
Momen Luis Figo di laga Barcelona vs Real Madrid. (Foto: BBC)
PERTANDINGAN Barcelona vs Real Madrid selalu dikenal sebagai panggung penuh sarat rivalitas dan tensi tinggi di kancah sepak bola dunia. Namun, dari sekian banyak duel panas nan pernah tersaji, ada satu laga el clasico paling ikonik nan dikenang sebagai momen paling mencekam, apalagi membikin lag aitu menjadi seperti neraka untuk seorang bintang, ialah Luis Figo.
Momen kelam nan berhistoris tersebut terjadi pada 21 Oktober 2000 silam, ketika mantan bintang Barcelona, Luis Figo untuk pertama kalinya kembali menginjakkan kaki di Camp Nou sebagai pemain Madrid. Kisah kelabu kepulangan winger asal Portugal itu baru-baru ini kembali diulas secara eksklusif oleh Luis Enrique melalui program dokumenter berjudul El Camp Nou: bienvenidos al estadio.
Bagi Luis Enrique nan sekarang menjabat sebagai pembimbing Paris Saint-Germain (PSG), malam penyerbuan emosional tersebut tetap membekas sebagai atmosfer paling mencekam nan pernah dia saksikan sepanjang pekerjaan profesionalnya sebagai pemain sepak bola berbareng Blaugrana.
1. Atmosfer Mencekam
Kemarahan publik Catalan kala itu dipicu oleh kepindahan kontroversial Figo nan merupakan pemain kunci sekaligus figur kesayangan suporter Barcelona. Keputusan sang megabintang hijrah memperkuat musuh kekal mereka, Real Madrid, dinilai sebagai sebuah pengkhianatan besar.
"Figo adalah kerabat bagi kami, kerabat sungguhan. Dia adalah pemain terbaik kami, nan kemudian hengkang ke Madrid," ungkap Luis Enrique, dikutip dari Marca, Selasa (25/8/2026).
Luis Enrique. (Foto: UEFA)
Pelatih asal Spanyol itu menggambarkan gimana situasi di dalam stadion terasa jauh berbeda dari hari-hari pertandingan biasanya. Ketika skuad Barcelona memasuki lapangan untuk pemanasan jauh lebih awal dari agenda reguler, mereka sudah disambut oleh lautan manusia nan memenuhi seisi tribune.
"Camp Nou adalah stadion nan biasanya baru terisi setengahnya separuh jam sebelum laga. Tapi hari itu, 45 menit sebelum kick-off, stadion sudah penuh sesak. Saat pemanasan, kami apalagi tidak bisa saling mendengar bunyi satu sama lain," kenang Enrique.
35 menit yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·