Renzy Firnendya Prilihandini tak pernah menyangka keluhan nan dia alami selama bertahun-tahun rupanya berujung pada tindakan operasi. Perempuan berumur 30 tahun nan tinggal bolak-balik antara Nganjuk dan Tangerang ini menggunakan IUD yang dipasang saat operasi caesar ERACS saat melahirkan anak pertamanya.
Selama tiga tahun, dia rutin kontrol dan hasilnya selalu menunjukkan posisi IUD baik. Namun, tubuhnya terus mengirimkan sinyal nan tak bisa lagi diabaikan.
Keluhan Tak Kunjung Hilang Meski Rutin Kontrol
Awalnya, Renzy mengira perdarahan dan nyeri menstruasi nan dialaminya tetap tergolong normal. Namun, keluhan itu justru semakin mengganggu aktivitas sehari-hari hingga membuatnya kudu dirawat di rumah sakit lantaran anemia.
"Sejak awal, menstruasi saya sangat banyak dan sering keram. Bahkan selalu ngeflek jika misalkan agak kecapekan, jalan jauh, alias apalagi berasosiasi badan,” ucap Renzy saat dihubungi kumparanMOM, Kamis (9/7).
Ia lantas berkonsultasi dengan beberapa master lain, hingga akhirnya memeriksakan diri ke Mayapada Hospital Tangerang. Meski hasil pap smear baik dan posisi IUD tetap dinyatakan normal, perdarahan tak kunjung berakhir meski sudah diberi obat.
Barulah ketika master mencoba melepas IUD, diketahui bahwa perangkat kontrasepsi tersebut susah dicabut.
"Saat mencoba lepas manual 2 kali, tapi gagal, saya agak cemas lantaran terakhir operasi SC sakit sekali sampai tidak bisa jalan," tutur ibu anak satu itu.
Dokter kemudian menjadwalkan tindakan histeroskopi. Saat operasi berlangsung, baru diketahui bahwa IUD terbenam di tembok rahim. Tim master juga menemukan polip endometrium nan sebelumnya tidak terlihat melalui pemeriksaan USG.
Ketakutan nan Tak Terbukti
Pengalaman operasi caesar sebelumnya membikin wanita 30 tahun itu sangat takut menjalani tindakan kembali. Ia membayangkan rasa sakit nan sama bakal kembali dirasakan setelah operasi.
Beruntung, tindakan histeroskopi melangkah lancar. Selain penjelasan master nan membuatnya lebih tenang, support suami dan family juga menjadi penyemangat terbesar selama menjalani proses pengobatan.
“Saat periksa USG Abdomen alias USG Transvaginal belum terdeteksi lantaran mungkin ukurannya nan tetap sangat mini alias tersembunyi,” ucapnya.
Di kembali proses pemulihannya, Renzy merasa beruntung mempunyai suami nan selalu sigap mendampinginya. Meski keluarganya berada di Jawa Timur, angan dan support terus mengalir hingga operasi selesai. Ia juga mengaku pelayanan tenaga medis nan diterimanya membikin rasa panik nan sempat muncul menjadi jauh berkurang.
"Luar biasa support suami. Beliau termasuk suami green flag nan tiap istrinya sakit alias melahirkan selalu siaga. Tanpa diminta, langsung tahu bertindak seperti apa,” ujarnya.
Jangan Abaikan Sinyal dari Tubuh
Kini, Renzy mau pengalamannya menjadi pengingat bagi wanita lain agar tidak menunda memeriksakan diri ketika mengalami keluhan, sekecil apa pun. Menurutnya, rasa takut mengetahui pemeriksaan justru bisa membikin kondisi kesehatan semakin memburuk jika dibiarkan.
"Kalau ada keluhan, sekecil apapun itu, wajib ke dokter. Karena banyak nan saya temui apalagi orang-orang nan saya kenal, mereka takut pergi ke master lantaran takut ketahuan sakit,” kata Renzy.
Baginya, master adalah orang nan paling tepat untuk membantu menemukan penyebab keluhan dan menentukan penanganan nan sesuai. Oleh lantaran itu, dia mengingatkan pentingnya tidak melakukan pemeriksaan maupun pengobatan sendiri, melainkan segera berkonsultasi dengan tenaga medis agar masalah kesehatan dapat ditangani sejak dini.
2 minggu yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·