Kisah Jumaria, Ikon Haji Indonesia: Air Mata Buruh Tani yang Tumpah di Pelataran Ka'bah

Sedang Trending 4 bulan yang lalu
 Air Mata Buruh Tani nan Tumpah di Pelataran Ka'bah Jumaria, ikon haji Indonesia asal Sulawesi Selatan.(Dok MCH 2026)

DARI sebuah rumah sederhana di pelosok Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, nama Jumaria sekarang menggema di Tanah Suci sebagai ikon inspiratif Haji 2026. Perempuan lansia sukses melintasi pemisah ketidakmungkinan,  menabung selama 20 tahun di dalam ember dari bayaran pekerja tani, hingga sekarang wajah keteguhannya menghiasi layar promosi haji internasional di Arab Saudi.

Jumaria justru menjadi wajah haji Indonesia di Saudi. Dia viral usai Otoritas Keimigrasian Kerajaan Arab Saudi mengunggah kisahnya untuk berhaji di kanal medsos @makkahroute.

“Saya senang bisa memandang Kabah,” ucapnya lirih kepada tim Media Center Haji di wilayah Jarwal, Mekah, tempat dia menginap. Air matanya kembali tumpah saat mengingat momen bagus itu.

Harapan nan dia gantungkan sejak puluhan tahun silam untuk menginjakkan kaki di Baitullah akhirnya terwujud. Perempuan nan ingatan usianya sudah samar, hanya mengingat di kisaran 70-an tahun, ini telah puluhan tahun hidup sebatang kara. Sehari-hari, dia menyambung hidup dengan mengurus sawah miliknya dan kebun milik tetangga.

Aktivitas Jumaria bergulir sejak fajar. Usai salat subuh, dia memberi makan ayam-ayam peliharaannya, membersihkan rumah, lampau menyantap sarapan dari hasil masakannya sendiri. Setelah itu, dia mulai beranjak ke kebun untuk merawat tanaman ubi milik tetangga demi bayaran nan tidak seberapa.

Langkah kakinya kemudian bersambung ke sawah nan terletak sekitar 50 meter dari rumah untuk menyiangi tanaman padi. Ritme kerja keras itu dia lakoni secara berdikari setiap hari.

“Saya tanam sendiri, rawat sendiri, panen sendiri. Dulu pakai perangkat itu (sabit), jika sekarang sudah dibantu mesin,” lanjutnya.

Meski tinggal sendiri, Jumaria sadar betul bahwa Sang Pencipta selalu menemani langkahnya. Hal itulah nan menebalkan tekadnya untuk berjamu ke rumah Tuhan dengan segala daya upaya nan dia miliki. Sejak dua dasawarsa lalu, tekad itu diwujudkan dengan mulai menyisihkan uang.

"Uang ku kumpulkan sedikit demi sedikit," ujarnya.

"Simpan (uang) di bawah ranjang, (ditaruh di ember)," lanjutnya.
 
Setelah tabungan di dalam ember tersebut menyentuh nomor Rp25 juta pada 2011, dia memantapkan diri mendaftar haji didampingi keponakanya. Keterbatasan lantaran tidak bisa baca-tulis dan tidak pernah mengenyam bangku sekolah bukan menjadi aral. Usai mendaftar, dia kian giat menabung untuk melunasi sisa biaya keberangkatan.

“Kalau dapat Rp110 ribu, saya simpan Rp50 ribu,” kata Jumaria sembari mengusap air mata dengan kerudungnya. 

Begitu namanya resmi diumumkan sebagai salah satu jemaah haji 2026, semangat Jumariyah kian berlipat. Ia konsisten mengikuti lebih dari 80 kali manasik haji berbareng Kelompok Bimbingan Ibadah Haji dan Umrah (KBIHU). Jarak letak manasik nan mencapai 15 kilometer dari rumahnya tidak pernah menjadi argumen untuk absen. Kedisiplinannya duduk di barisan terdepan saat mendengarkan penjelasan muthawwif membikin nyaris seluruh personil KBIHU mengenalnya.

Profil keteguhan Jumaria akhirnya sampai ke Kementerian Haji dan Umrah. “Pertimbangannya lantaran kesehariannya. Dia hidup sendiri, sebatang kara, kemudian jauh (terpencil), menginspirasi,” terang Ketua Kloter UPG 14, Sitti Hawaisyah.

Dua hari menjelang keberangkatan ke Asrama Haji, tepatnya 28 April lalu, tim pengarsipan bertandang ke kediaman sederhananya. Hanya butuh waktu empat jam untuk merekam rangkaian perjalanan hidup Jumariyah. Rekaman audiovisual singkat tersebut kemudian beralih bentuk menjadi movie dokumenter resmi nan digunakan sebagai bagian dari media promosi internasional oleh otoritas Arab Saudi untuk menyambut musim Haji 2026.

Tiga hari berselang, untuk kali pertama dalam hidupnya, Jumaria ,erasakan terbang dengan pesawat terbang menuju Madinah, kota tempat makam Nabi Muhammad SAW berada.

"Pertama saya degdegan, kenapa saya bisa naik (pesawat) toh, lama-lama biasa," ujarnya.

Di Madinah, stamina wanita lanjut usia ini justru kian membara. Ia kuat berdiam di Masjid Nabawi sejak berkumandangnya azan asar hingga tuntasnya ibadah salat isya berjemaah.

“Saya juga sudah ke Raudhah,” ucap juwariyah. Karena tidak mempunyai ponsel pintar, keberangkatan Jumariyah diselipkan di dalam rombongan jemaahnya saat bergerak berbareng menuju taman surga tersebut.

Ketangguhan bentuk itu kembali dia tunjukkan saat tiba di Mekah pada Sabtu (9/5). Jumariyah langsung menyelesaikan umrah wajib dan sunnah.  Sepanjang menjalani prosesi ibadah nan menguras bentuk tersebut, dia sama sekali tidak mengeluhkan sakit.

Kini, Jumaria tengah bersiap menyambut puncak ibadah haji, ialah wukuf di Arafah. Di hamparan padang pasir tersebut, dia bakal bersimpuh pasrah, membawa seluruh kerinduan dan doa-doa nan telah dia gaungkan dari dalam rumah kecilnya sejak puluhan tahun silam. (E-4)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia
↑