Kita Mulai Terbiasa Hidup di Tengah Sampah

Sedang Trending 54 menit yang lalu
TPA Kebon Kongok, Kabupaten Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat. Foto: Dokumentasi pribadi

Persoalan sampah di Indonesia sampai sekarang tetap menjadi masalah nan susah diselesaikan, terutama di wilayah perkotaan. Jumlah masyarakat nan terus bertambah, aktivitas masyarakat nan semakin padat, dan pola konsumsi nan berubah membikin volume sampah ikut meningkat dari waktu ke waktu.

Namun di sisi lain, sistem pengelolaan sampah di banyak wilayah tetap belum bisa mengimbangi peningkatan tersebut. Akibatnya, persoalan sampah terus muncul dan perlahan menjadi pemandangan nan dianggap biasa oleh masyarakat.

Padahal, akibat dari sampah tidak hanya berangkaian dengan kebersihan lingkungan semata. Tumpukan sampah nan tidak terkelola dapat memengaruhi kualitas lingkungan, menimbulkan pencemaran, apalagi berakibat pada kesehatan masyarakat. Sayangnya, kondisi seperti ini sering kali baru mendapat perhatian ketika sampah mulai menumpuk di jalan, mencemari saluran air, alias menimbulkan aroma nan mengganggu aktivitas warga.

Berdasarkan info Kementerian Lingkungan Hidup melalui Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) Tahun 2025, jumlah sampah nan belum terkelola di Indonesia mencapai 109.092 ton per hari. Sementara itu, sampah nan sukses terkelola tercatat sebesar 35.747 ton per hari. Data tersebut menunjukkan bahwa pengelolaan sampah di Indonesia tetap menghadapi tantangan nan cukup besar, baik dari sisi fasilitas, sistem pengangkutan, maupun keterlibatan masyarakat dalam mengurangi dan memilah sampah dari rumah tangga.

Kondisi tersebut juga terjadi di Provinsi Nusa Tenggara Barat. Hampir seluruh kabupaten/kota di wilayah ini tetap mempunyai persentase sampah belum terkelola nan sangat tinggi. Kabupaten Lombok Barat misalnya, mempunyai persentase sampah belum terkelola sebesar 99,71% dengan timbulan sampah mencapai 305 ton per hari. Kabupaten Lombok Tengah mencapai 99,61% dengan timbulan 451 ton per hari, sedangkan Kabupaten Lombok Timur mencapai 99,75% dengan timbulan 583 ton per hari.

Ilustrasi Lombok. Foto: Rob Travel/Shutterstock

Selain itu, Kabupaten Sumbawa tercatat mempunyai sampah belum terkelola sebesar 99,97% dengan timbulan mencapai 290 ton per hari. Kabupaten Dompu dan Kabupaten Bima apalagi sama-sama berada pada nomor 99,99%. Sementara itu, Kota Mataram sebagai pusat perkotaan di Nusa Tenggara Barat juga tetap menghadapi persoalan serupa dengan persentase sampah belum terkelola sebesar 99,07%.

Melihat tingginya nomor tersebut, persoalan sampah di Nusa Tenggara Barat sebenarnya tidak lagi dapat dianggap sebagai persoalan biasa. Permasalahan ini tidak hanya dipengaruhi oleh tingginya jumlah sampah nan dihasilkan masyarakat, tetapi juga berangkaian dengan keterbatasan sarana dan prasarana pengelolaan sampah. Di beberapa area permukiman, akomodasi seperti tempat sampah, TPS, maupun jasa pengangkutan sampah tetap belum memadai. Kondisi inilah nan pada akhirnya memengaruhi perilaku masyarakat dalam mengelola sampah rumah tangga.

Masih banyak masyarakat nan membuang sampah sembarangan, mencampur seluruh jenis sampah dalam satu tempat, alias memilih membakar sampah lantaran minimnya akomodasi nan tersedia. Jika kondisi seperti ini terus berlangsung, persoalan sampah bakal semakin susah dikendalikan di masa mendatang.

Padahal, Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah telah menegaskan bahwa pengelolaan sampah kudu dilakukan secara terpadu dan berkepanjangan untuk menjaga kualitas lingkungan dan kesehatan masyarakat. Artinya, tanggung jawab pengelolaan sampah tidak hanya berada di tangan pemerintah wilayah saja. Dibutuhkan keterlibatan masyarakat, bumi usaha, dan beragam pihak lainnya agar pengelolaan sampah dapat melangkah lebih baik.

Karena itu, persoalan sampah semestinya tidak hanya diperhatikan ketika tumpukan sampah mulai terlihat di ruang publik. Kesadaran untuk mengurangi, memilah, dan mengelola sampah perlu mulai dibangun dari lingkungan rumah tangga dan kehidupan sehari-hari. Sebab, jika masyarakat terus terbiasa hidup di tengah persoalan sampah, akibat lingkungan nan lebih besar bakal semakin susah dihindari.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan