Celeste Campbell-Pitt, Director of Government Affairs and Public Policy YouTube APAC (kiri), berbareng Meutya Hafid, Menteri Komunikasi dan Digital Republik Indonesia (kanan), meresmikan peluncuran Buku Panduan Kesehatan Mental Remaja dalam aktivitas Sinergi PP(Doc Komdigi)
Perkembangan teknologi digital telah mengubah beragam aspek kehidupan masyarakat, termasuk langkah family berkomunikasi, belajar, dan mengakses informasi. Di tengah pesatnya transformasi digital tersebut, peran orang tua, khususnya ibu, dinilai semakin krusial dalam mendampingi anak agar bisa memanfaatkan teknologi secara sehat dan bertanggung jawab. Karena itu, Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) mendorong lahirnya lebih banyak Pandu Digital dari lingkungan keluarga.
Pandu Digital merupakan perseorangan nan mempunyai pemahaman mengenai literasi digital dan berkedudukan menyebarkan pengetahuan tersebut kepada masyarakat di sekitarnya.
Dalam konteks keluarga, ibu dinilai mempunyai posisi strategis lantaran menjadi sosok nan paling dekat dengan anak dalam kehidupan sehari-hari. Kehadiran ibu sebagai Pandu Digital diharapkan bisa membantu anak menghadapi beragam tantangan nan muncul di ruang digital.
Saat ini, penggunaan gawai dan internet sudah menjadi bagian dari kehidupan anak-anak sejak usia dini. Berbagai aktivitas, mulai dari belajar, bermain, hingga berkomunikasi dengan teman, banyak dilakukan melalui perangkat digital.
Kondisi tersebut membikin orang tua tidak lagi cukup hanya membatasi penggunaan gawai, tetapi juga perlu memahami gimana teknologi bekerja dan gimana mendampingi anak saat menggunakannya.
Dalam sebuah aktivitas edukasi literasi digital, perwakilan Komdigi membujuk para orang tua untuk mengambil peran lebih aktif dalam membangun ekosistem digital nan sehat di lingkungan keluarga. Mereka menilai edukasi digital perlu dimulai dari rumah sebelum diterapkan di lingkungan nan lebih luas.
"Kami mau semua ibu-ibu di sini menjadi bagian dan Pandu Digital kami untuk menjadi bagian dari family besar Komdigi sebagai Pandu Digital," ujar Meutya Hafid, Menteri Komunikasi dan Digital Republik Indonesia.
Meutya menekankan bahwa literasi digital tidak hanya berbincang mengenai keahlian menggunakan teknologi, tetapi juga mencakup pemahaman tentang keamanan digital, etika bermedia, perlindungan info pribadi, hingga keahlian menyaring info nan beredar di internet.
Pengetahuan tersebut krusial agar family bisa memanfaatkan teknologi secara optimal tanpa mengabaikan aspek keamanan dan kesehatan mental.
Peran ibu sebagai Pandu Digital juga tidak terbatas pada lingkungan rumah. Setelah memperoleh pengetahuan dan keahlian nan memadai, para ibu diharapkan dapat berbagi pengalaman serta edukasi kepada family lain di lingkungan sekitar. Dengan langkah ini, literasi digital dapat berkembang lebih luas melalui pendekatan nan dekat dengan kehidupan masyarakat sehari-hari.
Menurut Meutya, masyarakat dapat mengakses beragam training literasi digital secara cuma-cuma melalui platform nan telah disediakan pemerintah. Materi nan tersedia mencakup beragam topik, mulai dari keamanan digital, etika digital, hingga pemanfaatan teknologi secara produktif untuk family dan masyarakat.
Tantangan nan dihadapi family saat ini pun semakin beragam. Mulai dari paparan konten nan tidak sesuai usia, penyebaran info palsu, perundungan siber, hingga kecanduan penggunaan gawai.
Kondisi tersebut membikin pendampingan orang tua menjadi semakin penting. Komunikasi nan terbuka antara orang tua dan anak dinilai menjadi salah satu kunci utama dalam membangun kebiasaan digital nan sehat.
Selain itu, orang tua juga diharapkan bisa memberikan teladan dalam penggunaan teknologi. Anak condong meniru kebiasaan nan mereka lihat setiap hari. Oleh lantaran itu, membangun budaya digital nan sehat perlu dimulai dari lingkungan family melalui penggunaan teknologi nan bijak, seimbang, dan sesuai kebutuhan.
Melalui penguatan peran ibu sebagai Pandu Digital, Komdigi berambisi masyarakat tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga bisa memanfaatkan ruang digital secara produktif dan aman.
Di tengah derasnya arus informasi, family menjadi tembok pertama dalam membentuk generasi nan ocehan digital, kritis, serta bisa menghadapi tantangan bumi digital dengan lebih bijaksana. (Z-4)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·