Personel Manggala Agni Daops Kalimantan VIII/Pontianak melakukan pembasahan untuk mencegah api kembali menyala di lahan gambut nan terbakar di Sekunder C, Rasau Jaya 3, Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat.(ANTARA)
KEMENTERIAN Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) memperkuat penanganan kebakaran rimba dan lahan (karhutla) melalui operasi modifikasi cuaca (OMC) di Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah.
Operasi tersebut dilakukan untuk meningkatkan pembasahan lahan, terutama ekosistem gambut, mendukung pemadaman kebakaran dari darat, serta menekan akibat meluasnya api dan sebaran asap.
Direktur Pengendalian Kebakaran Lahan KLH/BPLH Dasrul Chaniago mengatakan OMC menjadi salah satu intervensi krusial dalam penanganan karhutla. Namun, upaya tersebut kudu dijalankan berbarengan dengan langkah-langkah pengendalian lainnya.
“Operasi Modifikasi Cuaca merupakan intervensi krusial dalam penanganan karhutla, khususnya untuk membantu pembasahan lahan gambut dan mendukung kerja tim pemadam di lapangan. Namun, OMC bukanlah upaya nan berdiri sendiri,” kata Dasrul dalam keterangan resmi, Sabtu (5/9).
Menurut dia, penyelenggaraan OMC kudu diiringi dengan patroli, pemeriksaan titik panas, pemadaman darat, pembasahan gambut, pengelolaan tata air, pelibatan masyarakat, pengawasan badan usaha, hingga penegakan hukum.
Di Kalimantan Barat, OMC telah dilaksanakan pada 28 Agustus hingga 4 September 2026. Selama periode tersebut, pemerintah melakukan 10 sortie penerbangan dengan penggunaan 8.000 kilogram bahan semai natrium klorida (NaCl).
Sementara di Kalimantan Tengah, operasi berjalan sejak 26 Agustus hingga 5 September 2026. Hingga 4 September, sebanyak sembilan sortie penerbangan telah dilakukan dengan penggunaan 7.200 kilogram NaCl.
Setiap penerbangan dilakukan berasas kajian kondisi atmosfer, pertumbuhan awan potensial, arah dan kecepatan angin, persebaran titik panas, serta kebutuhan pembasahan di wilayah rawan karhutla.
Pada 4 September 2026, hujan terpantau turun di sejumlah wilayah sasaran OMC. Di Kalimantan Barat, hujan terjadi di Putussibau, Kabupaten Kubu Raya, dan Kota Pontianak. Adapun di Kalimantan Tengah, hujan terpantau turun di Kabupaten Kotawaringin Barat.
Hujan tersebut diharapkan dapat meningkatkan kelembapan lahan, mendukung pendinginan letak kebakaran, serta mengurangi potensi api kembali menyala.
Penanganan karhutla melalui OMC melibatkan sejumlah instansi, antara lain KLH/BPLH, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika, Badan Nasional Penanggulangan Bencana, Kementerian Kehutanan, TNI Angkatan Udara, pemerintah daerah, serta unsur pendukung lainnya.
KLH/BPLH menyatakan operasi di Kalimantan Barat dilanjutkan dengan support BNPB pada 3-14 September 2026. Sementara keberlanjutan OMC di Kalimantan Tengah mendapat support dari Kementerian Kehutanan.
Pemerintah juga bakal terus mengevaluasi efektivitas operasi melalui info sortie, penggunaan bahan semai, sebaran curah hujan, tren titik panas, kualitas udara, dan pemantauan langsung di lapangan.
“Operasi terus dilaksanakan dan kewaspadaan tidak boleh menurun. Tujuan utama kita adalah mencegah kebakaran meluas, melindungi kesehatan masyarakat, menjaga kualitas udara, serta memastikan penanganan karhutla berjalan cepat, terpadu, dan berkelanjutan,” pungkas Dasrul.(H-2)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·