian unik penyakit akibat kabut asap.

"Kemenkes dan Pemda perlu melakukan koordinasi untuk penanganan kasus ISPA nan melanda penduduk melalui penyediaan tenaga medis, tenaga kesehatan, dan rumah sakit, serta support masker dan rumah oksigen untuk warga," kata politikus Partai Golkar tersebut.

"Puskesmas dan rumah sakit kudu melaporkan kasus ISPA, asma, pneumonia, iritasi mata, gangguan kulit, serta pemburukan penyakit jantung dan paru berasas kecamatan dan golongan usia," sambungnya.


Sebelumnya, Dinkes Kalbar mencatat kasus ISPA di Kalbar mengalami peningkatan seiring kasus karhutla. Saat ini, sebanyak 165.727 kasus ISPA terjadi sepanjang periode 1 Januari hingga 22 Agustus 2026.

Kepala Dinkes Kalbar, dr Erna Yulianti, mengatakan info itu merupakan laporan nan masuk melalui Sistem Kewaspadaan Dini dan Respons (SKDR). Sistem tersebut dipakai untuk mendeteksi perubahan tren penyakit di masyarakat.

"Dari periode 1 Januari sampai 22 Agustus 2026 tercatat sebanyak 165.727 kasus ISPA nan dilaporkan melalui sistem alert kami," kata Erna dilansir detikKalimantan, Sabtu (29/8).

Dia mengatakan dari info Dinkes menunjukkan tren peningkatan ISPA mulai terlihat sejak minggu ke-21 alias sekitar akhir Mei 2026. Erna mengatakan kenaikan itu terus berjalan pada pertengahan Agustus. Secara proporsi, ISPA dilaporkan mencapai sekitar 29 kasus per 1.000 penduduk.

Kemudian kondisi pada minggu ke-32 menjadi perhatian. Hal itu lantaran terjadi berbarengan dengan meningkatnya aktivitas hotspot di wilayah Kalbar. Dia mengatakan peningkatan kasus terlihat dari kunjungan masyarakat ke akomodasi pelayanan kesehatan.

(dwr/zap)

Selengkapnya
Sumber Detik News
Detik News
↑