Jakarta - Di kembali rumah berdinding bambu nan rentan dan berbumbungkan seng, Grasiana Kune tinggal dengan empat anaknya di Kelurahan Kelimutu, Kabupaten Ende, Nusa Tenggara Timur (NTT). Rumahnya berdiri di atas tanah milik orang lain, minim ventilasi dan sanitasi nan jauh dari kata layak.
Namun, perihal paling menyakitkan bukanlah kemiskinan itu sendiri. Luka terdalam justru datang dari orang nan semestinya menjadi tempatnya berlindung.
Grasiana sempat mengalami kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) nan meninggalkan jejak luka tak mudah hilang. Sebagai seorang ibu, dia memilih tetap berdiri dengan tegar demi menghidupi empat anaknya nan tetap kecil.
Grasiana sebelumnya pernah membuka warung. Namun, upaya itu lenyap modal dan keuntungannya dia gunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari keluarga.
Ditengah perjuangannya itu, secercah angan nyata datang untuk Grasiana dan keluarganya. Melalui Program Asistensi Rehabilitasi Sosial (ATENSI), Kementerian Sosial (Kemensos) datang memberikan support kewirausahaan bagi Grasiana berupa support modal upaya warung.
Kini, di perspektif rumah tanpa jendela itu, Grasiana menjual makanan ringan, minuman, dan kebutuhan sehari-hari. Dari setiap peralatan nan terjual bukan hanya mendatangkan uang, tetapi menjadi bukti bahwa dia bisa melangkah dan bangkit dari luka nan pernah dirasakannya.
"Saya ucapkan terima kasih kepada Kementerian Sosial nan telah memberikan support usaha. Saya berambisi warung ini lancar untuk memenuhi kebutuhan family sehari-hari," ujarnya dalam keterangan tertulis, Selasa (2/6/2026).
Kisah pilu serupa juga dirasakan oleh Maria Fonsalia Mete, ibu dari enam anak. Ia pernah mengalami KDRT nan meninggalkan luka bentuk sekaligus luka jiwa tak kasat mata.
Di rumah sederhana milik orangtuanya, Maria membesarkan enam anak seorang diri. Di sela kerepotannya mengurus keluarga, dia menenun.
Benang demi benang nan Maria rajut, bukan hanya menjadi kain, tetapi menjadi harapan. Harapan agar anak-anaknya tetap bisa makan, bersekolah, dan masa depan mereka tidak mewarisi luka nan pernah dia rasakan. Setiap helai kain nan lahir dari perangkat tenunnya juga menjadi cerita ketabahan seorang ibu nan menolak menyerah.
"Kain biasa (pengerjaannya) dua hari, jika motifnya rumit bisa sebulan baru selesai (ditenun), terutama kain bagi wanita," jelas Maria.
Berbeda dengan Grasiana, Maria menerima support perlengkapan upaya tenun berupa benang dan peralatan nan dapat menunjang usahanya dari Kemensos. Ia pun berambisi agar upaya tenunnya bisa semakin berkembang setelah mendapatkan support ini.
"Terima kasih support modal dari Kemensos telah kami terima, harapannya terus jalan dan berkembang," ucapnya. (prf/ega)
3 minggu yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·