Kerugian akibat kebakaran nan melanda area Desa Adat Sade, Kabupaten Lombok Tengah, NTB, pada Sabtu (22/8) malam diperkirakan mencapai Rp 34 miliar.
Angka tersebut diperoleh setelah dilakukan pendataan dan penghitungan berbareng Pemerintah Kabupaten Lombok Tengah, pemerintah desa, serta abdi negara kepolisian.
“Jadi total kerugiannya setelah kita hitung berbareng Pak Bupati, berbareng kepala dusun, kepala desa di sini, Pak Kapolres. Dengan data-data nan ada kita totalkan itu di Rp 34 miliar,” kata Staf Ahli Bupati Lombok Tengah Bidang Pemerintahan, Hukum dan Politik, Lalu Sungkul, Selasa (25/8).
Kebakaran tersebut tidak hanya menghanguskan rumah penduduk saja, tetapi juga sejumlah gedung dan akomodasi krusial bagi kehidupan masyarakat budaya Sade.
Sungkul menjelaskan, salah satu gedung krusial nan turut terbakar adalah Masjid Jami' Sade. Masjid tersebut selama ini menjadi pusat aktivitas keagamaan masyarakat setempat.
Selain sebagai tempat ibadah, masjid ini juga menjadi tempat untuk berinteraksi dan berkumpul di hari hari keagamaan, karena, kehidupan sosial masyarakat Sade selama ini selalu hidup berbareng dengan tradisi dan budaya Sasak.
Sementara dari sektor ekonomi, kebakaran juga menyumbang kerugian besar bagi masyarakat budaya Sade. Sebanyak 69 unit art shop alias toko seni nan selama ini menjadi sumber mata pencaharian penduduk nan menjual beragam kerajinan unik Lombok juga gosong terbakar.
Art shop ini, kata Sungkul, adalah satu satunya penggerak ekonomi. Karena tempat itu merupakan toko seluruh hasil tenunan dan pernak pernik tradisional nan dibuat langsung oleh penduduk dan diminati oleh ribuan visitor nan berkunjung.
Kerugian akibat hilangnya toko dan peralatan dagangan pun sangat berpengaruh terhadap pendapatan warga. Karena Sade selama ini dikenal sebagai salah satu lokasi wisata budaya utama di Lombok.
75 Rumah Adat Terbakar
Kerusakan paling besar dari sisi warisan budaya adalah musnahnya puluhan rumah budaya Sasak. Sebanyak 75 unit rumah budaya dilaporkan gosong terbakar. Di antara gedung tersebut terdapat bale beleq, ialah rumah berukuran besar nan mempunyai kegunaan krusial bagi penduduk budaya lantaran di dalam Bale Beleq terdapat sejumlah barang pusaka peninggalan leluhur masyarakat Sasak.
"Rumah budaya termasuk Bale Beleq, merupakan bagian dari identitas dan sejarah masyarakat Sade nan diwariskan dari generasi ke generasi," kata Sungkul.
Sungkul juga menyebut terdapat gedung lain nan ikut terbakar, ialah menara panggang alias nan dalam penyebutan lokal disebut Pelunggu.
“Ada juga menara panggang nan disebut Pelunggu, bahasa sini,” ujar Sungkul.
Hingga Selasa (25/8), penyebab pasti kebakaran nan melanda Desa Adat Sade tetap belum diketahui.
Belum ada konklusi resmi mengenai sumber api maupun aspek nan menyebabkan kebakaran dengan sigap meluas di area tersebut.
Di tengah masyarakat, muncul dugaan bahwa kebakaran dipicu oleh korsleting alias hubungan arus pendek listrik. Namun, dugaan tersebut tetap belum dapat dipastikan dan tetap menunggu hasil penyelidikan pihak berwenang.
Karena itu, penyebab kebakaran perlu dibedakan antara info nan berkembang di masyarakat dengan hasil penyelidikan resmi dari Laboratorium Forensik Polri.
43 menit yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·