Kisah Elang dan Aulia Menyusun Mimpi dari Sekolah Rakyat Probolinggo

Sedang Trending 2 hari yang lalu
Sri Aminah (64) dan cucunya, Elang Khoirul Ramadhan (13), salah satu siswa Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) 7 Probolinggo, Jawa Timur, Kamis (16/4/2026). Foto: Jeni Ritanti/kumparan

Deru kipas angin berputar pelan di perspektif kelas, menemani suasana siang di Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) 7 Probolinggo, Jawa Timur. Di depan layar laptop masing-masing, belasan siswa tampak konsentrasi mengikuti jalannya pembelajaran.

Jemari mereka bergerak lincah mengarahkan kursor, sesekali menekan keyboard dengan cepat. Di layar, barisan kode dan tampilan sederhana gim perlahan terbentuk. Siang itu pelajaran coding tengah berlangsung.

Di depan kelas, pembimbing memberi pengarahan dengan nada tenang. Suasana terasa hening namun tetap hangat. Mata para siswa tertuju pada layar masing-masing, sesekali terpancar raut puas saat program nan mereka susun perlahan mulai berjalan.

Usai pembelajaran, seorang siswa tampak tersenyum ramah saat ditemui. Ia memperkenalkan dirinya dengan tenang.

“Perkenalkan nama saya Elang Khoirul Ramadan. Saya berumur 13 tahun dan saya sekarang menduduki bangku kelas 7 SMP, berguru di Sekolah Rakyat Terintegrasi 7 Probolinggo,” kata Elang saat ditemui usai jam pelajaran, Kamis (16/4).

Elang bukan datang dari latar belakang nan mudah. Ia merupakan anak ketiga dari empat bersaudara. Di rumah sederhana, Elang tumbuh berbareng neneknya.

Setelah kehilangan ibunya saat duduk di bangku kelas 1 SD, sang ayah tidak tinggal berbareng mereka dan sekarang berada di Solo.

Sejak itu, neneknya menjadi sosok nan merawat sekaligus menghidupi cucu-cucunya.

“Pekerjaan orang tua (nenek) saya sebagai penjual gorengan dan kopi,” katanya.

Rumah Elang tidak jauh dari sekolah, hanya sekitar satu kilometer. Sebelum tinggal di asrama, dia terbiasa membantu neneknya di rumah, baik untuk pekerjaan mini sehari-hari maupun sesekali ikut membantu berdagang gorengan dan kopi nan menjadi sumber penghidupan keluarga.

“Sebenarnya saya dulu nggak tahu apa-apa, tapi waktu itu sempat pendamping PKH saya datang ke rumah nawarin itu berguru di Sekolah Rakyat. Habis itu nenek bilang jika ditawarin untuk sekolah di Sekolah Rakyat," ujarnya.

"Terus keesokan harinya pendamping PKH-nya datang lagi mengonfirmasi saya mau alias nggak sekolah di Sekolah Rakyat. Saya sebenarnya awalnya nggak mau, tapi semenjak masuk di sini mau,” lanjutnya.

Para siswa saat praktik membikin game dalam pembelajaran koding dan kepintaran buatan di Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) 7 Probolinggo, Jawa Timur, Kamis (16/4/2026). Foto: Jeni Ritanti/kumparan

Kini, kehidupan Elang berubah jauh. Hari-harinya diisi dengan rutinitas nan lebih terstruktur dan disiplin.

“Kalau biasanya dulu di SD pulang sekolah langsung rehat di rumah, mungkin kebanyakan main HP, bermain sama teman, tapi jika di sini lebih disiplin. Soalnya kegiatannya ada pulang sekolah itu salat Asar, mengaji, lenyap itu bersih diri sore alias mandi sore, lanjut salat Magrib, lenyap itu kajian. Habis kajian sampai salat Isya, salat Isya berjemaah, lenyap itu makan. Habis makan, maaf-maaf, belajar malam. Setelah belajar, kita melaksanakan apel malam," terangnya.

Di tengah rutinitas itu, Elang justru menemukan ruang untuk berkembang. Ia sukses menorehkan prestasi di bagian akademik.

“Untuk sementara ini prestasi saya di Olimpiade IPA juara 1 se-kota dan kabupaten,” ujarnya.

Prestasi itu bukan datang tiba-tiba. Bahkan sejak SD, dia sudah menunjukkan minat di bagian sains.

“Oh, Olimpiade. Saya terakhir itu masuk 10 besar di perlombaan SD sekota sama kabupaten. Gugur di 10 besar itu. Tapi alhamdulillah sekarang bisa mendapatkan juara,” kata Elang.

Ia bercerita gimana perjuangannya mengikuti lomba tersebut.

“Habis itu dikasih waktu seminggu, rupanya ada lanjutannya langsung ke final. Waktu final itu pengerjaannya saya cukup pusing lantaran soalnya cukup susah. Dan setelah lomba sempat nangis lantaran poinnya saya kirain sangat rendah, tapi rupanya alhamdulillah bisa mendapatkan juara,” tuturnya.

"360," ungkapnya dengan bangga saat menyebut jumlah poin nan didapat dalam lomba tersebut.

Di tengah cerita itu, sosok nan selama ini menjadi sandaran hidupnya datang menghampiri, Neneknya, Sri Aminah Ningsih (64). Wajahnya tampak haru saat memandang cucunya.

Air matanya tak terbendung saat menceritakan kebanggaannya.

“Terharu lantaran dia juara satu IPA itu, Nak. Saya nggak ngira jika cucu saya sehebat ini, Nak," katanya sembari berlinang air mata.

Para siswa tingkat SMP saat outing class di Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT)7 Probolinggo, Jawa Timur, Kamis (16/4/2026). Foto: Jeni Ritanti/kumparan

Sehari-hari, sang nenek berjuang sendiri menghidupi family dari hasil berdagang gorengan dan minuman seperti kopi alias teh. Penghasilannya tak menentu.

“Nggak tentu, Nak. Kadang ramai, kadang tidak. Perkiraan Rp 100.000 ke atas ya, Rp 100.000-an untuk per harinya itu," ungkapnya.

Namun di tengah keterbatasan itu, dia tetap memegang satu prinsip sederhana, “Biarpun makan sama garam, makan sama garam, nan krusial Anda kumpul sama Mbah, Nak”.

Kini, harapannya sederhana, memandang cucunya berhasil, “Semoga Elang sukses, adik-adiknya sukses, kakaknya juga sukses. Itu aja".

Elang pun menyimpan mimpi besar. Ia mau menjadi tentara.

"Karena mau mengangkat derajat orang tua serta mau memihak negara," imbuhnya.

Tak jauh dari Elang, kisah serupa juga datang dari sosok Riski Aulia. Siswa kelas tujuh itu bercerita dengan nada ringan, namun penuh yakin. Ia berasal dari family sederhana.

Para siswa saat melakukan pembelajaran koding dan kepintaran buatan di Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT)7 Probolinggo, Jawa Timur, Kamis (16/4/2026). Foto: Jeni Ritanti/kumparan

“Keluarga saya itu, jika ibu kerja laundry. Kalau ayah itu serabutan.”

Awalnya, Aulia apalagi sudah diterima di sekolah lain sebelum akhirnya memilih Sekolah Rakyat.

“Jadi awalnya tuh saya enggak tahu Sekolah Rakyat itu apa. Jadi saya sudah diterima di SMP lain, SMPN 7 Probolinggo. Terus pas nyaris masuk SMP tiba-tiba tuh ada pendamping PKH nan namanya Bu Novi itu datang ke rumah buat nawarin saya sekolah di Sekolah Rakyat,” katanya.

Keputusan itu tidak mudah, apalagi sempat ditolak oleh ayahnya.

“Pertamanya ayah tuh enggak bolehin saya buat sekolah di Sekolah Rakyat, soalnya kan jauh dari orang tua,” ungkapnya.

Namun Aulia punya pertimbangannya sendiri.

“Terus saya juga mikir jika misalkan saya enggak sekolah di Sekolah Rakyat, takutnya ekonomi di keluarganya saya tuh kan kayak kurang gitu. Jadinya saya buat keputusan buat sekolah di Sekolah Rakyat," jelasnya.

Di sekolah ini, dia menemukan pengalaman belajar nan berbeda.

“Yang saya rasakan sekarang tuh senang sih waktu belajar di Sekolah Rakyat. Soalnya kan akomodasi di sini juga lengkap. Terus gurunya, wali asuhnya, wali pondok itu juga baik-baik, ceria gitu, juga bisa ngajarin saya belajar,” kata Aulia.

Para siswa saat agenda shalat berjamaah di Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT)7 Probolinggo, Jawa Timur, Kamis (16/4/2026). Foto: Jeni Ritanti/kumparan

“Aku enjoy aja, soalnya kan patokan di sana kan juga bisa jadiin kedisiplinan," ujarnya.

Di kembali itu, Aulia menyimpan mimpi nan berbeda, menjadi seniman dan belajar hingga ke luar negeri.

“Aku tertarik sama Bahasa Jepang itu pengin kuliah di luar negeri. Aku belajar lewat aplikasi bahasa,” ucapnya.

Bahkan dia berkesempatan untuk membacakan pidato berkata Jepang di depan Presiden Prabowo beberapa waktu sebelumnya.

Baginya, Sekolah Rakyat bukan hanya tempat belajar, tapi juga ruang membuka peluang.

“Perasaan saya sekolah di sini tuh seneng banget. Soalnya dapet akomodasi nan komplit tanpa ngeluarin biaya sepeser pun. Makan tiga kali sehari, dapet kawan banyak, sekolah berasrama,” tuturnya.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan