
Legenda tinju dunia, Mike Tyson. (Foto: Instagram/miketyson)
KISAH mualaf Mike Tyson nan menemukan kedamaian usai mengenal Islam di kembali ruji-ruji besi menarik untuk dibahas. Siapa sangka, sang legenda tinju dunia tersebut memilih menjadi mualaf usai menemukan kedamaian saat menyelam lebih jauh soal kepercayaan Islam.
Nama Mike Tyson identik dengan keganasan di atas ring tinju. Dijuluki The Baddest Man on the Planet, laki-laki kelahiran Brooklyn 1966 ini mencapai puncak bumi pada usia 20 tahun sebagai juara bumi kelas berat termuda.
Namun, di kembali pukulan beton nan merobohkan lawan, Tyson menyimpan angin besar emosional nan nyaris menghancurkan hidupnya sendiri. Perjalanan transformasinya tidak dimulai di bawah lampu sorot arena tinju, melainkan di dalam sunyinya sel penjara.
1. Titik Balik di Penjara
Kehidupan Tyson mencapai titik terendah pada 1992 saat dia divonis enam tahun penjara. Di tengah kegelapan masa tahanan tersebut, dia justru menemukan sinar melalui kepercayaan Islam.
Terinspirasi oleh idolanya, Muhammad Ali, Tyson memutuskan untuk bersyahadat dan mengangkat nama Malik Abdul Aziz. Bagi Tyson, Islam bukan sekadar identitas baru, melainkan jangkar nan memberinya struktur hidup.
DJ Khaled dan Mike Tyson Umrah
Dalam memoarnya, Undisputed Truth, Mike Tyson menuliskan pengakuan nan mendalam.
"Saya sangat berterima kasih menjadi seorang Muslim. Allah tidak memerlukan saya, sayalah nan memerlukan Allah,” kata Mike Tyson dalam memoarnya, dikutip dari Religion unplugged, Kamis (26/2/2026).
Tyson menyadari selama ini dia hanya memuja dirinya sendiri. Melalui iman, dia belajar untuk tunduk pada sesuatu nan jauh lebih besar. Nama "Malik" nan berfaedah Raja dan "Abdul Aziz" nan berfaedah Hamba dari nan Maha Perkasa, menjadi pengingat bahwa di atas kekuatannya sebagai petinju, dia tetaplah seorang hamba.
5 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·