Ilustrasi(Dok Istimewa)
DI tengah derasnya arus konten digital nan silih berganti setiap hari, dua mahasiswa Indonesia memilih medium nan berbeda untuk menyuarakan keresahan generasinya: movie pendek.
Lewat karya berjudul Mania Dunia Nia, Januar David Ciu dan Yosafat Prasetya mengangkat rumor kesehatan mental mahasiswa dan tekanan sosial nan semakin dekat dengan kehidupan anak muda saat ini. Tak disangka, movie tersebut membawa mereka meraih Juara 1 Inspiring Asia Microfilm Festival #InspiringIndonesia 2025 dan mewakili Indonesia di babak final Inspiring Asia Micro Film Festival di Singapura.
Bersaing dengan sineas muda dari beragam negara Asia, keduanya justru menemukan bahwa kekuatan cerita Indonesia terletak pada hal-hal nan sederhana, dekat, dan jujur.
“Aku pernah dengar cerita dari temanku nan mau konseling dengan psikolog kampus, tapi jadwalnya penuh sampai satu alias dua bulan. Dari situ saya sadar, rupanya banyak orang sedang menghadapi persoalan psikologis, hanya saja sering tidak terlihat,” ujar Januar dilansir dari keterangan resmi, Selasa (9/6).
Pengalaman sehari-hari itulah nan kemudian menjadi fondasi cerita Mania Dunia Nia. Alih-alih mengejar cerita nan spektakuler, mereka memilih mengangkat realitas nan diam-diam hidup di sekitar mahasiswa: rasa lelah, tekanan sosial, dan kesenyapan di tengah bumi digital nan serba cepat.
Bagi Yosafat, kejujuran dalam bercerita justru menjadi kekuatan utama sebuah karya. “Tidak perlu memaksakan tema nan jauh dari diri kita. Cari rumor nan dekat dan spesifik, lampau temukan langkah visual nan unik untuk menyampaikannya,” katanya.
Januar dan Yosafat bukan berasal dari sekolah film. Yosafat merupakan mahasiswa magister Fakultas Kehutanan. Baginya, rumor lingkungan dan kesehatan mental mempunyai keterkaitan nan cukup dekat.
“Aku sempat belajar bahwa rimba juga bisa memberi rasa tenang bagi orang-orang nan mengalami stres alias depresi. Jadi sebenarnya ada hubungan antara alam dan kesehatan mental,” ujarnya.
Sementara itu, Januar adalah mahasiswa Teknik Industri Universitas Indonesia nan menjalani keseharian penuh praktikum dan tekanan akademik. Di tengah rutinitas tersebut, membikin movie justru menjadi ruang refleksi sekaligus langkah menjaga keseimbangan hidup.
Di kembali keberhasilan Mania Dunia Nia, keduanya percaya bahwa kekuatan tim memegang peranan besar. Sebagai penerima danasiwa Tanoto Foundation melalui program TELADAN, Januar mengaku mendapatkan banyak pembelajaran mengenai kepemimpinan diri, manajemen waktu, hingga pengelolaan tim. Pengalaman tersebut dia terapkan langsung dalam mengelola produksi movie dengan keterbatasan waktu dan sumber daya.
“Yang paling terasa adalah gimana mengelola orang dengan tujuan nan sama. Produksi movie rupanya bukan hanya soal kreativitas, tapi juga soal kepemimpinan dan komunikasi,” ujarnya.
Kini, keduanya berambisi semakin banyak anak muda Indonesia berani menyampaikan perspektifnya melalui karya kreatif. Sebab, di tengah bumi nan semakin bising, cerita nan jujur sering kali justru menjadi bunyi nan paling kuat.
Keberhasilan Mania Dunia Nia menunjukkan bahwa cerita lokal Indonesia mempunyai resonansi universal. Di tengah kejuaraan internasional dengan support produksi nan jauh lebih besar, movie mereka tetap bisa mencuri perhatian lantaran menawarkan sesuatu nan autentik: pengalaman manusia nan nyata.
“Kadang kita merasa cerita kita terlalu kecil. Padahal justru cerita nan paling dekat dengan kehidupan sehari-hari sering paling mudah dipahami orang lain,” ujar Yosafat.
Semangat itulah nan juga diangkat dalam Inspiring Asia Micro Film Festival 2026 #InspiringIndonesia, sebuah pagelaran movie pendek bertema Community Empowerment: Belonging, Resilience, Thriving.
Festival ini mendorong sineas muda, pelajar, komunitas, organisasi sosial, hingga pembuat independen untuk mengangkat kisah-kisah perubahan dari organisasi mereka masing-masing.
Tidak hanya menjadi arena kejuaraan film, pagelaran ini juga dirancang sebagai aktivitas kolaboratif nan mempertemukan seni, tindakan sosial, dan partisipasi publik. Melalui sistem community vetting, masyarakat turut dilibatkan untuk mendukung karya-karya nan dianggap paling relevan dan berdampak.
Bagi Januar dan Yosafat, pagelaran seperti ini krusial lantaran memberi ruang bagi perspektif anak muda nan sering kali tidak terdengar.
Tahun ini, Inspiring Asia Micro Film Festival 2026 #InspiringIndonesia membuka tiga kategori utama, ialah Best Micro Film Award, Best Project Award, dan Best AI Film Award.
Kategori AI diperkenalkan untuk membuka akses nan lebih luas bagi pembuat muda agar dapat berkarya tanpa kudu terkendala biaya produksi nan besar.
Menariknya, pagelaran ini tidak hanya terbuka bagi filmmaker profesional. Pelajar, komunitas, organisasi sosial, social enterprise, hingga perseorangan imajinatif juga dapat berperan-serta selama mempunyai cerita tentang pemberdayaan organisasi nan mau disampaikan melalui movie pendek.
“Jangan takut mencoba. Maksimalkan sumber daya nan ada dan cari organisasi untuk berkolaborasi. Kadang nan paling krusial bukan seberapa besar produksinya, tapi seberapa jujur cerita nan mau disampaikan,” kata Januar.
Inspiring Asia Micro Film Festival 2026 #InspiringIndonesia merupakan bagian dari rangkaian pagelaran movie tingkat Asia nan menghadirkan ruang bagi cerita-cerita perubahan dari beragam komunitas.
Festival ini didukung oleh beragam organisasi dan mitra strategis lintas negara di Indonesia dan Asia, seperti Bakti Pendidikan Djarum Foundation, Tanoto Foundation, dan Campaign for Good.
Berbeda dengan pagelaran movie konvensional, #InspiringIndonesia tidak hanya berfokus pada kualitas sinematik, tetapi juga pada keterlibatan publik dan akibat sosial nan dihasilkan. Salah satu sistem nan diangkat adalah community vetting, di mana masyarakat dapat ikut memberikan support terhadap karya-karya nan dianggap paling relevan dan berdampak.
Total bingkisan nan diperebutkan mencapai Rp325 juta untuk tingkat nasional. Para finalis dari Indonesia nantinya bakal melaju ke tingkat regional dan berkompetisi dengan peserta dari beragam negara Asia pada Grand Final di Manila, Filipina. (H-2)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·