Kisah Guru Sekolah Rakyat di Probolinggo Mengajar di Tengah Keberagaman Siswa

Sedang Trending 2 jam yang lalu
Para siswa tingkat SMP saat outing class di Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT)7 Probolinggo, Jawa Timur, Kamis (16/4/2026). Foto: Jeni Ritanti/kumparan

Proses belajar mengajar di Sekolah Rakyat mempunyai tantangan tersendiri bagi para pengajarnya. Salah satunya seperti nan dirasakan di Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) 7 Probolinggo, Jawa Timur, di mana perbedaan keahlian dasar siswa menjadi salah satu perhatian dalam aktivitas belajar.

Kepala SRT 7 Probolinggo, Susilowati, mengungkapkan bahwa pada awal pembukaan sekolah, terdapat sejumlah siswa dengan kondisi keahlian dasar nan tetap terbatas.

“Pertama kali masuk ada beberapa anak spesial kami. Masuk SMP kelas satu tidak bisa baca tulis. Ada juga nan masuk SMA dengan usia 21 tahun tetap susah menangkap instruksi,” ujar Susilowati di Probolinggo, Kamis (16/4).

Menurutnya, kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi para pembimbing dalam menyampaikan materi pembelajaran di kelas. Untuk mengatasi perihal itu, pihak sekolah bekerja sama dengan Pusat Pembelajaran Keluarga (Puspaga) guna memberikan pendampingan khusus.

Susilowati, Kepala Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) 7 Probolinggo, Jawa Timur, Kamis (16/4/2026). Foto: Jeni Ritanti/kumparan

“Alhamdulillah dalam perjalanannya sekarang sudah bisa membaca, bisa menulis untuk nan SMP. Begitu juga nan SMA sudah mulai bisa menangkap perintah dan berbaur dengan kawan lainnya,” lanjutnya.

Tantangan bagi tenaga pengajar salah satunya dirasakan langsung oleh Damar Imro'atul Azzahrah, nan berkawan disapa Bu Dias. Ia adalah pembimbing Kimia di tingkat SMA.

Sebelum mengajar di SRT 7 Probolinggo, Dias adalah seorang pembimbing honorer di salah satu SMA Negeri di Yogyakarta. Hal itu membuatnya perlu beradaptasi dengan kondisi sekolah saat ini.

“Saya sebelumnya mengajar di kota. Sekarang di sini lebih ke pinggiran, jadi karakter anaknya berbeda-beda. Saya juga kudu beradaptasi,” ujarnya.

Dias menilai, perbedaan tingkat literasi dan pemahaman dalam satu kelas di SRT 7 membikin proses belajar tidak bisa dilakukan secara seragam.

“Kalau di sini sebenarnya lumayan menantang, lantaran keahlian anak-anak berbeda-beda. Ada nan sudah sampai tahap menghitung, tapi ada juga nan tetap di tahap memahami dasar,” kata Dias.

Para siswa saat praktik membikin game dalam pembelajaran koding dan kepintaran buatan di Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) 7 Probolinggo, Jawa Timur, Kamis (16/4/2026). Foto: Jeni Ritanti/kumparan

Ia mengaku kudu menyesuaikan langkah mengajar agar seluruh siswa tetap bisa mengikuti pelajaran sesuai keahlian masing-masing.

“Kalau nan lain sudah sampai tahap menghitung, nan inklusi saya kasih sebatas pengertian dan contoh-contohnya,” ujarnya.

Menurut Dias, kondisi ini membikin dirinya kudu membagi konsentrasi untuk memastikan siswa dengan keahlian dasar terbatas tetap memahami materi.

"Jadi tidak bisa untuk saya ngajar ini, saya ngajar ke kawan nan lain tuh nggak bisa,”

Ia juga menyoroti pentingnya kehadiran pembimbing pendamping unik dalam proses belajar mengajar, terutama bagi siswa berkebutuhan khusus.

“Menurut saya kudu ada pembimbing pendamping, lantaran anak inklusi itu memang kudu didampingi secara face to face. Jadi tidak bisa sembari saya mengajar ke nan lain,” katanya.

Selain tantangan di dalam kelas, keterbatasan sarana praktik juga turut menjadi kendala. Sebagai pembimbing kimia, Dias menyebut belum tersedianya laboratorium membikin aktivitas praktikum kudu disiasati dengan bahan sederhana.

Para siswa saat melakukan pembelajaran koding dan kepintaran buatan di Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT)7 Probolinggo, Jawa Timur, Kamis (16/4/2026). Foto: Jeni Ritanti/kumparan

“Kalau sarana prasarana seperti lab itu belum ada. Jadi praktikumnya tetap pakai bahan-bahan sederhana, seperti cuka dapur, nan kondusif tapi tetap bisa dipahami anak-anak,” jelasnya.

Meski demikian, dia menilai akomodasi pendukung lain seperti smartboard, laptop, dan kitab sudah cukup membantu proses pembelajaran. Kemudahan itu bagi Dias, dinilai membuka akses literasi nan lebih luas bagi siswa.

“Dengan laptop, anak-anak bisa browsing, jadi bahan literasi tidak hanya dari buku. Mereka bisa mencari dari sumber lain, walaupun memang baru beberapa nan sampai ke situ,” tambahnya.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan