Presiden Iran Masoud Pezeshkian menegaskan Amerika Serikat (AS) tidak punya kewenangan mencabut akses negaranya terhadap program nuklir di tengah negosiasi nan tetap buntu.
Pernyataan ini dilaporkan pertama kali oleh media Iran ISNA, saat ketegangan Iran-AS kembali meningkat, terutama mengenai tuntutan Washington soal pembatasan program nuklir Teheran.
Pezeshkian mempertanyakan langsung sikap Presiden AS Donald Trump nan dinilai tidak berdasar.
"Trump mengatakan Iran tidak boleh menggunakan kewenangan nuklirnya, tapi tidak menjelaskan atas kejahatan apa. Siapa dia sampai bisa mencabut kewenangan suatu bangsa?" ujar Pezeshkian, dikutip dari Reuters.
Ia menegaskan program nuklir Iran merupakan kewenangan nan sah dan tidak bisa diintervensi pihak luar.
Pernyataan ini sekaligus menegaskan posisi Teheran nan menolak tekanan AS dalam perundingan nan tetap berlangsung.
Di sisi lain, ahli bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, memastikan Iran tidak bakal menyerahkan persediaan uranium nan dimilikinya.
"Saya mau menegaskan bahwa uranium nan diperkaya milik Iran tidak bakal dipindahkan ke mana pun," kata Baghaei dalam wawancara nan dibagikan televisi pemerintah Iran pada Sabtu (18/4).
Ia juga menyebut klaim soal pertukaran uranium dengan hadiah tertentu tidak bisa diverifikasi.
"Terkait klaim nan disampaikan (oleh Trump), tidak ada satu pun nan dapat diverifikasi," lanjutnya.
Diberitakan sebelumnya, Trump menyatakan Iran telah menyetujui beragam tuntutan Washington, termasuk soal nuklir. Menurutnya, Iran bakal memberikan semua "debu nuklir" untuk AS tanpa biaya.
Situasi ini juga berangkaian dengan kebijakan blokade laut AS terhadap Iran nan memicu Selat Hormuz kembali ditutup, kurang dari 24 jam setelah Iran membuka jalur vital itu.
Iran apalagi memperingatkan bakal mengambil langkah lanjutan terhadap lampau lintas kapal di area tersebut jika tekanan terus berlanjut.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·